Mencermati Kisah Samurai dan Sejarahnya

Meski buku ini berukuran cukup mini, isi buku ini tidaklah semini penampilannya. Lewat buku ini kita seperti diajak Paul Varley berkelana menggunakan mesin waktu. Mulai dari zaman Nara dan Heian di sekitar abad VIII hingga zaman restorasi Meiji di pertengahan abad XIX akan kita kunjungi untuk mengikuti sejarah perkembangan samurai. Semua dibahas secara lugas dan ringkas oleh Paul Varley sehingga buku ini padat akan wawasan sejarah dan tidak membutuhkan terlalu banyak halaman.

Mayoritas dari kita sendiri pasti sudah mengenal apa itu samurai. Kebanyakan pasti akan mendefinisikan samurai sebagai prajurit kuno Jepang yang ke mana-mana selalu membawa pedang dan identik pula dengan tindakan bunuh diri demi kehormatan yang disebut seppuku. Definisi tersebut memang tidak salah. Tapi setelah membaca buku ini, saya menyadari bahwa samurai tidak hanya sebatas itu. Samurai ternyata memiliki makna dan sejarah yang jauh melebihi pengucapan namanya yang hanya terdiri dari tiga suku kata. Sejarah itu tak hanya dalam hitungan puluhan atau ratusan tahun, melainkan lebih dari seribu tahun!

Dalam prolog buku ini disebutkan bahwa kata samurai berasal dari kata kerja Jepang saburau yang berarti melayani. Kata ini digunakan pada zaman dahulu untuk menyebut pelayan pribadi yang setara dengan pembantu rumah tangga. Dalam perkembangannya kata ini kemudian digunakan untuk menyebut anggota kelas kesatria provinsi.

Sejarah samurai sebagai kesatria sendiri dimulai pada zaman Heian (794-1185) ketika istana mentransfer tanggung jawab untuk menjaga ketertiban provinsi-provinsi kepada militer lokal. Pemindahan tanggung jawab dari pusat ke daerah inilah yang memicu kemunculan kelas kesatria provinsi. Sejak itu tradisi samurai muncul dalam tatanan masyarakat dan samurai pun menjadi sebuah strata sosial baru dalam masyarakat.

Lalu ada beberapa hal yang sering kita ingat sebagai ciri khas seorang samurai, yaitu kebiasaannya membawa pedang/katana dan melakukan seppuku untuk menanggung rasa malu atau menjaga kehormatan diri. Tapi tahukah Anda bahwa sebelum diidentikkan dengan pedang, samurai identik dengan menunggang kuda dan busur panah? Bahkan samurai disebut sebagai kesatria yang tumbuh di punggung kuda. Hal ini terjadi di masa-masa awal sejarah perkembangan samurai. Pada masa itu samurai sebenarnya sudah membawa pedang ketika berperang. Tetapi ketergantungannya terhadap pedang tidak sebesar ketergantungannya terhadap busur. Apalagi dengan bentuk pedang di zaman itu yang berbentuk lurus sehingga malah menyulitkan ketika digunakan untuk pertarungan jarak dekat. Barulah di sekitar abad XII orang Jepang mengembangkan teknik membuat pedang dengan bentuk melengkung yang nantinya digunakan samurai sebagai senjata utama dalam bertempur.

Sedangkan untuk ciri khas samurai yang lain—yaitu seppuku—mungkin merupakan ciri khas yang paling menyeramkan dari samurai. Cara yang paling lazim digunakan samurai untuk mengakhiri hidupnya adalah dengan mengeluarkan isi perutnya. Tidak jelas dari mana asal dan sebabnya mengapa cara ini lebih lazim dipakai. Sebelumnya ada satu cara yang telah lama dipraktikkan samurai untuk bunuh diri, yaitu mengubur diri hidup-hidup untuk menyusul kematian tuannya. Namun secara praktis, seppuku dengan cara mengeluarkan isi perut lebih banyak dipraktikkan—terutama di akhir zaman Heian.

