Inilah Novel Favorit Para Pembunuh

DSC_2714

PERINGATAN! Review ini mengandung kata-kata yang tidak enak dibaca atau dirasakan dalam hati. Review ini (mungkin) juga berisi hal-hal yang mendiskreditkan novel ini. Reader discretion is advised.

Sebenarnya saya tidak terlalu suka dengan novel yang suram-suram seperti The Catcher in the Rye ini. Novel-novel jenis ini biasanya saya hindari untuk saya baca. Apalagi waktu membaca sinopsis cerita novel ini, saya menjadi semakin tidak tertarik dengan novel ini. Tapi karena saya dipinjami (ditawari untuk meminjam sebenarnya) novel ini, maka saya pun membaca novel ini daripada mubazir tidak terbaca. Dan berikut adalah beberapa pendapat saya tentang sebuah novel yang enggak banget buat saya ini.

Pertama-tama, mari kita simak garis besar cerita di novel ini.

Novel ini berkisah tentang hari-hari yang dialami Holden Caulfield setelah dia dikeluarkan dari sekolahnya. Holden ini sudah berkali-kali dikeluarkan dari sekolah. Dan untuk kali ini dia dikeluarkan dari sekolah karena tidak lulus hampir di semua mata pelajaran—hanya di pelajaran bahasa Inggris dia lulus. Di hari dia dikeluarkan dari sekolah ini pula dia ribut dengan teman satu kamarnya sehingga dia minggat dari asrama sekolah. Sejak inilah kita akan mengikuti petualangan Holden yang tak tentu arahnya. Dia tidak berani langsung pulang ke rumah karena tak ingin orangtuanya tahu bahwa dia dikeluarkan dari sekolah. Sementara itu dia juga tidak tahu harus pergi ke mana. Selanjutnya melalui kisahnya ini kita akan diajak menyelami pikiran Holden yang sebagian besar membuat saya enek, tapi anehnya kok menarik untuk diikuti.

Yang saya dapat dari diri Holden pertama kali adalah dia seorang remaja yang muak dengan segala hal di dunia ini. Bisa dibilang dia adalah seorang remaja yang desperate. Semua hal di dunia ini dia pandang secara negatif. Semua orang dia anggap sebagai bajingan. Benar-benar sebuah contoh nyata sisi suram dari diri manusia. Silakan Anda nilai sendiri saja tata bahasa dan kata yang dia gunakan dalam novel ini karena penceritaan novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama (Holden). Setelah saya baca sampai tuntas, menurut saya novel ini lebih pas disebut sebagai diary Holden setelah dia dikeluarkan dari sekolah. Karena itulah saya tadi menyebutkan kita akan diajak menyelami pikiran Holden dengan membaca novel ini. Dan tanpa tedeng aling-aling Holden mencurahkan semua hal yang dia pikirkan maupun alami selama itu. Tidak heran jika penerbit menggunakan tajuk Novel Amarah Anak Muda karena kita memang seperti membaca tulisan orang yang sedang marah-marah dan tak terkendali.

Hal itu membuat banyak kata-kata kasar menghiasi setiap halaman novel ini. Setiap orang yang disebut sebagai bajingan oleh Holden adalah hal lumrah dalam novel ini. Belum lagi umpatan-umpatan kasar macam sialan dan bangsat serta sarkasme-sarkasme kasar dalam dialog semakin mengukuhkan novel ini sebagai novel vulgar. Kevulgaran novel ini sempat membuat saya penasaran seperti apa novel ini dalam versi bahasa Inggris. Pasti akan terasa betul kekasarannya jika membaca dalam versi bahasa Inggris. Dan saya yakin pula jika di versi bahasa Inggris ini kita akan banyak menemukan beberapa—atau malah keseluruhan—seven dirty words yang dirilis oleh Federal Communication Commission di AS (sh*t, p*ss, f**k, c*nt, cocks**ker, motherf***er, t*ts). Hal ini mungkin sedikit menyulitkan penerjemah untuk menerjemahkan umpatan atau kata-kata kasar yang ada. Sebab jika hasil penerjemahannya tidak tepat tentunya akan mempengaruhi emosi keseluruhan yang terkandung dalam kata/kalimat. Dan hasilnya malah bukannya kita ikut terbawa emosi kemarahan yang ditunjukkan dalam kata/kalimat tersebut, kita malah dibuat terpingkal-pingkal membaca hasil penerjemahan umpatan-umpatan tersebut. Satu contoh yang membuat saya terpingkal-pingkal adalah hasil terjemahan frasa umpatan—yang saya perkirakan adalah f**k you!—di halaman 282 menjadi ngent*t lu! Well, secara harfiah sih memang itu artinya, tapi mbok yo dipoles sedemikian rupa agar terjemahannya sesuai dengan konteks. Di beberapa bagian terjemahan novel ini juga ada yang kurang pas. Seperti penggunaan kata kita dan kami yang masih sering salah tempat. Penerjemah dan editor harus lebih teliti lagi di sini karena kata we/our/us memang memiliki dua arti dalam bahasa Indonesia, yaitu kami dan kita. Dan kedua kata ini sendiri memiliki makna yang berbeda dalam KBBI. Saya sering kesal sendiri juga jika melihat/mendengar diksi yang dalam konteks kalimat seharusnya menggunakan kata kami, tapi yang digunakan malah kata kita. Semoga hal ini bisa diperbaiki penerbit untuk edisi mendatang.

Balik lagi ke masalah Holden. Sebenarnya saya tidak tahu pasti apa yang menyebabkan Holden begitu ”panas” di novel ini. Padahal kondisi rumah tangga keluarganya baik-baik saja. Kalau menurut saya sih namanya juga anak muda, darahnya masih panas dan emosi masih labil. Remaja yang bolak-balik dikeluarkan dari sekolah, senang merokok, sering mengumpat bukanlah hal baru bagi kita. Tapi mengingat setting dan penulisan novel ini yang berada di era 1950-an, kita juga harus memandangnya dari sudut pandang era tersebut. Saya sendiri tidak mengetahui secara pasti kondisi sosial—terutama para remajanya—di AS pada era tersebut. Mungkin saja bolak-balik dikeluarkan dari sekolah adalah sebuah aib di masa itu sehingga membuat Holden begitu uring-uringan di novel ini. Atau mungkin ada sebab yang lain. Ah, saya tidak bisa membahasnya lebih jauh karena saya bukan seorang psikoanalis.

Kemudian ada satu hal yang membuat novel ini begitu bombastis. Di kover belakang ditulis bahwa Mark David Chapman meminta John Lennon menandatangani novel ini di pagi hari sebelum menembak mati mantan personel The Beatles itu. Lalu disebutkan pula bahwa novel ini adalah bacaan favorit para pembunuh. Nah, dulu saya sempat dibuat penasaran oleh hal itu. Memangnya buku ini ada apanya sih sampai jadi bacaan favorit para pembunuh? Dan setelah menamatkan novel ini, sepertinya ada benarnya juga novel ini dijadikan bacaan favorit para pembunuh. Bukan karena di novel ini banyak adegan pembunuhan sadis atau yang sejenisnya, tapi novel ini menurut saya sukses memprovokasi pembacanya. Novel ini dengan sukses membuat saya kesal dengan tingkah polah Holden serta perkataan-perkataannya yang seenak udelnya sendiri itu. Selain itu mengapa novel ini begitu disukai pembunuh mungkin penjelasannya seperti ini: Saya tidak tahu pasti mengapa seseorang bisa mempunyai niat untuk membunuh. Mungkin saja karena dia sedang desperate, depresi, marah, atau anggap saja dalam kondisi emosi yang negatif. Biasanya sih kondisi psikis dan mental para pembunuh itu rata-rata sedang tidak waras. Nah, bayangkan saja kita dalam kondisi seperti itu, pasti kita membutuhkan masukan-masukan yang positif agar kondisi psikis dan mental kita kembali normal. Sekarang coba bayangkan jika kita dalam buruk itu dan ada seseorang yang bilang kepada kita seperti ini, ”Hei, bangsat kau! Idiot! Kau yang bloon! Bla-bla-bla! Bla-bla-bla!” Apa reaksi kita? Yah, minimal menonjok muka orang itu saya kira. Saya kira novel ini berperan seperti maki-makian itu karena novel ini secara kasat mata dan eksplisit benar-benar memprovokasi. Seperti yang saya sebut tadi, saya yang terhitung waras saja dibuat kesal dengan membaca novel ini. Apalagi para pembunuh yang memiliki kondisi psikis dan mental tidak waras itu. Silakan Anda bayangkan sendiri.

Meski begitu novel ini tidak sepenuhnya berisi hal-hal yang buruk. Saya memang tidak menyukai tingkah polah Holden dan bahasa dalam novel ini, tapi jalan cerita novel ini sukses membuat saya penasaran. Jalinan cerita yang terangkai di novel ini membuat saya terus bertanya-tanya akan dibawa ke mana Holden setelah ini dan akan seperti apa ending cerita novel ini. Saya pribadi sangat penasaran dengan apa yang akan terjadi pada ending novel ini karena di situlah letak penyelesaian masalah yang dihadapi Holden dalam cerita. Selain itu saya juga dibuat terharu oleh hubungan Holden dengan adiknya yang bernama Phoebe di akhir-akhir cerita. Ternyata Holden juga bisa bersikap manis dan sangat sayang pada adiknya, meski dibumbui sedikit pertengkaran juga sih. Setidaknya di bagian akhir ini saya bisa sedikit tersenyum dan (akhirnya) bisa melihat sisi baik dalam diri Holden.

Dan yang terakhir, kover untuk edisi ini menurut saya benar-benar konyol. Failed! Kesannya kok seperti kekurangan ide dan imajinasi saja. Apalagi edisi ini diterbitkan pada tahun 2005 di mana teknologi desain grafis di tahun itu sudah cukup maju. Masa kalah dengan kover-kover buku Agatha Christie edisi lawas? Hal ini sangat disayangkan karena kover juga cukup berperan menarik minat calon pembaca/pembeli buku. Untunglah di edisi yang lebih baru kover ini tidak digunakan lagi oleh penerbit. Menimbang hal ini dan beberapa hal yang telah saya sebut di paragraf-paragraf sebelumnya, saya memberi rating two stars saja untuk novel ini.

The Catcher in the Rye

oleh J.D. Salinger

Penerjemah: Gita Widya Laksmini

Banana Publisher; Cetakan I, September 2005

Paperback; 13 x 19 cm; 300 halaman

ISBN: 979-99986-0-3

My Rating: 2/5

9 thoughts on “Inilah Novel Favorit Para Pembunuh

  1. idih pede banget ngaku2 dirinya waras hahahaha
    aku terbitan banana juga kok nggak seabsurd itu yah terjemahannya
    alhamdulillah udah lebih halus

    aku maish nggak ngerti hubungannya apa dengan kematian john lennon

  2. aku malah belum pernah baca terjemahannya. tapi buku ini, walau suram, jalinan ceritanya emang memancing penasaran. Dan entah kenapa, enak dibaca berulang kali.. tambah usia, berbeda pula kenikmatan membaca kisah ini.😀
    salam kenal… nice blog.

    • sepertinya buku ini memang lebih enak jika dibaca dalam versi aslinya ya…
      tapi saya sendiri belum tahu seperti apa yang versi aslinya, jadi nggak bisa membandingkan.
      dan sepertinya saya nggak akan re-read buku ini deh😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s