Teknologi vs. Moral

Inilah contoh buku yang luar biasa sekaligus sangat kompleks. Saat saya menuliskan review ini, saya masih bingung seperti apa saya akan menuliskan sinopsis ceritanya. Sebab kalau saya menuliskan sinopsis hingga sepertiga ceritanya saja, pasti review ini nanti akan mirip dengan sebuah cerpen. Tokoh, plot, dan sesuatu yang ingin disampaikan oleh Michael Crichton di sini banyak sekali! Jadi sulit bagi saya untuk meringkasnya ke dalam satu atau dua paragraf. Tapi, paling tidak garis besar ceritanya seperti ini:

Ada seorang pria bernama Frank Burnet pernah menderita leukemia sel-T kelenjar getah bening akut. Kemudian dia berobat ke seorang dokter dan prognosis awal untuk penyakit itu juga tidak bagus. Tapi, secara luar biasa Frank mampu sembuh dari penyakit tersebut. Dan setelah itu secara mencurigakan Frank juga diharuskan untuk selalu kontrol tanpa alasan yang jelas. Kemudian diketahuilah bahwa jaringan tubuh Frank mampu menghasilkan sesuatu yang sangat luar biasa bagi dunia medis, yaitu cytokine. Dan sang dokter tadi ternyata diam-diam mengambil jaringan tubuh Frank untuk diteliti dan dijual kepada sebuah perusahaan bioteknologi bernama BioGen. Masalah inilah yang sebenarnya menjadi awal dan inti cerita buku ini.

Di samping itu BioGen juga sedang meneliti sebuah gen yang dinamai gen kedewasaan. Tanpa diduga gen ini memiliki potensi untuk digunakan sebagai obat kecanduan narkoba. Tapi begitu BioGen akan mempublikasikan temuannya tersebut, sebuah masalah muncul. Bahkan BioGen juga diambang kebangkrutan. Selain itu semua, masih ada masalah tentang kontroversi hewan transgenik yang (juga) dimunculkan buku ini. Apa itu hewan transgenik? Nanti akan saya jelaskan di paragraf-paragraf selanjutnya. Dan karena saya sudah bingung mau menulis apa lagi untuk sinopsis buku ini, mari kita lanjut ke ulasan dan pandangan saya tentang buku ini saja.

Seperti karya-karya Michael Crichton lainnya, tema untuk buku ini juga serius dan faktual. Kali ini bioteknologi yang diangkat oleh Crichton. Sebenarnya tema ini tidak jauh berbeda dengan tema salah satu karyanya terdahulu, yaitu Jurassic Park. Bedanya jika teknologi “membangkitkan” dinosaurus di Jurassic Park sampai saat ini masih berupa wacana, maka sebagian besar teknologi yang dibeberkan di sini sudah bisa kita lihat dan rasakan realisasinya saat ini. Mulai dari terapi sel punca (stem cell) hingga teknologi transgenik.

Bicara soal bioteknologi, bidang ini semakin banyak mendapat sorotan akhir-akhir ini, terutama di dunia medis. Contohnya adalah terapi sel punca. Terapi ini disebut mampu menyembuhkan penyakit-penyakit mengerikan semacam diabetes, jantung, alzheimer, parkinson, dementia, hingga kanker. Sel punca ini pada dasarnya adalah sel yang bisa berubah menjadi berbagai jenis sel di seluruh tubuh. Sel ini juga terdiri dari dua jenis, yaitu sel punca embrio dan sel punca dewasa. Nah, sel punca embrio inilah yang mampu berubah menjadi berbagai sel, sementara sel punca dewasa hanya bekerja spesifik pada jaringan asalnya. Bahkan baru-baru ini Shinya Yamanaka—peneliti dari Kyoto University—sudah mampu memprogram ulang sel punca dewasa sehingga kita dapat membuat “onderdil” bagi tubuh kita (baca: manusia). Temuannya yang revolusioner ini membuatnya dianugerahi Hadiah Nobel Kedokteran 2012.