Bunuh diri khas Jepang ini sendiri memiliki dua penyebutan yang sudah lazim kita kenal, yaitu seppuku dan harakiri. Istilah yang terakhir lebih sering kita dengar dan lebih terkenal di dunia Barat. Seppuku sendiri merupakan istilah formal untuk pengeluaran isi perut, sedangkan harakiri merupakan istilah yang lebih vulgar yang berarti penyobekan perut. Dan sejak abad XVII seppuku menjadi vonis mati bagi samurai yang melanggar hukum yang paling berat. Di zaman Tokugawa ini pulalah seppuku menjadi sebuah tindakan yang sangat resmi dan bersifat ritual. Di halaman 40-45 kita dapat membaca sebuah ritual seppuku pada tahun 1868 yang ditulis oleh A.B. Mitford, seorang sekretaris konsulat Inggris di Jepang yang diberi kehormatan menjadi saksi ritual tersebut. Membaca penuturannya yang sangat detail tersebut, saya sukses dibikin merinding dan baru menyadari bahwa ritual ini benar-benar menyeramkan. Ternyata ritual ini tidak hanya sekedar merobek perut dan menebas kepala yang biasa saya lihat di film. Esensi dari ritual ini ternyata jauh melebihi itu.

Hal menarik lain dari samurai yang baru saya ketahui adalah kebiasaan mereka dalam menyebutkan menyebutkan nama dan silsilah secara lengkap ketika bertempur. Sebenarnya saya sudah pernah membaca hal ini ketika membaca novel Taiko karya Eiji Yoshikawa. Tapi, waktu itu saya menganggap hal itu konyol sekali dan mengira itu hanyalah bumbu yang ditambahkan sang pengarang. Eh ternyata, penyebutan nama dan silsilah sebelum berduel itu adalah cara samurai untuk menyatakan keberanian dan kebanggaan mereka yang luar biasa akan garis keturunan dan latar belakang keluarga mereka. Jadi tidak heran jika di masa lalu para samurai akan memilih-milih lawan yang sederajat untuk berduel di medan perang.

Sayangnya sejarah samurai yang panjang dan kulturnya yang ikut membentuk sejarah serta kebudayaan Jepang tidak lantas membuat samurai selalu eksis. Samurai memiliki akhir yang tragis. Di era restorasi Meiji hak istimewa dan kelas samurai dihapus. Namun di dalam epilog Paul Varley menyatakan bahwa nilai moral dan pedoman tingkah laku dalam wujud “jalan samurai” atau bushido tetap ada. Malahan menjadi tuntunan terkuat bangsa Jepang dalam memasuki abad XX.

Secara keseluruhan buku ini cukup memuaskan saya. Mulai dari prolog hingga epilog saya disuguhi banyak wawasan baru yang menarik. Di antaranya adalah yang saya ceritakan di paragraf-paragraf sebelumnya. Dan masih banyak hal menarik lain dalam buku ini, di antaranya cuplikan epos heroik para samurai terkenal dan kegigihan mereka dalam melawan invasi pasukan Mongol. Semua dituturkan secara singkat dan mudah dimengerti oleh orang awam sekalipun. Penerjemahan buku ini juga cukup bagus. Ditambah dengan banyaknya ilustrasi serta foto yang menyertai buku ini sangat membantu kita untuk lebih mudah memahami beberapa konteks yang dituturkan Paul Varley. Sayangnya saya menemukan banyak sekali penggunaan kata-kata yang tidak sesuai dengan kaidah KBBI, seperti kata ‘praktik’ yang ditulis ‘praktek’, ‘invasi’ ditulis ‘invansi’, ‘kesatria’ ditulis ‘ksatria’, dan beberapa kata lain. Semoga hal ini lebih diperhatikan editor dan penerbit untuk cetakan selanjutnya. Dan kover buku ini sendiri menurut saya unik, sama sekali tidak seperti kover sebuah buku sejarah. Menurut saya malah seperti kover sebuah komik, he-he-he. Jika kalian mencari buku sejarah yang ringan dibaca dan terutama ingin mengetahui lebih jauh tentang dunia samurai, buku ini bisa menjadi pilihan yang tepat.

 

Samurai: Sejarah dan Perkembangan
oleh H. Paul Varley dengan Ivan Morris dan Nobuko Morris
Penerjemah: Dwi Istiani
Komunitas Bambu; Cetakan I, Agustus 2008
Softcover; xiv + 186 halaman; 13 x 19 cm
ISBN: 979-3731-40-0

My Rating: 3/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s