Setiap Orang adalah Alkemis

Santiago adalah seorang penggembala domba dari daratan Andalusia. Di suatu waktu ia mengalami mimpi yang sama sebanyak dua kali. Dalam mimpi tersebut ia dibawa ke piramida di Mesir dan diberi tahu bahwa di situ ia akan menemukan harta karun. Dan dalam salah satu perjalanannya menggembala domba ia meminta seorang perempuan Gipsi untuk menafsirkan mimpi tersebut. Sang perempuan Gipsi menyarankan Santiago untuk mencari harta karun tersebut dengan meminta imbalan sepersepuluh bagian dari harta karun itu. Tapi, Santiago masih ragu menuruti saran perempuan Gipsi tersebut. Di saat itu ia justru bertemu Raja Salem. Sang raja juga memberikan saran serupa dengan meminta imbalan sepersepuluh jumlah dombanya. Akhirnya Santiago memutuskan mencari harta karun itu. Petualangan baru pun dihadapinya—melintasi benua menuju Afrika dan melewati padang pasir yang ganas. Berulang kali pula ia kehilangan hartanya dan berkali-kali pula ia menemui jenis orang yang berbeda-beda. Termasuk Sang Alkemis, orang yang berjasa besar membantunya menemukan harta karun itu.

***

The Alchemist sebenarnya buku karya Paulo Coelho yang pertama saya beli, tapi bukanlah karya Paulo Coelho yang pertama kali saya baca secara tuntas. Saya membeli buku ini hampir dua tahun yang lalu karena rekomendasi dari sahabat saya. Namun, setelah terbeli saya malah tidak pernah menuntaskannya. Begitu beberapa waktu yang lalu saya membaca Eleven Minutes—karya Paulo Coelho lainnya—dan dibuat terpukau olehnya, maka saya benar-benar meniatkan untuk membaca ulang dan menuntaskan buku ini. Dan keputusan tersebut memang tepat karena buku ini memang luar biasa!

Penampilan fisik buku ini bisa dibilang menarik. Ukurannya yang tidak terlalu jumbo (20 x 13,5 cm) dan tebal 216 halaman memberi kesan buku ini adalah buku yang ringan. Kover depannya juga tampak elegan karena gambar untuk kover tidak terlalu ramai dan judul serta nama penulis dalam kover dicetak ber-emboss dan memiliki efek hologram. Gambar dalam kover tersebut juga sangat tepat sasaran dengan isi buku karena setelah membaca tuntas buku ini kita akan tahu bahwa gambar tersebut memang memenuhi syarat untuk “menceritakan” perjalanan Santiago.

Santiago adalah tokoh utama dan protagonis dalam karya Paulo Coelho ini. Dia adalah seorang penggembala domba yang berasal dari Andalusia—sebuah teritori di Spanyol yang letaknya paling selatan. Dia digambarkan sebagai seorang anak yang menuruti kata hatinya dan suka berkelana. Hal itu dibuktikan dengan dia lebih memilih menjadi penggembala domba daripada menuruti keinginan ayahnya agar dia menjadi pastor [halaman 26]. Tokoh-tokoh lain frekuensi dan durasi kemunculannya tidak sesering Santiago, bahkan bisa dibilang mereka hanya “datang dan pergi”. Contohnya sang perempuan Gipsi, Melkisedek Sang Raja Salem yang meyakinkan Santiago untuk mencari harta karun di piramida, seorang pemandu yang ditemui Santiago di Tangier yang ternyata penipu, pedagang kristal tempat Santiago bekerja di Tangier, Fatima—cinta yang ditemukan Santiago di gurun pasir, bahkan Si Orang Inggris yang menjadi teman seperjalanan Santiago. Mungkin hanya Sang Alkemis tokoh selain Santiago yang benar-benar berpengaruh dalam cerita buku ini. Konsekuensinya kita tidak akan dibuat bingung dengan banyaknya tokoh utama yang bisa saja malah tidak berpengaruh banyak pada cerita.

