Kisah Tragis dari Ranah Batak

Sebuah karya sastra dengan kisah tragis yang mirip dengan kisah Sitti Nurbaya. Jika Sitti Nurbaya merupakan sebuah hikayat dari ranah Minang, Azab dan Sengsara ini adalah sebuah hikayat dari ranah Batak—dapat kita tebak dari nama penulisnya dan kover buku ini. Kedua buku tersebut memiliki inti cerita yang tidak jauh berbeda, yaitu kisah kasih tak sampai antara dua insan manusia. Sepertinya kisah-kisah seperti itu sempat menjadi tren di masa itu karena kedua buku ini pertama kali terbit dengan rentang waktu yang tidak jauh berbeda (Azab dan Sengsara pada tahun 1920; Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai pada tahun 1922).

Buku ini secara garis besar bercerita tentang kisah kasih antara Mariamin—biasa disebut Riam dalam cerita—dan Aminuddin. Mereka adalah pemuda dan pemudi yang berasal dari kampung Sipirok yang termasuk ke dalam karesidenan Tapanuli. Cerita diawali Aminuddin yang berpamitan dengan Riam karena akan merantau mencari pekerjaan di Deli. Mendengar berita itu Riam menjadi sedih karena mereka akan segera berpisah. Tapi, Aminuddin berjanji jika sukses dalam pekerjaannya nanti dia akan mempersunting Riam. Meskipun rasa sedihnya tidak hilang, hal itu menimbulkan sebuah harapan yang besar di hati Riam. Dan selama perpisahan itu mereka saling bertukar kabar lewat surat. Hingga melalui surat ini pula Aminuddin memberi kabar pada Riam bahwa akan segera mempersuntingnya. Namun, keinginan Aminuddin tersebut tak direstui orangtuanya karena Riam adalah seorang gadis dari keluarga miskin. Hingga Aminuddin pun dijodohkan dengan gadis lain dari keluarga yang lebih tinggi derajatnya.

Seperti yang saya katakan di awal tadi, kisah ini memiliki inti yang sama dengan kisah Sitti Nurbaya. Bedanya jika Sitti Nurbaya dijodohkan dengan Datuk Meringgih karena keterpaksaan demi menyelamatkan orangtuanya—orangtuanya sendiri tidak setuju dengan perjodohan tersebut, di kisah ini justru Aminuddin dijodohkan karena perintah orangtuanya. Kisah asmara antara Riam-Aminuddin dan Sitti Nurbaya-Samsulbahri juga tidak jauh berbeda, mereka sama-sama sudah saling kenal dan bersahabat sejak kecil. Malah antara Riam dan Aminuddin ini memiliki hubungan kekerabatan. Mereka adalah saudara sepupu karena ibu Aminuddin adalah adik kandung Sutan Baringin—ayah Riam. Karena itulah Aminuddin memanggil ayah dan ibu Riam dengan sebutan tulang dan nantulang. Gara-gara ikatan kekerabatan inilah Riam dan Aminuddin sudah dekat dan bersahabat sejak kecil dan hubungan mereka lambat laun berkembang menjadi asmara seperti yang diceritakan di awal kisah ini.

Nah, yang menjadi penyebab utama kegagalan hubungan ini adalah kemalangan yang menimpa keluarga Riam. Pada awalnya keluarga Riam adalah keluarga yang kaya raya karena Sutan Baringin mewarisi harta yang melimpah dari moyangnya. Tapi, karena Sutan Baringin memiliki sifat yang tamak, maka keluarga itu jatuh ke dalam jurang kemiskinan yang paling dalam. Kemalangan itu diceritakan dalam kisah ini melalui alur flashback. Karena itu alur cerita buku ini berjenis campuran. Adanya alur flashback ini terasa mengganggu. Apalagi yang dikisahkan dalam alur tersebut sampai menghabiskan empat bab! Padahal buku ini hanya memiliki sembilan bab. Jadi hampir separuh cerita buku ini kita diajak untuk ber-flashback ria! Hal ini membuat saya tidak “nyaman” ketika membaca buku ini. Bayangkan saja ketika Anda menonton anime atau film-film kartun Jepang di saat adegan sedang seru-serunya. Kemudian di tengah-tengah adegan itu salah seorang tokoh/karakternya menceritakan kisah masa lalunya. Nah, mengesalkan, kan? Itulah yang saya rasakan ketika membaca buku ini.

