Memoar Sang Maestro tentang Jalan Raya Pos

Selayang Pandang

Herman Willem Daendels. Dia adalah salah satu nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang paling saya ingat sejak bersekolah di bangku SD. Kenapa? Tentu saja karena prestasi dan warisannya yang sangat fenomenal, yaitu jalan raya sepanjang 1.000 km yang membentang dari Anyer sampai Panarukan. Apalagi jalan raya tersebut masih dapat kita telusuri saat ini dan secara tidak resmi dinamakan/dikenal sebagai Jalan Daendels. Tak heran jika Daendels adalah salah satu dari 71 Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang paling mudah “dikenang”.

Sayangnya tidak banyak literatur yang membahas detail pembangunan jalan raya yang sangat fenomenal itu. Bahkan mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa pembangunan jalan raya tersebut adalah salah satu bentuk genosida paling mengerikan dalam sejarah. Hal itulah yang menyebabkan Pram tergugah untuk menuliskan buku ini. Pram mencoba menjabarkan pada kita sisi kelam dari pembangunan jalan raya tersebut⎯di mana pembangunan tersebut menumpahkan begitu banyak keringat, air mata, dan darah para anak bangsa.

Continue reading

Sebuah Autobiografi tentang Cinta, Religi, dan Semangat Feminisme

Satu pertanyaan muncul di benak saya sebelum membaca novel ini: Apakah Jane Eyre hanya membahas masalah romantisme percintaan? Begitu saya menyelesaikan membaca novel ini, saya mendapatkan jawabannya: tidak! Novel ini justru jauh lebih kaya dari itu! Menurut saya novel ini berbicara tentang kehidupan jika dilihat dalam gambaran besarnya. Selain sisi romantisme percintaan, novel ini juga menyinggung arti sebuah perjuangan kehidupan dan sisi religius manusia. Semua itu membuat novel ini bukanlah sebuah novel romantis yang picisan, melainkan sebuah novel romantis yang elegan.

Ringkasan Cerita

Novel ini mengisahkan kehidupan Jane Eyre. Kisahnya dalam novel ini dimulai ketika dia berumur sepuluh tahun dan harus tinggal bersama keluarga bibinya karena kedua orangtuanya telah meninggal. Kehidupannya pada masa ini sangat berat. Dia sering mendapat perlakuan kejam dari bibi, sepupu, bahkan beberapa pelayan dalam rumah tangga tersebut. Karena tidak tahan dengan keadaan tersebut, dia “melarikan diri” dari keluarga tersebut dengan bersekolah di sebuah sekolah asrama bernama Lowood. Di lingkungan baru ini dia menemukan kehidupan baru. Meskipun sederhana, dia bahagia tinggal di lingkungan ini. Begitu lulus dari sekolah ini, dia pun sempat mengabdikan diri pada sekolah yang sama sebagai guru. Tapi, dia juga membutuhkan sebuah tantangan baru. Karenanya dia memutuskan keluar dari Lowood dan menerima sebuah pekerjaan sebagai guru pribadi di Thornfield Hall. Di sini kehidupannya kembali berubah. Apalagi dia juga bertemu dan jatuh cinta pada Mr. Rochester, sang pemilik Thornfield Hall sekaligus majikannya. Suatu hubungan yang aneh kemudian tumbuh di antara mereka⎯yang perjalanan hubungan itu sendiri juga aneh dan penuh rintangan.
Continue reading

Sherlock Holmes is Back!

Sherlock Holmes is back!
Ya, Sherlock Holmes kembali lagi. Dan permainan dimulai (lagi)….

Setelah untuk terakhir kalinya bertemu dengan petualangan-petualangan Sherlock Holmes dalam The Case-Book of Sherlock Holmes (Koleksi Kasus Sherlock Holmes), kali ini saya berjumpa kembali dengan salah satu detektif Inggris terhebat tersebut. Kali ini detektif yang terkenal dengan metode deduksinya tersebut hadir kembali dengan petualangan baru yang berjudul House of Silk (Rumah Sutra). Untuk petualangan Sherlock Holmes kali ini memang tidak ditulis oleh Sir Arthur Conan Doyle. Penulisnya adalah Anthony Horowitz—yang saya sendiri pun asing dengan nama ini. Tapi, buku ini digadang-gadang sebagai satu-satunya buku Sherlock Holmes non-Conan Doyle yang diakui oleh Conan Doyle Estate. Kalau Anda tidak percaya, coba perhatikan cap logo berbentuk bulat yang ada di kover depan buku ini. Ya, itu adalah cap logo Conan Doyle Estate yang (sepertinya) dipasang untuk menegaskan hal tersebut. Dan cap tersebut tidak hanya kita temui di kover edisi ini saja, tapi di hampir seluruh edisi yang ada di seluruh dunia. Karenanya buku ini begitu bombastis bagi saya.

Continue reading

Syafruddin Prawiranegara: “Presiden” yang Terlupakan

Presiden Prawiranegara? Benarkah ada nama Prawiranegara yang pernah menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia? Jika iya, mengapa namanya tidak ada dalam deretan nama-nama yang pernah menjabat sebagai orang nomor satu di RI tersebut?

Syafruddin Prawiranegara secara “normal” memang tidak pernah menjabat sebagai Presiden RI. Beliau mendapat sebutan Presiden Prawiranegara karena pernah menjabat pimpinan tertinggi PDRI. Menilik catatan sejarah, PDRI adalah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia yang terbentuk karena Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948. Serangan Belanda terhadap Yogyakarta yang saat itu merupakan ibu kota negara membuat tokoh-tokoh penting negeri ini tertangkap, di antaranya Soekarno dan Mohammad Hatta. Jatuhnya ibu kota negara dan tertangkapnya dua orang top di negeri ini otomatis membuat pemerintahan tidak berjalan dengan normal. Hal tersebut menyebabkan dibentuknya PDRI yang dipimpin oleh Syafruddin Prawiranegara dengan pusat pemerintahan berada di Sumatera Barat.

Continue reading