Setting tempat yang dibangun Paulo Coelho pun tidak monoton di satu tempat saja. Justru imajinasi kita akan dibawa berkelana ke daratan Andalusia, Tangier, oasis Al-Fayoum, hingga piramida di Mesir. Setting waktu yang dibangun pun merangsang kita untuk menerka-nerka di zaman apa kisah Santiago ini terjadi. Saya sendiri pun tertarik untuk mengetahuinya, bahkan selama membaca buku ini selalu memikirkannya. Kemudian saya pribadi memperkirakan kisah ini terjadi di antara abad ke-15 hingga ke-17. Alasannya dalam kisah ini agama Islam sudah berkembang, sistem transportasi saat melintasi gurun pasir masih tradisional (menggunakan karavan, unta, dan kuda), dan terutama karena Si Orang Inggris telah membawa revolver [halaman 115] (jenis revolver paling awal dikembangkan pada sekitar abad ke-16). Apalagi di masa itu alkimia bisa dibilang juga sedang “ngetren” di Eropa dan ini dibuktikan dengan hasrat Si Orang Inggris yang begitu besar untuk mencari Sang Alkemis. Kombinasi setting tempat dan waktu tersebut benar-benar mengingatkan saya pada kisah-kisah di zaman Nabi atau Kisah 1001 Malam sehingga cerita yang dibangun Paulo Coelho ini menjadi terkesan klasik.

Alur yang dipilih Paulo Coelho juga memudahkan kita dalam membaca dan memahami cerita, yaitu alur progresif. Kecepatan alurnya pun cepat karena kita diajak untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya secara cepat. Plot yang dibangun pun bersifat linear sehingga memahami cerita akan terasa mudah karena jalan cerita bergerak lurus dari awal sampai akhir. Dan yang luar biasa dari buku ini adalah unsur-unsur plausibilitas (keterpercayaan), suspense, surprise, dan kepaduannya yang hampir sempurna. Begitu membacanya kita dapat merasakan unsur plausibilitasnya karena bukan tidak mungkin ada seorang penggembala bermimpi mendapatkan harta karun dan berusaha mewujudkannya. Selain itu tempat-tempat yang dihadirkan oleh Paulo Coelho semuanya memang nyata ada di dunia ini sehingga unsur tersebut sangat terasa dalam buku ini. Sentuhan suspense dan surprise dari Paulo Coelho juga menarik. Meski saya tidak merasakan suspense yang sangat menegangkan seperti dalam genre thriller, tapi entah kenapa saya selalu penasaran dengan apa yang akan terjadi pada Santiago selanjutnya di setiap halaman buku ini. Dan yang tak kalah mengesankan adalah surprise pada ending cerita. Benar-benar di luar perkiraan saya. Kepaduannya juga patut diacungi jempol karena dari awal sampai akhir tidak ada satu tokoh ataupun peristiwa yang melenceng dari tema cerita. Semuanya seakan-akan saling terhubung dan saling melengkapi—contohnya peran Raja Salem, pedagang kristal, dan Sang Alkemis dalam “membimbing” Santiago.

Dan pesan kehidupan yang ingin disampaikan Paulo Coelho adalah manusia harus berjuang mengerahkan segala daya dan upaya untuk mewujudkan takdir mereka. Takdir adalah apa yang selalu ingin dicapai dan karenanya setiap manusia memiliki mimpi. Inilah yang selalu ingin diwujudkan oleh manusia, tapi biasanya lama-kelamaan manusia menjadi merasa mustahil meraih dan mewujudkan mimpinya. Padahal di saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya. Dan penyebab utama hal itu pada umumnya adalah takut gagal. Hal itu sangat disayangkan sebab jauh lebih baik jika kita gagal/mati di tengah jalan dalam mewujudkan mimpi/takdir daripada orang lain yang bahkan tidak tahu takdir mereka. Karenanya mendengarkan suara hati juga sangat penting dalam hal ini karena di mana hatimu berada, di situlah hartamu berada. Dan dari titik ini bisa dibilang Paulo Coelho menganalogikan bahwa semua manusia adalah alkemis. Alkemis ini konon dikenal memiliki kemampuan mengubah logam biasa menjadi emas. Tapi, banyak juga alkemis-alkemis yang gagal melakukan hal itu karena mereka hanya sekedar mencari emas/harta yang ditakdirkan bagi mereka, tapi tidak mau menjalani takdir itu. Dan karenanya alkimia ada agar setiap orang mencari harta karunnya sendiri dan muncul keinginan menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Menurut saya karena itulah buku ini diberi judul The Alchemist oleh Paulo Coelho.

Membaca buku ini benar-benar memberikan kepuasan batin yang luar biasa. Selain karena hal-hal yang saya sebut di atas, penerjemahan buku ini juga bagus, dan enak dibaca—karena ukuran font yang cukup besar, line spacing yang longgar, serta perbandingan narasi dan dialognya yang berimbang. Semua itu membuat saya tidak ragu untuk memberikan rating five star lagi pada karya Paulo Coelho ini.

 

The Alchemist (Sang Alkemis)

oleh: Paulo Coelho

Penerjemah: Tanti Lesmana

Gramedia Pustaka Utama; Cetakan kesepuluh, Juli 2010

ISBN 978-979-22-1664-6

Rate: 5/5 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s