Domba Dolly

Dan bioteknologi sendiri tidak selalu menguntungkan bagi manusia, bahkan banyak pula yang kontroversial. Pasti kita pernah mendengar nama domba Dolly yang merupakan makhluk hidup hasil teknologi kloning pertama di dunia. Teknologi ini tidak akan hadir jika tidak ada John Gurdon—yang juga pemenang Hadiah Nobel Kedokteran 2012. Dialah yang pertama kali menemukan bahwa makhluk hidup tidak tercipta melalui pembuahan antara sel telur dan sel sperma semata, tetapi makhluk bisa dihidupkan dari sel apapun dari tubuh makhluk tersebut. Kloning sendiri merupakan salah satu pemanfaatan teknologi sel punca dalam hal reproduksi. Teknologi ini sendiri saat ini masih meninggalkan banyak perdebatan dan kontroversi. Banyak yang menganggap hal ini sebuah terobosan dalam kehidupan manusia, tapi tidak sedikit pula yang menganggapnya sebagai tindakan tidak etis dan menyalahi aturan agama. Itu baru satu contoh. Belum lagi pemanfaatan bioteknologi sebagai senjata biologis pemusnah massal—seperti bom antraks misalnya.

Sifat bioteknologi yang bak pedang bermata dua itulah yang diangkat oleh Crichton di sini. Crichton seakan-akan membukakan mata kita bahwa bioteknologi adalah masa depan kita, tapi sekaligus dapat “membunuh” jika kita tidak cermat. Dia bisa sangat menguntungkan, tapi juga bisa sangat merugikan. Pada akhirnya moral dan etika manusia yang disorot di sini. Di tangan orang yang bermoral dan beretika, bioteknologi adalah sebuah berkah. Sedangkan di tangan orang yang tak bermoral dan beretika, bioteknologi adalah musibah.

Tapi, ada kalanya bioteknologi berbenturan dengan zona abu-abu moral dan etika. Hal itu diungkapkan oleh Crichton di sini lewat penciptaan hewan transgenik. Hewan transgenik adalah hewan yang disisipi gen spesies lain ketika masih dalam tahap embrio. Di sini Crichton mencontohkannya pada karakter Gerard—seekor kakaktua yang bisa bicara dan memiliki kemampuan aritmetika, dan Dave—seekor simpanse yang bisa bicara dan berkomunikasi layaknya manusia. Penciptaan hewan transgenik ini sangat besar kemungkinannya untuk terealisasi karena penerapan teknologi transgenik ini sudah lazim digunakan dalam tanaman. Contoh paling anyar adalah dimasukkannya gen Cry dari bakteri Bacillus thuringiensis ke dalam genom jagung agar kebal terhadap serangan hama ulat. Saat ini yang masih menahan pemanfaatan teknologi tersebut kepada hewan ataupun manusia adalah moralitas kita, para manusia. Bayangkan jika moral kita sudah jebol, bisa dipastikan hewan-hewan semacam Gerard, Dave, atau ikan yang glowing in the dark bikinan Sheldon Cooper di serial The Big Bang Theory akan banyak bertebaran di masa depan. Kalau sudah begini, kita jadi tidak berbeda dengan Hitler dan Stalin yang bercita-cita menyilangkan manusia dan primata. Satu hal yang patut kita sikapi secara kritis dari buku ini.

Seandainya saja buku ini adalah sebuah buku nonfiksi, pasti saya akan memberi rating sempurna untuk buku ini. Membaca buku ini seperti membaca sebuah buku teks genetika, biokimia, dan fisiologi yang digabung jadi satu. Namun, buku ini adalah sebuah novel fiksi. Aspek jalan cerita harus saya masukkan juga ke dalam penilaian saya. Dan buku inilah satu-satunya buku yang dengan sukses membuat saya bertanya-tanya tentang arah cerita buku ini—bahkan ketika sampai di pertengahan buku. Sebab plot dalam buku ini begitu banyak dan melompat-lompat, bahkan tidak ada tokoh protagonis dan antagonis yang jelas dalam buku ini! Jalinan cerita baru mulai terasa arahnya ketika kita membaca separuh akhir buku ini. Dan ketika membaca separuh awal buku ini rasanya malah seperti membaca sebuah buku teks genetika-biokimia-fisiologi. Satu hal lagi yang luar biasa dari buku ini adalah bagaimana Crichton meleburkan fakta dan fiksi ke dalam cerita. Batas antara keduanya begitu kabur dalam buku ini karena sebagian besar teknologi-teknologi yang diangkat Crichton di sini memang sudah benar-benar ada.

