Rasionalisasi Kisah Ken Arok

 

“Mungkin kau lupa. Jatuhkan Tunggul Ametung seakan tidak karena tanganmu. Tangan orang lain harus melakukannya. Dan orang itu harus dihukum di depan umum berdasarkan bukti tak terbantahkan. Kau mengambil jarak secukupnya dari peristiwa itu.” ~ Pramoedya Ananta Toer, Arok Dedes

 

Sebagian besar dari kita pasti akan mengaitkan kisah Ken Arok dengan kutukan keris Empu Gandring, yang tentunya berbau mistis. Senjata itulah yang konon katanya digunakan Ken Arok untuk melakukan coup d’état terhadap Tunggul Ametung dan alat untuk mengkambing-hitamkan Kebo Ijo. Tragisnya justru keris itulah yang kemudian digunakan sebagai alat untuk membunuh Ken Arok.

Dongeng keris yang sering kita dengar itu justru tidak akan pernah kita temui di buku ini. Pram benar-benar membabat habis mistik kutukan keris Empu Gandring. Kisah kudeta yang memang selalu menjadi roh kisah Ken Arok, dijauhkan oleh Pram dari hal-hal mistik. Semuanya dirasionalisasi Pram sehingga buku ini menjadi sebuah roman politik yang cerdas dan elegan.

Sebelum membahas hal itu lebih jauh, saya cuplikkan dulu sejarah dan tujuan dituliskannya buku ini. Buku ini adalah quarter pertama dari tetralogi yang ternyata adalah Tetralogi Buru juga. Jadi sebenarnya Tetralogi Buru ini ada dua macam, yaitu Tetralogi Bumi Manusia dan Tetralogi Arok Dedes. Jika Tetralogi Bumi Manusia mengambil topik dan setting awal pergerakan kemerdekaan Indonesia, maka Tetralogi Arok Dedes mengambil topik dan setting jatuh bangunnya kerajaan-kerajaan Jawa. Karena Ken Arok adalah moyang dari Raden Wijaya yang nantinya menurunkan raja-raja besar Jawa, maka tidak salah jika Pram berangkat dari kisah Ken Arok dan Ken Dedes dalam penyusunan Tetralogi Arok Dedes.

Rasionalisasi kisah Ken Arok sendiri langsung terasa di awal-awal buku ini. Di sini tokoh Ken Arok benar-benar digambarkan Pram sebagai manusia biasa seutuhnya. Jauh sekali dengan yang sering didengung-dengungkan bahwa Ken Arok adalah keturunan/titisan dewa. Pram di dalam buku ini dengan detail menjabarkan lika-liku kehidupan Ken Arok yang hanya seseorang dari kasta sudra hingga menjadi seorang kesatria sekaligus brahmana. Dan sosok Ken Arok yang mungkin kita kenal sebagai sosok berandalan, pencuri, penjudi, dan tukang bikin onar benar-benar dijungkir-balikkan Pram dalam buku ini. Di sini sosok Ken Arok digambarkan Pram mirip-mirip dengan sosok Robin Hood. Ken Arok masih digambarkan sebagai sosok berandal dan pencuri oleh Pram, tapi Ken Arok adalah berandal bagi tirani dan mencuri dari tirani untuk dibagi-bagikan ke rakyat miskin. Ringkasnya, Ken Arok adalah seorang sudra yang berperangai kesatria dan berhati brahmana.

Sosok Ken Arok yang pemberontak itu malah memudahkan Pram untuk membangun plot coup d’état yang menjadi roh buku ini. Dan dengan sabar serta teliti pula, Pram menjabarkan seluruh alasan yang melatar-belakangi kudeta yang nantinya dilakukan Ken Arok. Dengan detail Pram menjabarkan bagaimana Tunggul Ametung dan Raja Kediri saat itu, Kertajaya, menghidupkan kembali praktik perbudakan yang menyengsarakan rakyat. Padahal praktik ini telah dihapus oleh Raja Airlangga dua abad sebelumnya. Dijabarkannya pula detail konflik antarkasta antara kesatria (para penguasa) dan brahmana yang juga menjadi salah satu faktor utama untuk memuluskan kudeta. Benang merahnya adalah: ketidakpuasan terhadap penguasa!

Dan yang mengagumkan lagi adalah bagaimana detail penggalangan kekuatan politik untuk melawan penguasa. Semuanya seakan tidak ada yang terlewat oleh Pram. Mulai dari pemersatuan para budak dan rakyat (kaum sudra), manuver para brahmana yang merupakan otak gerakan kudeta, hingga eksekusi yang dilakukan oleh Ken Arok. Apalagi semua itu dilakukan secara halus dan tidak terbuka. Intrik politik dalam buku ini benar-benar terasa kental. Semua dijalin dengan rapi dan teliti oleh Pram, tidak ada tokoh yang tidak memiliki peran dalam buku ini. Pram benar-benar menunjukkan perfeksionismenya dalam buku ini. Dan bagi saya, membaca buku ini juga terasa seperti mengamati permainan catur: di mana biasanya pion sering dikorbankan, tapi pion juga bisa saja merangsek untuk menggulingkan raja; patih dan menteri pun bisa jadi senjata ampuh untuk menggulingkan raja, tapi tak jarang pula dikorbankan demi memuluskan strategi.

