2012: A Book Odyssey

Tahun 2012 beberapa hari lagi akan segera berakhir. Dan bagi aku pribadi, tahun ini adalah tahun yang menakjubkan dan akan menjadi tahun yang tak akan terlupakan dalam sejarah hidupku. Semua itu bukan karena di tahun ini desas-desusnya akan terjadi kiamat yang (faktanya) tidak terjadi. Bukan juga karena ada turnamen Euro 2012 di Polandia dan Ukraina. Penyebabnya adalah di tahun ini aku (dengan suksesnya!) telah kembali berpaling ke cinta pertamaku, yaitu buku. Akhirnya aku kembali merasakan betapa nikmatnya membaca buku, kembali melewati hari-hari dengan buku di tangan, memiliki semangat menulis karena buku—meski sebatas menulis review buku, dan puncaknya adalah aku memiliki teman-teman baru karena buku. Sebelumnya aku tidak pernah menyangka jika minatku terhadap buku bisa memberikan efek seperti itu. Tapi, itulah kenyataan yang aku alami di tahun ini. Rasanya benar-benar WOW!!!

Continue reading

Catatan Perjalanan dari Negeri-Negeri “-stan”

Buku ini adalah buku perjalanan/traveling terbaik yang pernah saya baca. Buku ini tidak seperti buku-buku traveling pada umumnya. Jika buku-buku traveling pada umumnya bercerita tentang kisah perjalanannya, keindahan tempat yang dikunjungi, dan kadang terkesan “hura-hura”, buku ini justru memberikan bonus berupa “keprihatinan” selama melakukan perjalanan dan sejarah budaya setempat.

Di dalam buku ini Agustinus Wibowo (atau juga sering disapa Avgustin) mampu membawa kita untuk berimajinasi menjelajahi negeri-negeri di Asia Tengah, yang uniknya semua namanya berakhiran -stan. Mulai dari Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan. Masing-masing negeri tersebut ternyata menyimpan tempat, budaya, dan cerita-cerita unik yang bahkan mampu membuat kita terheran-heran ketika membacanya.

Continue reading

Sebuah Kritik terhadap Feodalisme Jawa

DSC_2716

Novel tidak melulu sebagai sebuah hasil imajinasi penulisnya. Meskipun bersifat fiksi, novel dapat kita gunakan sebagai alat untuk memahami tatanan sosial kemasyarakatan lewat dunia kesusastraan. Apa yang ditulis Suryakenchana Omar tersebut dalam esainya yang berjudul The Javanese Society of Pramoedya’s Gadis Pantai memang benar. Apalagi jika novel tersebut adalah karya penulis sekelas Pramoedya Ananta Toer (Pram). Pram memang terkenal sebagai seorang penulis yang secara realistis memotret kehidupan masyarakat pribumi dalam karya-karyanya. Tema-tema karyanya yang humanis, memperjuangkan persamaan derajat manusia, dan menentang keras sistem feodalisme membuat karya-karyanya bak pisau bermata dua. Berkat karya-karyanya tersebut dia memperoleh berbagai penghargaan internasional dan bahkan satu-satunya sastrawan Indonesia yang mampu menembus kandidat peraih Nobel Sastra. Tapi, karena pemikiran-pemikiran dan idealisme yang dituangkan ke dalam karyanya pula dia lebih akrab dengan penjara dalam sejarah kehidupannya.

Continue reading

Inilah Novel Favorit Para Pembunuh

DSC_2714

PERINGATAN! Review ini mengandung kata-kata yang tidak enak dibaca atau dirasakan dalam hati. Review ini (mungkin) juga berisi hal-hal yang mendiskreditkan novel ini. Reader discretion is advised.

Sebenarnya saya tidak terlalu suka dengan novel yang suram-suram seperti The Catcher in the Rye ini. Novel-novel jenis ini biasanya saya hindari untuk saya baca. Apalagi waktu membaca sinopsis cerita novel ini, saya menjadi semakin tidak tertarik dengan novel ini. Tapi karena saya dipinjami (ditawari untuk meminjam sebenarnya) novel ini, maka saya pun membaca novel ini daripada mubazir tidak terbaca. Dan berikut adalah beberapa pendapat saya tentang sebuah novel yang enggak banget buat saya ini.

Continue reading

Joey Harker, Naruto-nya Multiverse

interworld

Apakah Anda percaya dengan sebuah teori bernama Parallel Universe? Kalau Anda pro teori tersebut atau penasaran dengan teori tersebut, buku ini paling tidak dapat membawa Anda sedikit memaknai teori tersebut. Sebelumnya mari kita simak lebih dulu apa yang dimaksud dengan parallel universe menurut Wikipedia.

“The multiverse (or meta-universe) is the hypothetical set of multiple possible universes (including the historical universe we consistently experience) that together comprise everything that exists and can exist: the entirety of space, time, matter, and energy as well as the physical laws and constants that describe them. The term was coined in 1895 by the American philosopher and psychologist William James. The various universes within the multiverse are sometimes called parallel universes.”

Kalau menurut apa yang saya baca dan pemahaman saya sendiri, parallel universe itu di belahan lain alam semesta ini ada bumi yang sama persis seperti bumi kita ini, dan di situ ada orang yang sama persis dengan kita tapi (mungkin) dengan nasib yang berbeda. Yah, setidaknya seperti itu gambaran kasar parallel universe menurut pemahaman saya.

Continue reading