Neuro Linguistic Programme ala Paulo Coelho

Paulo tidak mengira bahwa dia harus jauh-jauh terbang ke Eropa untuk mendapatkan sesuatu yang sangat diinginkannya, yaitu Pedang Sang Magi. Kedatangannya ke Eropa tersebut membawanya ke sebuah perjalanan melalui jalan yang di abad pertengahan dikenal sebagai Jalan Misterius menuju Santiago. Dan perjalanan itu bukanlah sebuah perjalanan biasa, tetapi sebuah perjalanan ziarah yang suci bagi umat Kristiani. Dengan ditemani pemandunya yang misterius bernama Petrus, Paulo melakukan perjalanan sejauh tujuh ratus kilometer dari Saint-Jean-Pied-de-Port di Prancis hingga Katedral Santiago de Compostela di Spanyol. Di perjalanan itu pula Paulo mengalami banyak ujian. Mulai dari yang mempertaruhkan nyawanya hingga bertemu dan melawan iblis. Bukan hanya demi menemukan pedang yang diinginkannya, tapi juga demi menemukan arti hidup, kebijaksanaan, dan keimanan.

***

Setelah menyelesaikan buku ini—hingga saya menulis review ini—saya masih belum dapat memastikan apakah buku ini murni fiksi atau memoar dari Paulo Coelho. Jika ini adalah sebuah cerita fiksi, maka ini adalah cerita yang dikemas secara luar biasa oleh Paulo Coelho karena menyajikan banyak fakta historis yang menarik dan pelajaran hidup yang luar biasa. Dan jika ini adalah sebuah memoar, maka hanya satu tanggapan saya: speechless!

Buku ini berkisah tentang perjalanan Paulo dan pemandunya yang bernama Petrus dalam menjalani sebuah perjalanan ziarah suci bagi umat Kristiani, yaitu ziarah Santiago de Compostela. Perjalanan ziarah ini bukanlah sebuah rekaan Paulo Coelho, melainkan memang ada secara faktual. Bagi umat Kristiani ada tiga jalan peziarahan yang dianggap suci. Jalan yang pertama adalah menuju pusara Santo Petrus di Roma; jalan yang kedua adalah menuju makam suci Kristus di Yerusalem; dan jalan yang ketiga adalah menuju jasad salah satu murid Yesus, San Tiago—sering dikenal sebagai Saint James di Inggris, Jacques di Prancis, Giacomo di Italia, dan Jacob dalam bahasa Latin. San Tiago disemayamkan di Compostela dan kota itu sekarang menjadi salah satu kota yang banyak dikunjungi umat Kristiani dari seluruh dunia. Jalan menuju Compostela inilah yang ditempuh oleh Paulo dan pemandunya. Dengan berjalan kaki mereka melakukan itu dan jalur yang mereka tempuh berawal di Saint-Jean-Pied-de-Port.

Rute-rute menuju Santiago de Compostela

Jika Anda akrab dengan karya-karya Paulo Coelho, maka Anda tidak akan terlalu kaget dengan isi buku ini. Seperti karya-karyanya yang lainnya Paulo Coelho banyak menyampaikan pesan-pesan filosofis kehidupan—baik secara tersirat maupun tersurat—lewat cerita-cerita yang ditulisnya. Dan jika Anda sudah membaca salah satu karyanya yang berjudul The Alchemist, maka Anda akan menyadari bahwa tidak banyak perbedaan inti cerita antara buku ini dan buku tersebut. Kedua buku tersebut sama-sama bercerita tentang sebuah perjalanan pencarian harta, tetapi dengan bentuk harta yang berbeda. Mengingat buku ini terbit lebih dulu daripada The Alchemist, maka saya simpulkan buku inilah yang menjadi inspirasi Paulo Coelho dalam menulis The Alchemist.

Yang unik dari buku ini adalah bagaimana Paulo Coelho bisa mengajak kita untuk mempercayai dan menjiwai petualangannya di perjalanan tersebut. Dia menggunakan sudut pandang orang pertama dalam menceritakan kisah ini sehingga kita pun seperti terhipnotis bahwa ini benar-benar kisahnya. Di salah satu bagian dia juga menyebutkan sebuah tanggal spesifik yang bertahun 1986—saat di mana kisah ini terjadi. Hal ini benar-benar mengejutkan saya karena di beberapa karyanya yang pernah saya baca, dia hampir selalu membuat kita untuk menerka-nerka di masa apa sebenarnya cerita terjadi. Hal inilah yang membuat saya bimbang apakah kisah ini hanyalah kisah fiksi atau malah sebuah memoarnya. Apalagi dia juga menyamarkan beberapa hal dalam cerita ini—termasuk nama pemandunya karena Petrus bukanlah nama sebenarnya dan Petrus ini juga adalah seorang desainer terkenal di Italia. Semua itu ditambah dengan fakta-fakta historis yang ada membuat saya cenderung untuk mempercayai bahwa cerita ini adalah sebuah memoarnya—meski tidak yakin seratus persen.

