Pelajaran Hidup dari Seorang Pelacur

Maria adalah seorang gadis muda dan lugu dari pedalaman Brazil. Sejak kecil dia mendambakan suatu saat nanti dia akan menemukan cinta sejatinya. Namun, hal itu tidak kunjung didapatkannya ketika dia mulai beranjak dewasa. Nasibnya seakan-akan berubah ketika di Rio de Janeiro dia mendapatkan tawaran untuk menjadi seorang aktris di Swiss. Bayangan menjadi seorang aktris terkenal, kaya, dan siapa tahu di Swiss nanti akan menemukan cinta sejati membuat Maria menerima tawaran tersebut. Tapi, hal tersebut hanya janji manis belaka. Kenyataannya Maria harus menjadi pelacur untuk bertahan hidup di lingkungan yang sama sekali asing baginya. Impiannya untuk menemukan cinta sejati seketika punah saat menjalani profesi tersebut. Namun, segalanya berubah ketika dia bertemu Ralf, seorang pelukis yang ditemuinya di sebuah bar. Pelan-pelan pria itu masuk ke kehidupannya dan mengubah pandangannya: Apakah benar di dalam dirinya masih ada cahaya? Haruskah dia berhenti menjalani profesi sebagai pelacur? Apakah cinta sejati memang benar-benar ada? Dan apakah seks bisa menjadi sesuatu yang sakral?

***  

Eleven Minutes—Sebelas Menit. Sebuah judul buku yang mengundang tanda tanya dari penulis sekelas Paulo Coelho. Apalagi jika dikaitkan dengan sinopsis yang ada di kover belakang buku yang menyatakan buku ini secara garis besar bercerita tentang kisah perjalanan hidup seorang pelacur. Tanda tanya itu membuat saya nekad untuk membeli dan membaca buku ini meski pengalaman saya sebelumnya dalam membaca karya Paulo Coelho—yaitu The Alchemist—tidak terlalu menyenangkan. Meski dibayang-bayangi keraguan oleh isi buku ini—seperti bahasa yang berat, alur cerita dan pesan-pesan filosofis tersirat yang sulit dipahami—rasa penasaran saya untuk mencari kaitan antara judul dan jalan cerita buku ini mengalahkan keraguan saya tersebut. Dan jadilah saya untuk membeli buku ini.

Tak hanya itu. Penampilan buku ini juga “meracuni” saya karena buku ini memiliki penampilan novel yang sangat ideal bagi saya. Dengan dimensi 13,5 x 20 cm dan tebal 360 halaman (± 2 cm) membuat buku ini sangat nyaman di tangan. Tidak terlalu besar atau kecil, dan juga tidak terlalu berat atau ringan. Kover buku yang simpel—hanya menonjolkan nama penulis, judul buku, dan sebuah gambar bunga—semakin membuat “eksterior” buku ini menarik. Namun, saya tidak dapat mengetahui dengan pasti bunga jenis apa yang ada di kover dan apa makna penggunaan bunga tersebut sebagai gambar kover. Kalau menurut saya sih kover edisi sebelumnya lebih menggambarkan isi buku ini karena menampilkan gambar betis seorang wanita—yang mungkin saja menggambarkan sensualitas isi buku ini. Tapi, kover tersebut menurut saya terlalu norak. Saya pribadi lebih menyukai kover edisi ini. Selain lebih simpel, bagian nama penulis, judul buku, dan gambar bunga yang di-emboss pada kover menjadi nilai tambah kover edisi ini dan membuatnya lebih elegan. “Interior” buku ini pun sama-sama menggoda. Penggunaan jenis kertas yang tidak murahan—agak buram dan cukup tebal, ukuran huruf yang tidak terlalu kecil, dan line spacing yang tidak terlalu rapat menjadikan buku ini secara sekilas pandang sangat nyaman untuk dibaca.

Tokoh utama dalam buku ini adalah Maria, seorang gadis lugu dari pedalaman Brazil yang akhirnya berprofesi sebagai pelacur di Swiss. Tokoh lain yang juga sangat berperan dalam cerita adalah Ralf, seorang pria dengan profesi pelukis yang nantinya menjadi kekasih Maria. Pemilihan nama Maria sebagai nama tokoh mungkin cukup ironis karena Maria secara religius identik dengan seorang wanita suci sekaligus ibu dari Yesus. Ditambah lagi dengan apa yang ditulis Paulo Coelho di halaman persembahan: Ya Maria yang dikandung tanpa noda, doakanlah kami yang memohon pertolonganmu. Amin. Sangat bertolak belakang dengan tokoh Maria dalam buku ini. Gambaran bahwa buku ini akan bercerita tentang kisah seorang pelacur semakin terasa karena buku ini diawali dengan penggalan ayat dari Alkitab, yaitu Lukas 7: 37–47 yang menceritakan tentang pengampunan dosa terhadap seorang wanita pendosa.

