Angels and Demons Versi Paulo Coelho

Resensi buku ini dibuat dalam rangka ikut berpartisipasi dalam Lomba Resensi Buku ReadingWalk.com

Seorang pria asing tiba di sebuah desa yang sunyi dan terpencil bernama Viscos. Berta—salah satu penduduk desa tersebut—yang pertama kali melihat kedatangan pria tersebut menyadari bahwa orang asing tersebut ditemani sang Iblis. Semua tampak tenang-tenang saja hingga pria asing itu—yang suatu saat nanti mengaku bernama Carlos dan berumur 52 tahun—bertemu dengan Chantal Prym. Chantal adalah seorang gadis yatim piatu dari Viscos—bahkan gadis paling muda di desa itu—dan sudah sejak lama ingin meninggalkan desa itu. Keinginannya itu sedikit mendapat titik cerah ketika mendengar penawaran Carlos.

Carlos meminta Chantal untuk mengumumkan kepada penduduk desa tentang keberadaan batang-batang emas yang dikuburnya di hutan—satu dikubur di dekat batu berbentuk Y dan sepuluh dikubur di dekat batu berbentuk elang. Penduduk desa diperkenankan memiliki sepuluh batang emas jika mereka melakukan apa yang diinginkannya, yaitu melanggar salah satu dari Sepuluh Perintah Allah: jangan membunuh. Sementara itu Chantal dipersilakan oleh Carlos untuk mencuri satu batang emas yang dikuburnya itu jika ia punya nyali. Dan itu berarti Chantal juga melanggar salah satu dari Sepuluh Perintah Allah, yaitu jangan mencuri. Semua itu dilakukan Carlos demi membuktikan apa yang selama ini dipercayainya bahwa pada hakikatnya manusia itu jahat.

Penawaran itu membuat batin Chantal berkecamuk. Malaikat dan iblis berperang hebat di hatinya. Siapakah yang memenangkan perang tersebut? Dan mampukah Carlos membuktikan yang selama ini dipercayainya?

***

The Devil and Miss Prym adalah salah satu masterpiece Paulo Coelho yang wajib Anda baca. Apalagi buku ini juga masuk ke dalam daftar 1001 Books You Must Read Before You Die. Meski masuk ke dalam daftar itu—yang konon katanya buku-buku dalam daftar itu hampir selalu bikin pusing pembacanya, buku ini tidaklah seseram itu. Malah enak dibaca dan mencerahkan! Seperti karya-karyanya yang lain, Paulo Coelho tetap mengandalkan sebuah cerita perjalanan kehidupan manusia yang sarat akan pesan dan nilai-nilai filosofis kehidupan.

Karya Paulo yang satu ini sedikit berbeda dengan karya-karyanya yang pernah saya baca, seperti The Pilgrimage, The Alchemist, dan Eleven Minutes. Jika di tiga karya itu cerita lebih terpusat pada pencarian sebuah harta dalam kehidupan, maka di buku ini Paulo menyajikan sesuatu yang berbeda, yaitu tentang kebaikan melawan kejahatan. Tema ini mungkin tema yang klasik dan klise, tapi Paulo mampu menyajikannya kepada kita secara unik dan luar biasa. Dalam bukunya ini Paulo memberikan pandangan baru pada kita bahwa kebaikan dan kejahatan itu pada hakikatnya memiliki wajah yang sama. Bahkan ia pun melontarkan sebuah pertanyaan filosofis pada kita: apakah pada hakikatnya manusia itu baik atau jahat?

Nah, hal itu tentunya sedikit mengejutkan kita. Selama ini kita sudah kadung “percaya” bahwa kebaikan itu selalu digambarkan (baca: berwajah) memiliki rupa yang santun, lembut, penuh kasih, memancarkan cahaya yang terang, dan bersayap—pokoknya seperti penggambaran kita terhadap malaikat deh. Sedangkan kejahatan selalu digambarkan dengan rupa yang bengis, kejam, licik, kadang membawa trisula di tangan, dan memiliki ekor dengan ujung lancip—iblis/setan banget, kan? Tapi, Paulo menyadarkan kita bahwa kebaikan dan kejahatan tidak melulu berwajah seperti itu. Mereka bahkan memiliki wajah yang sama. Kalau Anda masih ragu, silakan Anda bercermin dan tatap wajah yang di cermin itu. Ya, itulah wajah yang dimaksud Paulo, yaitu kita sendiri—para manusia. Tidak salah jika Paulo mencatat di awal buku ini bahwa sejak awal manusia ditakdirkan terjepit di tengah-tengah perseteruan abadi antara kedua kubu yang berlawanan itu. Itulah sebabnya kenapa ia mengangkat tema yang sangat klasik itu ke dalam buku ini.