Selain menceritakan petualangan-petualangan dan kejadian-kejadian luar biasa yang dilaluinya di jalan bersama Petrus, di sini Paulo Coelho juga menyajikan pada kita beberapa latihan yang berguna untuk meningkatkan kualitas kehidupan kita. Latihan-latihan ini disebut latihan RAM. RAM ini sendiri mengacu pada Ordo RAM (Regnus Agnus Mundi). Tidak ada sumber yang secara pasti menyatakan ordo ini benar-benar eksis atau tidak. Tapi ada salah satu sumber yang menyatakan bahwa Ordo RAM adalah salah satu ordo Katolik kuno yang ditemukan pada tahun 1492 dan secara spesifik mempelajari bahasa simbologis. Dan ketika saya mencermati prosedur latihan-latihan RAM itu, saya menyadari bahwa latihan-latihan itu tidak jauh berbeda dengan beberapa prosedur praktis neuro linguistic programme (NLP). Hal ini membuat buku ini juga seperti buku panduan NLP bagi kita. Contohnya adalah latihan kekejaman. Latihan itu tidak berbeda dengan kiat NLP agar kita dapat membuang pikiran-pikiran buruk di otak kita. Lalu ada juga latihan lain yang dapat menajamkan pandangan, pendengaran, dan intuisi kita—yang lagi-lagi tidak jauh beda dengan beberapa latihan NLP. Jika saya belum pernah membaca tentang NLP, pasti semua latihan-latihan yang dijabarkan Paulo Coelho itu saya anggap sebagai guyonan belaka. Kemudian saya mafhum maksudnya menjabarkan latihan-latihan itu dalam cerita ini adalah dia mengajak dan membuktikan bahwa kita bisa menjadi seseorang yang lebih baik dengan menerapkan latihan tersebut.

Selain itu, lewat cerita ini Paulo Coelho ingin mengatakan pada kita bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan—yang tak ubahnya seperti perjalanannya ini menuju Santiago de Compostela. Di dalam hidup ini kita pasti memiliki sebuah tujuan/keinginan dan untuk mewujudkannya kita harus melakukan sebuah perjalanan. Dan dari perjalanan itu kita akan menemui banyak pelajaran untuk lebih memaknai hidup ini. Lakukan semua itu dengan perasaan total—dalam cerita ini disebut sebagai agape atau cinta yang paling tinggi tingkatannya. Jika itu semua sudah kita lakukan, niscaya apa yang kita inginkan dapat kita raih dan kita mampu mengalahkan semua musuh/kelemahan kita—dalam cerita ini disimbolkan sebagai iblis. Secara bijak pula Paulo mengajarkan kita bahwa kita harus mengetahui apa yang harus kita lakukan terhadap keinginan/tujuan kita karena jika tidak, maka kita tidak akan pernah menemukan apa yang kita inginkan tersebut.

Buku ini mungkin bukanlah buku yang mudah dipahami secara keseluruhan. Apalagi buku ini bernuansa sangat religius. Jadi bagi Anda yang beragama non-Kristiani mungkin saja buku ini kurang cocok bagi Anda. Tapi, saya—saya sendiri seorang Muslim—memandang buku ini adalah sebuah buku pembangun jiwa. Yah, tidak berbeda jauh dengan karya-karyanya Habiburrahman El Shirazy yang juga bernuansa religius. Selain itu saya jamin buku ini juga dapat membuat Anda merasakan sensasi “berjalan-jalan” di semenanjung Iberia—tidak kalah lah dengan sensasi saat membaca buku-buku traveling. Satu kritik saya untuk buku ini saya tujukan kepada penerjemah dan editor penerjemahan buku ini. Kata yang benar adalah praktik, bukan praktek! Meski sebenarnya tidak hanya kata itu sih, he-he-he….

 

The Pilgrimage (Ziarah)

oleh Paulo Coelho

Penerjemah: Eko Indriantanto

Gramedia Pustaka Utama; Februari 2011

Paperback; 264 halaman; 13,5 x 20 cm

ISBN 978-979-22-6719-8

Rate: 4/5 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s