Judul Sebelas Menit, kisah seorang pelacur bernama Maria, dan gaya bercerita dari Paulo Coelho yang sarat dengan nilai-nilai filosofi kehidupan membuat saya bertanya-tanya lagi: Apa yang akan saya dapatkan dari buku ini? Dan ketika membuka lembar berikutnya saya mendapatkan satu kejutan lagi, yaitu penggunaan kalimat “Pada zaman dahulu kala” di awal cerita. Lagi-lagi Paulo Coelho melakukan hal yang ironis sebab kalimat tersebut umumnya digunakan pada cerita anak-anak. Sedangkan buku ini bercerita tentang kisah seorang pelacur. Hal itu membuat buku ini semakin menarik dan membuat penasaran.

Dalam membuka lembaran-lembaran berikutnya kita akan mengetahui bahwa setiap bab dalam buku ini tidak diberi judul. Panjang masing-masing bab juga tidak terlalu panjang—rata-rata hanya sekitar 10 halaman dan tidak lebih dari 20 halaman—yang membuat kita tidak akan terjebak di satu bab yang membuat cepat bosan. Meskipun secara keseluruhan buku ini lebih banyak narasi daripada dialognya, hal tersebut tidak akan membuat kita bosan karena alur cerita yang cepat di awal hingga pertengahan buku. Narasinya justru lugas serta tidak terlalu mendetail. Hal itu menyebabkan betapa cepatnya tokoh Maria berkembang dalam buku ini—tidak sampai 50 halaman Maria sudah berkembang dari seorang anak-anak menjadi seorang gadis dewasa. Baru di pertengahan hingga akhir buku alur sedikit melambat menjadi sedang-sedang saja. Gaya bercerita dari sudut pandang orang ketiga semakin membuat kita lebih mudah dalam memahami cerita. Dan satu sentuhan dari Paulo Coelho yang cukup menarik adalah dia menyisipkan kutipan-kutipan dari buku harian Maria di akhir bab (hanya beberapa bab saja yang tidak diberi). Bagi saya hal ini menarik! Karena selain diajak berpikir dari sudut pandang ketiga lewat gaya bercerita, kita juga diajak untuk berpikir dari sudut pandang Maria lewat kutipan-kutipan buku harian tersebut. Dari sinilah kita bisa mengambil beberapa pelajaran hidup dari Maria—meski dia adalah seorang pelacur. Seperti bagaimana dia cepat beradaptasi dengan lingkungan baru, pekerjaannya, dan mau belajar hal-hal yang dapat menunjang pekerjaannya [halaman 107–113]. Berikut ini adalah salah satu petikan dari kutipan buku harian Maria tersebut:

Dan kalau aku tidak memiliki apapun, berarti buat apa membuang-buang waktu mengurusi hal-hal yang bukan milikku; lebih baik aku bersikap seolah-olah baru hari ini aku hidup (atau ini hari terakhirku hidup). [halaman 43]

Satu hal yang saya tekankan di sini adalah buku ini merupakan buku khusus dewasa! Banyak hal-hal vulgar tentang seks bertebaran di buku ini. Di awal buku saja sudah dijelaskan bagaimana Maria (maaf) bermasturbasi [halaman 24]. Dan ternyata makna judul buku ini juga tidak jauh-jauh dari seks! Sebelas menit itu ternyata adalah rata-rata durasi kemampuan seorang pria berhubungan intim dengan wanita [halaman 115]. Selain itu Paulo Coelho juga dengan apik mampu menceritakan sejarah dari dua versi prostitusi lewat tokoh Ralf, yaitu prostitusi yang kita kenal selama ini dan prostitusi yang sakral [halaman 267–273]. Pengetahuan baru itulah yang nantinya memberi pencerahan pada Maria bahwa seks tidak melulu soal nafsu, tapi juga sesuatu yang sakral, yang pada akhirnya hal itu mempengaruhi ending buku ini.

Kemasan yang bagus luar dan dalam, terjemahan yang sangat bagus sehingga enak dibaca, dan banyak pelajaran kehidupan serta beberapa pengetahuan baru yang dapat kita petik dari buku ini membuat saya tidak ragu untuk memberikan rating five star pada buku ini. Meski ending buku ini sedikit klise, tapi Paulo Coelho mampu menjadikannya sedikit unik dan mengejutkan sehingga penilaian saya terhadap rating buku ini tidak berubah. Jika sebelumnya dalam membaca The Alchemist saya lumayan dibuat bingung, justru di sini Paulo Coelho mampu memberikan sesuatu yang menghibur, membuat penasaran, menambah wawasan, dan mencerahkan. Untuk mengetahui bagaimana Paulo Coelho mengemas itu semua, silakan baca saja buku ini.

 

Eleven Minutes (Sebelas Menit)

oleh Paulo Coelho

Penerjemah: Tanti Lesmana dan Arif Subiyanto

Gramedia Pustaka Utama; Cetakan keempat, April 2011

ISBN 978-979-22-6835-5

Rate: 5/5 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s