Sebuah Autobiografi tentang Cinta, Religi, dan Semangat Feminisme

Satu pertanyaan muncul di benak saya sebelum membaca novel ini: Apakah Jane Eyre hanya membahas masalah romantisme percintaan? Begitu saya menyelesaikan membaca novel ini, saya mendapatkan jawabannya: tidak! Novel ini justru jauh lebih kaya dari itu! Menurut saya novel ini berbicara tentang kehidupan jika dilihat dalam gambaran besarnya. Selain sisi romantisme percintaan, novel ini juga menyinggung arti sebuah perjuangan kehidupan dan sisi religius manusia. Semua itu membuat novel ini bukanlah sebuah novel romantis yang picisan, melainkan sebuah novel romantis yang elegan.

Ringkasan Cerita

Novel ini mengisahkan kehidupan Jane Eyre. Kisahnya dalam novel ini dimulai ketika dia berumur sepuluh tahun dan harus tinggal bersama keluarga bibinya karena kedua orangtuanya telah meninggal. Kehidupannya pada masa ini sangat berat. Dia sering mendapat perlakuan kejam dari bibi, sepupu, bahkan beberapa pelayan dalam rumah tangga tersebut. Karena tidak tahan dengan keadaan tersebut, dia “melarikan diri” dari keluarga tersebut dengan bersekolah di sebuah sekolah asrama bernama Lowood. Di lingkungan baru ini dia menemukan kehidupan baru. Meskipun sederhana, dia bahagia tinggal di lingkungan ini. Begitu lulus dari sekolah ini, dia pun sempat mengabdikan diri pada sekolah yang sama sebagai guru. Tapi, dia juga membutuhkan sebuah tantangan baru. Karenanya dia memutuskan keluar dari Lowood dan menerima sebuah pekerjaan sebagai guru pribadi di Thornfield Hall. Di sini kehidupannya kembali berubah. Apalagi dia juga bertemu dan jatuh cinta pada Mr. Rochester, sang pemilik Thornfield Hall sekaligus majikannya. Suatu hubungan yang aneh kemudian tumbuh di antara mereka⎯yang perjalanan hubungan itu sendiri juga aneh dan penuh rintangan.

Selayang Pandang

Novel ini termasuk ke dalam sastra klasik Inggris dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1847. Hal itulah yang membuat saya lebih tertarik kepada novel ini daripada jika dipandang dari sudut pandang sebagai novel romantis. Secara keseluruhan novel ini tidak mengecewakan. Saya suka dengan kover edisi ini karena cukup simpel dan tidak terlalu norak. Warna yang mendominasi pada kover pun terkesan kalem⎯meski juga cenderung suram. Setidaknya warna kover yang kalem tersebut membuat saya sejenak melupakan ketebalan novel ini. Bisa dibilang ketebalan novel ini (688 halaman) malah memberi kesan yang kurang bagus, yaitu membuat kita malas membacanya. Inilah kelemahan novel ini dari tampilan fisiknya: berat dan tidak praktis untuk dibawa-bawa. Bahkan dengan ketebalan ini kita bisa saja dihantui pemikiran seperti ini sebelum membacanya: Novel cinta-cintaan setebal ini pasti ceritanya membosankan, kaya sinetron. Tapi, ingat! Selain sebagai novel romantis, novel ini juga termasuk ke dalam golongan sastra klasik. Dan sastra klasik biasanya memiliki beberapa hal yang menarik untuk dikaji. Jadi saya yakin bahwa novel ini pasti menawarkan beberapa hal lain selain masalah percintaan. Dan asumsi saya itu ternyata tidak salah.