Selain membuat kita melupakan mistik kutukan keris Empu Gandring, Pram juga secara apik memberikan sudut pandang lain tentang hubungan Ken Arok dan Ken Dedes. Selama ini saya mengira Ken Dedes mau menikahi Ken Arok karena dipaksa Ken Arok. Di buku ini justru Ken Arok tidak senafsu itu. Oleh Pram, Ken Arok digambarkan lebih mencintai istrinya, yaitu Umang (yang nantinya menjadi Ken Umang) yang sekaligus merupakan saudari pungutnya. Ken Arok sendiri lebih tampak berperan untuk menyelamatkan Ken Dedes dari cengkeraman Tunggul Ametung yang dinikahi Sang Akuwu Tumapel dengan cara menculiknya. Selain itu Ken Dedes merupakan putri Mpu Parwa, seorang brahmana penganut Syiwa yang tidak suka dengan para penguasa yang merupakan penganut Wisnu. Penculikan Ken Dedes ini sendiri menjadi salah satu pemicu kemarahan kaum brahmana terhadap Tunggul Ametung sehingga konflik antara brahmana dan kesatria semakin meruncing⎯yang pada akhirnya juga menjadi pemicu kudeta. Pram sendiri tidak mengeliminasi “keterpaksaan” Ken Dedes menikahi Ken Arok, hanya memolesnya sehingga menjadi lebih halus.

Seperti beberapa romannya yang lain, Pram lebih cenderung menyulut konflik pada cerita melalui dialog/interaksi antarkarakter. Juga mayoritas arah plot dan alur cerita buku ini dibentuk dari hal tersebut. Tak heran jika porsi dialog/interaksi antarkarakter lebih banyak daripada narasi atau deskripsi. Bagi saya pribadi, hal ini lebih menyenangkan untuk dibaca dan lebih mudah dipahami. Apalagi gaya bahasa penulisan Pram bukanlah gaya bahasa modern.

Dan seperti karya-karyanya yang lain, Pram juga memberikan pesan yang sangat khas dengan pandangan sosialismenya, yaitu persamaan derajat di antara manusia. Secara eksplisit Pram menentang praktik perbudakan yang dilakukan penguasa Kediri dan Tumapel di masa itu. Selain itu Pram juga menentang praktik diskriminasi penguasa Kediri terhadap para brahmana Syiwa hanya karena beda aliran kepercayaan saja. Lewat buku ini, Pram seolah menyampaikan bahwa kesewenang-wenangan penguasa seperti itu patut ditumpas, dan salah satu jalannya adalah lewat kudeta. Tak heran jika buku ini baru terbit pertama kali setelah Orde Baru tumbang, yaitu pada tahun 1999. Padahal naskah buku ini selesai jauh sebelum itu, yaitu tahun 1976.

Arok Dedes adalah warisan sastra Indonesia yang harus dibaca oleh kita sebagai anak bangsa Indonesia. Tak hanya karena berkisah tentang sejarah anak bangsa kita sendiri, tapi juga karena Pram mampu merasionalkan mitos sejarah tersebut dan mengabadikannya dalam karya ini. Semangat dan pemikiran yang ingin disampaikan Pram juga patut kita puji dalam karya ini. Meski dalam kondisi sebagai tahanan, karya yang luar biasa ini masih bisa lahir dari tangannya. Sayang sekali sekuel buku ini, Mata Pusaran, tidak dapat kita nikmati karena sempat lenyap dan akhirnya ditemukan dalam kondisi parah dan tidak utuh. Hanya Arus Balik dan Mangir yang mampu bertahan.

Lewat buku ini, kita seakan diingatkan untuk selalu belajar dari dan mempelajari sejarah bangsa. Lewat buku ini pula, kita seakan diingatkan bahwa Indonesia memiliki warisan karya sastra yang gagasannya tidak kalah dengan gagasan-gagasan dalam karya sastra dunia. Dan lewat buku ini, kita seakan diingatkan bahwa Indonesia sudah memiliki aktivis kemanusiaan jauh di belakang zaman modern ini, yaitu Pram yang senantiasa vokal bersuara lewat karya-karyanya.

 

“Yang jadi ukuran baik tidaknya seseorang bukan bagaimana menyembah para dewa, tapi dharma pada sesamanya.” ~ Pramoedya Ananta Toer, Arok Dedes

 
Arok Dedes
oleh Pramoedya Ananta Toer
Lentera Dipantara; Cetakan IX, Juli 2009
Softcover; xiv + 562 halaman; 13 x 20 cm
ISBN: 978-979-3820-14-9
My Rating: 5/5

Tags: ,

One response to “Rasionalisasi Kisah Ken Arok”

  1. nannia says :

    Blog Walking..
    Aku juga suka buku ini..membaca kisah legendaris dari kacamata yang berbeda :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 908 other followers

%d bloggers like this: