Membaca Kisah Obama

Jangan mengira bahwa buku ini mengisahkan riwayat hidup Barack Obama dari masa kecil hingga mampu meraih kursi presiden Amerika Serikat. Buku ini justru “hanya” mengisahkan sebagian riwayat kehidupan Obama karena pertama kali diterbitkan pada tahun 1995—jauh sebelum dia terpilih menjadi presiden. Sejatinya buku ini ditulis karena Obama terpilih sebagai orang Afrika-Amerika pertama yang menjabat presiden Harvard Law Review. Fenomena ini membuat Obama yang sebelumnya bukanlah siapa-siapa menjadi sorotan pada periode itu. Publisitas itu membuat Obama mendapat tawaran dari beberapa penerbit untuk menulis sebuah buku yang pada akhirnya menghasilkan karya berjudul Dreams from My Father ini.

Dalam autobiografi ini Obama membagi riwayat hidupnya ke dalam tiga bagian. Di bagian pertama yang berjudul Asal-Usul dia mengisahkan kehidupan masa kecilnya hingga menjalani kuliah di New York. Lalu di bagian kedua yang berjudul Chicago dia mengisahkan hari-harinya menjalani kehidupan di kota tersebut sebagai aktivis sebuah organisasi penggalangan massa. Dan di bagian terakhir yang berjudul Kenya dia mengisahkan perjalanan pencarian jati dirinya dengan mengunjungi sanak keluarganya di Kenya.

Saya pribadi tertarik dengan buku ini karena buku ini ditulis sendiri oleh Obama. Latar belakang penulisan buku ini yang dipengaruhi oleh isu rasial membuat Obama juga memberikan porsi yang banyak terhadap hal tersebut dalam buku ini. Isu rasial tentang dikotomi kulit hitam dan kulit putih adalah isu yang sangat sensitif di AS. Apalagi Obama seakan-akan terjebak dalam dikotomi ini karena dia keturunan kulit hitam dan kulit putih. Hal ini membuat kehidupan masa kecilnya cukup berat. Dia dibesarkan oleh orang kulit putih (ibu serta kakek-nenek dari pihak ibunya), tapi mendapat perlakuan yang tidak enak dari orang-orang kulit putih. Ditertawakan dan dikucilkan dari pergaulan di sekolah sudah menjadi kehidupan sehari-hari Obama kecil. Ditambah lagi Obama kecil tidak mengenal langsung ayah kandungnya. Dalam buku ini diceritakan dia pernah bertemu langsung ayahnya sebanyak satu kali saja. Itu semua membuat pergulatan Obama di awal kehidupannya sudah begitu berat. Sehingga sejak awal, buku ini sudah memberikan dan menyinggung tema-tema yang cukup berat.

Bagian kedua buku ini juga memiliki isu rasial tidak kalah kental dengan bagian pertama. Bagian ini mengisahkan kehidupan Obama di Chicago ketika menjadi aktivis organisasi penggalangan massa. Kebetulan pula ketika Obama mulai bekerja di kota ini, walikota Chicago yang baru adalah seorang pria kulit hitam. Isu-isu seperti warga kulit hitam adalah “pemenang” dan warga kulit putih merasa seperti anak tiri di kota tersebut sangat kuat berhembus di masa itu. Bagian inilah yang menurut saya mengenalkan pada kita awal mula sepak terjang Obama di dunia sosial politik. Di sini Obama mengisahkan bagaimana dia membujuk dan menggalang masyarakat untuk aktif membenahi kondisi sosial di lingkungan tersebut. Keberhasilan dan kegagalannya sebagai aktivis di kota tersebut dia ceritakan di bagian ini. Bisa dibilang inilah batu loncatan Obama di bidang sosial politik.

Sementara itu di bagian ketiga kisah-kisah yang dituturkan lebih bernuansa kekeluargaan. Di bagian ini Obama mengisahkan perjalanannya ke Kenya yang pertama kalinya untuk menemui sanak keluarga dari pihak ayahnya. Di sini Obama mempelajari sejarah dan budaya keluarga ayahnya serta masyarakat di sekitarnya. Di bagian ini kita dapat membaca kisah-kisah keluarga Obama dari generasi nenek moyang hingga generasi terbaru. Silsilah-silsilah dan konflik-konflik internal keluarga Obama juga diceritakan. Lewat kisah-kisah tersebut gambaran sosok Obama yang seutuhnya menjadi jelas setelah di bagian-bagian sebelumnya kita hanya “mengenal” Obama melalui latar belakang keluarga ibunya. Misalnya adalah rata-rata keturunan keluarga Obama yang sangat cerdas sehingga tidak heran pula jika Barack Obama mewarisi kecerdasan tersebut. Melalui perjalanannya ini Obama juga menjadi lebih mengenal sosok ayahnya dari kisah-kisah yang diceritakan nenek, ibu tiri, bibi, dan saudara-saudaranya. Dari kisah-kisah tersebut nantinya kita akan mengetahui makna dari judul buku ini, Dreams from My Father; Impian Ayahku.

Di samping itu penggalan kisah yang menarik bagi saya adalah kehidupan Obama selama di Indonesia yang dia ceritakan secara khusus dalam satu bab. Kisah di bagian ini yang paling sering membuat saya tersenyum. Membaca penuturannya, Obama tidak seperti seorang anak Amerika yang “mampir” di Indonesia, tapi benar-benar seperti seorang anak Indonesia asli! Hal-hal yang dikisahkannya benar-benar khas Indonesia, seperti tidur dengan ditemani suara jangkrik, menangkap jangkrik, mengadu layang-layang, makan nasi dengan cabai rawit, hingga bermain lumpur di sawah. Tidak salah jika hingga saat ini Indonesia masih begitu berkesan bagi Obama. Sampai-sampai dia pun sudah dua kali mengunjungi negeri ini di masa jabatannya sebagai presiden AS.

Seperti biografi atau riwayat hidup orang pada umumnya, buku ini menawarkan hal-hal yang membuat kita lebih mengenal sosok Barack Obama. Tapi sejujurnya saya sedikit kecewa dengan buku ini karena hanya mengisahkan perjalanan Obama sampai ketika akan masuk Harvard. Buku ini belum sampai mengisahkan perjalanannya menjadi senator dan presiden AS. Bahkan kisah romansanya bersama Michelle dan sosok Michelle sendiri tidak diceritakan secara detail di sini. Obama hanya mengisahkan sekilas prosesi pernikahannya bersama Michelle dalam buku ini. Meski begitu saya cukup senang dengan buku ini karena ditulis sendiri oleh Obama dan ditulis ketika dia masih belum menjadi sosok yang sepopuler sekarang. Bahkan bisa jadi buku ini adalah satu-satunya autobiografi Obama jika nanti dia tidak menulis riwayat hidupnya kembali. Hasil penerjemahan dan tata letak isi yang dilakukan penerbit juga membuat buku ini cukup enak dibaca. Sayangnya bobot buku ini lumayan berat karena menggunakan kertas HVS, padahal buku ini tidak terlalu tebal. Dan walaupun masalah-masalah yang dibahas dan dikisahkan Obama dalam buku ini cukup berat dan butuh waktu lebih bagi saya untuk mencernanya, buku ini masih sangat layak dibaca bagi siapa saja yang ingin mengenal sosok Obama lebih dekat.

 

 

Dreams from My Father: Pergulatan Hidup Obama
oleh Barack Obama
Penerjemah: Miftahul Jannah Saleh, dkk.
Penerbit Mizan; Cetakan I, Mei 2009
Softcover; 496 halaman; 15,5 x 23,5 cm
ISBN: 978-979-433-544-4

My Rating: 3/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s