Perseteruan itu dituangkan oleh Paulo lewat tokoh Carlos atau si orang asing dan Chantal atau Miss Prym yang memang dominan dalam buku ini. Carlos diceritakan dulunya adalah seorang pengusaha senjata yang sukses. Semuanya berubah ketika istri dan anaknya dibunuh oleh sekelompok teroris. Sejak itu sang Iblis menguasai diri Carlos dan membuatnya memiliki kepercayaan bahwa pada hakikatnya manusia itu jahat. Karena itulah ia berkelana dan mencoba mencari jawaban dan pembuktiannya di Viscos atas apa yang dipercayainya itu. Dan Chantal yang dipilihnya untuk membantunya dalam pencarian tersebut. Chantal sendiri sebenarnya hanya seorang gadis biasa-biasa saja. Bisa dibilang ia adalah sekutu kebaikan, tapi sejak pertemuannya dengan Carlos ia sekaligus menjadi alat dari kejahatan. Dari situ perseteruan antara sang Malaikat dan sang Iblis yang sering terjadi di hati manusia digambarkan di sini.

“Dalam legenda Persia, manusia dilahirkan untuk menjadi sekutu Baik, dan menurut tradisi, akhirnya Baik akan menang. Namun berabad-abad kemudian, kisah lain mengenai perseteruan muncul, kali ini menceritakan sudut pandang yang berbeda: manusia sebagai alat Jahat.” ~ Paulo Coelho

Selain itu semua, Paulo juga mengajarkan pada kita bahwa sebenarnya kebaikan dan kejahatan itu selalu berjalan beriringan, bahkan saling membutuhkan. Sebagai contoh ia menceritakan apa yang dilakukan Yesus di salah satu kisah Alkitab tentang perjamuan terakhir. Yesus berkata pada si pengkhianat agar menyerahkan diri Yesus kepada prajurit Romawi. Dari hal itu timbullah pertanyaan mengapa Yesus meminta seseorang melakukan dosa sehingga dengan demikian orang itu dikutuk selamanya? Karena itu Paulo menulis:

“Yesus takkan melakukan hal itu; sesungguhnya, pengkhianat itu hanyalah korban, seperti layaknya Yesus sendiri. Jahat harus mewujudkan diri dan melakukan perannya, supaya pada akhirnya Baik dapat menang. Jika tidak ada pengkhianatan, tidak akan ada salib, kata-kata dalam Kitab Suci tidak akan digenapi, dan pengorbanan Yesus tidak bisa menjadi teladan.” [halaman 191]

Hingga pada akhirnya kebaikan dan kejahatan yang ada pada diri kita hanya kita sendirilah yang mampu mengendalikannya. Dan pilihan kita sendirilah yang menjadikan kita sekutu kebaikan atau alat dari kejahatan.

Buku ini bisa dibilang 99% sempurna. Selain pelajaran-pelajaran kehidupan yang dapat kita petik, buku ini juga menawarkan sebuah hiburan dan kenikmatan tersendiri ketika membacanya. Saya sendiri tidak menyangka bahwa Paulo Coelho mampu menyajikan sesuatu yang mencekam dan sedikit horor pada pembaca dalam buku ini. Kesan itu semakin kuat dengan pemilihan gambar pada kover buku ini. Plot tentang pembunuhan yang digadang-gadang sejak awal cerita pasti akan membuat kita betah mengikuti jalan cerita dan penasaran dengan ending-nya. Alur yang progresif serta ukuran font dan line spacing yang nyaman semakin memanjakan kita sebagai pembaca. Kekurangan buku ini hanyalah ada beberapa kata yang tidak tepat penulisannya, seperti praktek. Tapi, mengingat semua “kemewahan” ekstrinsik maupun intrinsik yang disajikan buku ini, kekurangan itu menjadi tidak ada apa-apanya.

Dan satu lagi, sebenarnya buku ini adalah buku ketiga dari trilogi And on The Seventh Day. Dua buku sebelumnya adalah By the River Piedra I Sat Down and Wept dan Veronika Decides to Die. Paulo mencatat bahwa trilogi ini berkisah tentang satu minggu dalam kehidupan manusia—seperti kisah Carlos dan Chantal selama seminggu di Viscos ini. Sehingga trilogi ini sepertinya bisa dibaca secara acak dan tidak harus berurutan. Saya sendiri belum membaca kedua prekuel buku ini, tapi tidak dibuat bingung ketika membaca buku ini. Jika Anda ternyata menyukai buku ini, sepertinya By the River Piedra I Sat Down and Wept dan Veronika Decides to Die juga menjadi buku yang wajib Anda baca.

The Devil and Miss Prym (Iblis dan Miss Prym)

oleh Paulo Coelho

Penerjemah: Rosi L. Simamora

Gramedia Pustaka Utama; Cetakan ketiga, Maret 2009

Paperback; 256 halaman; 13,5 x 20 cm

ISBN 978-979-22-1607-3

Rate: 5/5

One thought on “Angels and Demons Versi Paulo Coelho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s