Warning! Ini Dongeng untuk Orang Dewasa!

Dengan mengesampingkan nama Neil Gaiman dari kover buku ini, apa yang terlintas di benak Anda ketika memandang kover buku ini? Mungkin saja benak Anda berkata seperti ini: Ah, ini pasti dongeng yang cenderung kekanak-kanakan. Tidak salah memang jika Anda berpendapat seperti itu. Sebab buku ini memang buku dongeng, tapi dongeng untuk orang dewasa! Jika bukan karena seorang Neil Gaiman yang menulis buku ini, mungkin saya tidak akan pernah tertarik membeli dan membaca buku ini. Berhubung saya pernah dibuat terpesona oleh American Gods dan sudah membaca-baca track records Mr. Gaiman, saya pun dibuat penasaran dengan karya-karya lainnya. Termasuk Stardust ini.

Seperti dongeng pada umumnya, kisah dalam buku ini dapat membawa alam imajinasi kita berkelana ke tempat-tempat luar biasa yang mustahil kita temui. Kita pun diajak untuk bertemu makhluk-makhluk yang hanya ada di dunia dongeng. Yah, namanya juga dongeng. Kalau tidak seperti itu, ya bukan dongeng namanya.

Kisah buku ini berlatar di sebuah desa bernama desa Tembok, dinamai seperti itu karena desa ini dibatasi sebuah tembok yang—bisa dibilang—memisahkan dunia nyata dengan negeri peri. Nah, di desa ini hidup seorang pemuda bernama Tristran Thorn yang sedang kedanan alias tergila-gila pada seorang gadis bernama Victoria Forester. Saking edan-nya si Tristran ini, dia sampai menggombal akan membawakan Victoria bintang jatuh yang mereka lihat bersama. Dan ternyata gombalan Tristran itu bukan bualan semata. Dengan niat mantap dia menuju arah tempat bintang tersebut jatuh—yang ternyata berada di negeri peri. Diseberanginya tembok pembatas itu, bertualanglah dia mencari bintang itu, dan dari sinilah kita akan diajak berkelana Neil Gaiman menuju alam imajinasi yang seakan tak ada batasnya itu.

Dan memang begitulah adanya. Membaca buku ini, imajinasi kita akan dibangkitkan. Kita akan dirangsang untuk membayangkan latar-latar dan tokoh-tokoh ajaib seperti saat kita membaca The Lord of The Rings. Ciri khas alam pedesaan Inggris yang digambarkan pada desa Tembok membuat saya teringat pada masa kecil dan buku-buku karya Enid Blyton yang saya baca waktu itu. Kemudian jalan cerita buku ini yang memang, ah, benar-benar dongeng. Yang membuat dongeng ini disebut dongeng untuk orang dewasa mungkin diselipkannya beberapa adegan sensual oleh Neil Gaiman. Well, saya tidak kaget dengan hal itu karena sepertinya itu sudah menjadi salah satu “ciri khas” Neil Gaiman. Dan seperti yang dilakukan Neil Gaiman di American Gods, adegan-adegan itu disajikan dengan elegan dan tidak terlalu vulgar. Selain itu ada pula adegan kekerasan yang secara eksplisit diceritakan di sini, seperti si penyihir yang membacok-bacok kuda dan menggorok leher seseorang. Nggak mungkin kan cerita-cerita seperti itu disajikan untuk anak-anak?

Secara keseluruhan saya suka dengan apa yang dilakukan Neil Gaiman untuk membangkitkan imajinasi kita lewat buku ini. Apalagi ini sebuah dongeng, lho. Jarang-jarang kan ada dongeng buat orang dewasa? Jalan ceritanya pun lugas. Cukup dengan 250-an halaman saja kita sudah dibawa mengikuti kisah hidup Tristran dari bagaimana dia bisa lahir sampai dengan bagaimana yang ditunjukkan ending buku ini. Sayangnya saya tidak begitu terpesona dengan konsep keseluruhan ceritanya. Ending-nya menurut saya juga biasa-biasa saja. Yah, seperti ending sebuah dongeng pada umumnya lah. Tapi, saya tetap menyukai buku ini. Karena buku ini lain daripada yang lain, yaitu sebuah dongeng untuk orang dewasa.

Stardust (Serbuk Bintang)

oleh Neil Gaiman

Penerjemah: Femmy Syahrani Ardiyanto

Gramedia Pustaka Utama; Cetakan ketiga, November 2007

Paperback; 256 halaman; 13,5 x 20 cm

ISBN 978-979-22-2688-1

My Rating: 3/5

2 thoughts on “Warning! Ini Dongeng untuk Orang Dewasa!

  1. Buku Neil Gaiman yang kubaca baru Neverwhere, agak lambat alurnya, jadi mandeg di tengah; cuman aku masih penasaran ma American Gods

    • American Gods alurnya juga nggak cepet2 banget mbak. Tapi entah kenapa dulu aku waktu mbacanya selalu penasaran buat nyelesaiin. Dan ternyata memang memuaskan di endingnya. Menurutku AG adalah salah satu karya Neil Gaiman yang recommended.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s