Untungnya buku ini memiliki penampilan yang tidak kuno-kuno amat. Biasanya buku-buku sastra Balai Pustaka cetakan lama memiliki tampilan isi yang sedikit compang-camping—ukuran font kecil-kecil, line spacing sangat rapat, baris-barisnya pun terkadang banyak yang miring. Tapi, buku ini sudah memiliki tampilan isi yang rapi dan ukuran font yang cukup besar sehingga enak dibaca—mungkin karena buku ini sudah cetakan tahun 90-an. Selain itu, buku ini juga banyak memberikan petuah kehidupan dan pelajaran kebudayaan daerah layaknya karya sastra lama Indonesia lainnya.

Dalam buku ini secara khusus Merari Siregar mengkritik sistem perjodohan yang marak di waktu itu—seperti yang diceritakannya dalam buku ini. Menurutnya sistem perjodohan seperti itu membunuh hak setiap orang untuk memilih sendiri pasangannya. Lha yang menjalani sebuah pernikahan kan si anak, bukan si orangtua. Selain itu dia juga mengkritik salah satu adat Batak yang melarang seseorang untuk menikahi orang lain yang memiliki marga yang sama. Contohnya seperti ini: ada seorang lelaki bermarga Siregar, maka lelaki itu tidak boleh menikahi perempuan dari marga Siregar meski hubungan kekerabatan mereka sudah sangat jauh (artinya nenek moyang mereka yang hidup ratusan tahun lalu yang bersaudara). Sementara itu lelaki bermarga Siregar tadi boleh mengambil istri dari keluarga Harahap meski hubungan kekerabatan di antara mereka masih dekat. Misalnya masih satu nenek, yang artinya nenek si lelaki dari pihak ibu dan nenek si perempuan dari pihak ayah. Jadi mereka beda marga, tapi masih sedarah—yang ini malah diizinkan oleh adat. Menurut Merari Siregar aturan-aturan seperti ini harusnya diubah karena sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman di waktu itu. Dan lewat karyanya inilah dia menyuarakan kitik-kritiknya itu agar hak untuk bebas memilih pasangan bagi setiap insan dapat terwujud di negeri ini.

Karena kritik-kritik, petuah-petuah yang disampaikan, dan ulasan-ulasan tentang kebudayaan Batak yang disampaikan dalam buku ini, saya memberi rating yang lumayan untuk buku ini. Apalagi dengan jalan cerita buku ini tergolong klise. Dari buku ini pula saya jadi belajar dan sedikit memahami budaya Batak. Contohnya ya hal tentang perkawinan semarga tadi. Selain itu saya juga jadi tahu bahwa Tapanuli sebenarnya berasal dari frasa Tapian na Uli yang artinya tepian yang elok. Dan masih banyak lagi hal-hal lain tentang budaya Batak disampaikan di buku ini. Inilah yang saya sukai dan keuntungan dari membaca karya sastra lama Indonesia. Selain kita membaca sebuah hikayat, secara tidak langsung kita juga mempelajari budaya daerah negeri ini yang sangat beragam. Jadi, sastra pun bisa menjadi sarana untuk lebih mengenal negeri ini.

Azab dan Sengsara

oleh Merari Siregar

Balai Pustaka; Cetakan kesepuluh, 1992

Paperback; 164 halaman; 14,5 x 20,5 cm

ISBN 979-407-168-4

Rate: 3/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s