“Novel ini adalah fiksi, kecuali bagian-bagian yang bukan fiksi.” ~ Michael Crichton dalam halaman persembahan

Well, bagi penggemar genre sci-fi—terutama di bidang bioteknologi atau medis, buku ini adalah buku yang wajib dibaca. Apalagi bagi penggemar Michael Crichton, buku ini sangat diwajibkan untuk dibaca karena ini adalah karya terakhirnya sebelum meninggal. Selain itu lewat karya terakhirnya inilah Crichton sekaligus mengingatkan kepada kita agar bijak dalam memanfaatkan kemajuan teknologi.

Rest in peace, Crichton….

N.B.: Michael Crichton meninggal pada 4 November 2008 karena kanker.

Next

oleh Michael Crichton

Penerjemah: Gita Yuliani K.

Gramedia Pustaka Utama; Cetakan kedua, Juli 2009

Paperback; 488 halaman; 15 x 23 cm

ISBN 978-979-22-4555-4

Rate: 4/5

7 thoughts on “Teknologi vs. Moral

  1. Kalau menurutku, Michael Crichton sebenarnya lebih ke thriller ketimbang sci-fi. Memang ada elemen sci-fi di dalamnya, tapi yang lebih ingin dibangun di sini adalah keteganganya.
    Memang dalam buku ini, elemen sci-finya lebih kental dibandingkan dengan novel-novelnya yang lain.
    Btw, nice blog. Terus posting ya…

    • Kalau menurut saya pribadi buku ini ketegangannya kurang menggigit. Kisah juga “kejar-kejarannya” juga kurang mendominasi.
      Kalau untuk buku ini saya memang lebih fokus dan tertarik dengan teknologi2 yang diangkat karena kebetulan latar belakang pendidikan saya di bidang yang sama.
      Pengalaman saya dalam membaca karya-karyanya Crichton juga baru dua sih, ini dan Jurassic Park. Jadi saya belum begitu merasakan unsur thriller ala Crichton.😀

      Btw thanks sudah komen di blog saya🙂

  2. Tukeran link, ya. Aku suka selera bukumu.

    Soal Crichton, yang paling aku suka itu Timeline. Di buku ini juga aroma science-nya berasa banget. Kisahnya tentang perjalanan waktu ke abad pertengahan. Andromeda Strain juga bagus, kisah penyakit yang sudah punah jutaan tahun dan bangkit lagi. Yang paling kubenci, tapi ini subjektif sih, adalah State of Fear. Ini buku yang mengatakan bahwa global warning adalah berita bohong. Kok bisa2nya Michael Crichton membela industri penyebab global warming.

    • Kalo Timeline saya malah baru nonton filmnya saja, bukunya belum baca.😀
      Karya2 Crichton selain buku ini dan Jurassic Park saya belum baca. Jadi belum bisa ngasih komentar untuk karya2 lainnya. Btw yang State of Fear itu kalo menurut saya ceritanya kebalikannya The Doomsday Conspiracy-nya Sidney Sheldon (kalo saya nggak salah inget sih… :D)

      TUkeran link ini maksudnya gimana ya mas? Saya newbie di bidang ngeblog nih, jadi belum paham istilah2 beginian😀

      • Caranya, lihat di dasboard, ada menu link. terus pilih add new. nah, disitu isi saja alamat website atau blog yang ingin di link.

        Nanti akan muncul di sebelah kanan halaman muka (atau tergantung theme blog yang kamu pilih).

        Dicoba aja, kalau gagal tanya lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s