Ulasan

Hal pertama yang saya bahas adalah penerjemahan dan tata letak isi novel ini. Secara keseluruhan penerjemahan novel ini sudah bagus. Dan saya senang dengan keputusan penerjemah untuk mempertahankan sapaan semacam ‘Sir’, ‘Mr.’, ‘Mrs.’, dan ‘Miss’. Hal itu membuat cita rasa orisinal Inggris masih tetap melekat pada novel ini meski telah melewati proses penerjemahan. Hanya saja saya menemukan penggunaan satu kata yang tidak baku dalam novel ini, yaitu ‘kuatir’. Padahal novel ini diterjemahkan dan pertama kali diterbitkan dalam bahasa Indonesia tahun 2010 lalu. Semoga hal ini bisa dikoreksi oleh penerbit untuk cetakan selanjutnya.

Lalu ukuran huruf dan line spacing yang digunakan dalam novel ini menurut saya sudah cukup nyaman di mata. Margin atas-bawah-kiri-kanan juga cukup lega sehingga setiap halaman dalam novel ini tidak terkesan padat dan rapat. Mungkin karena inilah ukuran novel ini menjadi lumayan tebal. Namun hal itu lebih baik bagi saya daripada ukuran bukunya lebih tipis, tapi ukuran huruf dan tata letak isinya malah menyakitkan mata.

Dan seperti yang telah saya sebutkan di awal, gambaran besar novel ini lebih bercerita tentang arti kehidupan. Jika harus dipecah-pecah, novel ini akan berbicara tentang tiga tema: cinta dan hubungan antarmanusia, hubungan manusia dengan Tuhannya, dan feminisme.

Dari ketiga tema tersebut, cinta dan hubungan antarmanusia lah yang paling mendominasi di novel ini. Dari awal hingga akhir cerita kita akan selalu bertemu dengan tema ini. Di awal cerita saja kita akan menemui bagaimana hubungan Jane dengan keluarga bibinya. Kita juga akan merasakan bagaimana pedih dan suramnya masa kecil Jane karena novel ini ditulis dari sudut pandang orang pertama, yaitu dari sudut pandang Jane sendiri. Pemilihan sudut pandang inilah yang membuat novel ini menarik dan berhasil. Dengan penceritaan dari sudut pandang Jane, mau tidak mau kita juga harus menyelami dan mengekplorasi pemikiran-pemikiran dan perasaan-perasaan Jane. Dari pemikiran-pemikiran dan perasaan-perasaan Jane itulah kita nantinya akan diajak menyelami tema lain, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan dan feminisme. Karena pemilihan sudut pandang dan eksplorasi pemikiran dan perasaan Jane sebagai seorang wanita, tidak heran jika novel ini disebut sebagai influential feminist text.

Dengan sudut pandang penceritaan seperti itu, sebenarnya tidak terlalu sulit menebak hal-hal yang akan terjadi selanjutnya. Karena kita tahu semua apa yang dipikirkan dan dirasakan Jane. Apalagi alur cerita novel ini bersifat progresif dengan plot yang linier. Contohnya bisa kita ambil dari beberapa babak kehidupan Jane. Ketika masih tinggal bersama bibinya, Jane menggambarkan betapa dia benci pada bibi dan sepupu-sepupunya. Di sini saya sudah menebak bahwa Jane nantinya akan pergi dari rumah bibinya. Begitu pula dalam perasaan cinta dan hubungannya dengan Mr. Rochester. Tapi bukan berarti novel ini menjadi tidak menarik lagi karena predictable, justru yang menarik dari novel ini adalah proses-proses menuju apa yang kita prediksikan itu. Dari contoh di atas kita pasti akan bertanya-tanya: Bagaimana caranya ya, Jane bisa keluar dari rumah bibinya? Kok bisa ya, Jane menjalin cinta dengan majikannya? Prosesnya seperti apa ya? Inilah yang menurut saya merupakan salah satu magnet dari novel ini.

Tokoh-tokoh dalam novel ini pun tidak terlalu banyak dan bikin pusing pembacanya. Sang protagonis dan tokoh utama tentu saja Jane Eyre. Jane adalah seorang anak yatim piatu yang digambarkan terus berkembang di dalam novel ini. Ketika beranjak menjadi seorang gadis, Jane tidaklah digambarkan sebagai gadis yang cantik. Justru dia digambarkan sebagai gadis biasa, tetapi memiliki semangat yang tinggi untuk belajar, berjuang, dan bekerja. Dalam perkembangannya Jane juga digambarkan sebagai gadis Kristen yang taat dan memiliki rasa kemandirian yang kuat.

Sedangkan tokoh-tokoh lain paling enak jika dijabarkan dalam hubungan antartokoh. Hubungan-hubungan antartokoh dalam novel ini juga tidak terlalu rumit dan memiliki fokus tersendiri di setiap babak kehidupan Jane. Contohnya di awal cerita kita akan menemui hubungan Jane dengan keluarga Reed, yaitu Sarah (bibinya) dan ketiga sepupunya, John, Eliza, Georgiana. Hubungan Jane dengan keluarga Reed ini bisa dibilang mirip dengan cerita-cerita klasik tentang hubungan antara anak dan ibu tiri⎯yang sama sekali tidak harmonis. Banyak sekali konflik di antara mereka yang menyebabkan Jane pergi dari rumah keluarga Reed. Karena itulah bagian awal novel ini begitu suram. Kemudian ketika Jane bersekolah di Lowood, kita akan diajak untuk fokus pada hubungan antara Jane dengan penghuni sekolah, terutama dengan Maria Temple (gurunya) dan Helen Burns (sahabatnya). Suasana di sini menjadi lebih hangat dan ceria. Suasana seperti itu mengingatkan saya pada suasana yang dibangun Enid Blyton dalam serial Malory Towers.

Kepindahan Jane ke Thornfield Hall lagi-lagi membuat suasana cerita dan hubungan antartokoh berubah. Suasana menjadi semakin hangat dan lebih seperti kekeluargaan. Hubungan Jane dengan muridnya (yang merupakan anak asuh Mr. Rochester), Adele, benar-benar harmonis. Bahkan mereka berdua saling menyayangi. Hubungan Jane dengan kepala rumah tangga/pengelola rumah, Mrs. Fairfax, dan pelayan-pelayan di Thornfield Hall juga sangat baik. Dan yang paling unik tentu saja hubungan Jane dengan majikannya, Mr. Rochester. Mr. Rochester sendiri bukanlah seorang pria yang tampan. Justru dia adalah seorang pria berusia 40-an tahun dengan ekspresi wajah yang keras dan bersikap dingin. Sikapnya sendiri bisa dibilang ketus, kasar, angkuh, acuh, dan blak-blakan [dari percakapannya dengan Jane di halaman 181-193]. Karena itu kisah cinta antara sepasang manusia ini benar-benar unik dan (justru) tulus. Tapi janganlah mengira perjalanan kisah cinta mereka akan semulus permukaan sirkuit balap. Perjalanan kisah cinta mereka justru penuh rintangan dan lika-liku, mulai dari masalah status sosial sampai perbedaan prinsip.

Hambatan-hambatan perjalanan cintanya bersama Mr. Rochester itulah yang sekali lagi membuat Jane menemui babak baru dalam kehidupannya. Kali ini Jane bertemu dan menjalin hubungan yang baik dengan kakak-beradik Rivers: St. John, Diana, dan Mary. Dua tema lain yang telah saya singgung sebelumnya, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan dan feminisme, juga menjadi semakin terasa di bagian ini. Di bagian ini sosok Jane menjadi lebih religius dan sering menyandarkan kehidupannya pada Tuhan. Dialognya dengan St. John yang sering terjadi di bagian ini juga lebih bernuansa religius karena St. John adalah seorang pendeta dan misionaris. Tapi, sebenarnya tema hubungan manusia dengan Tuhan sudah muncul jauh di awal bagian buku ini, yaitu ketika Jane masih bersekolah di Lowood. Tema ini sudah kita rasakan pada dialog antara Jane dan Helen Burns:

“Tapi kau akan pergi ke mana, Helen? Bisakah kau melihatnya? Apakah kau tahu?”
“Aku percaya. Aku punya iman. Aku akan pergi menghadap Tuhan.”
“Di mana Tuhan? Apa Tuhan itu?”
“Penciptaku dan penciptamu, yang tak pernah menghancurkan apa yang diciptakan-Nya. Aku sepenuhnya bersandar pada kuasa-Nya, dan percaya penuh pada kebaikan-Nya. Aku menghitung jam demi jam sampai tiba waktunya aku kembali kepada-Nya, dan menghadap hadirat-Nya.”
 [halaman 122]

Karena setelah episode di Lowood kita diajak Bronte pindahsetting ke Thornfield Hall, maka tema ini seolah-olah “terkubur” oleh kehidupan dan kisah cinta Jane di Thornfield Hall. Dan tema ini kembali diangkat oleh Bronte ketika kondisi Jane kembali memprihatinkan, seolah-olah Bronte ingin menegur dan mengingatkan kita bahwa kita seharusnya selalu mengingat Tuhan dalam keadaan apapun.

Sedangkan untuk tema feminisme, sepertinya Bronte ingin menunjukkan bahwa di waktu itu wanita bisa mandiri⎯sekaligus merupakan kritik sosial. Patut diingat bahwa novel ini ditulis pada zaman Victoria di mana kultur masyarakatnya sangat patriarkal. Kesetaraan gender bukanlah hal yang populer di masa itu. Jane sudah menyuarakan hal yang berbau feminisme sejak bersekolah di Lowood, di mana dia dengan berani menyangkal kebohongan yang ditudingkan Mr. Brocklehurst (bendahara sekolah) pada dirinya. Dalam hubungannya dengan Mr. Rochester pun dia selalu berusaha agar tidak terlalu tergantung pada Mr. Rochester. Bahkan dia sering beradu argumen dengan Mr. Rochester. Dan yang paling terasa adalah ketika dia menolak keluarga Rivers untuk merawatnya terus-menerus dan menuntut St. John Rivers agar dia dicarikan pekerjaan karena dia ingin menjadi wanita yang mandiri. Kampanye feminisme Bronte melalui novel ini pun menuai hasilnya karena gerakan feminisme menjadi marak di Inggris pada masa awal abad XX. Satu hal lagi yang menguatkan alasan kenapa novel ini disebut influential feminist text.

Di samping itu semua, gaya bercerita yang seperti mengajak berinteraksi dengan pembaca (dalam novel ini Bronte sering menggunakan kalimat interaksi semacam Mari kugambarkan di sini, pembaca… atau Dan, pembaca, apa kalian…) membuat novel ini tidak seperti sebuah karya fiksi biasa. Saya merasakannya seperti membaca sebuah autobiografi (untuk yang ini mungkin selera saya dan Anda bisa saja berbeda). Perasaan seperti membaca autobiografi itu semakin terasa ketika saya menemukan cukup banyak lokasi/tempat yang namanya disensor dalam novel ini. Jadi ada beberapa tempat/lokasi yang hanya ditulis “S⎯” atau “-shire” saja. Aneh, kan? Mengingat ini hanya sebuah karya fiksi. Dan setelah saya googling tentang novel ini, ternyata judul lengkap novel ini dalam edisi pertamanya adalah Jane Eyre: An Autobiography. Mungkin penyensoran itu sengaja dilakukan Bronte agar aura autobiografi semakin terasa dalam novel ini.

Selain itu, ada satu fakta menarik tentang novel ini yang mungkin jarang kita ketahui. Sebenarnya Bronte menggunakan nama pena Currer Bell untuk novel ini. Bukti hal tersebut bisa kita lihat pada halaman judul edisi pertamanya. Kemudian saya juga menyadari ada scene dalam buku ini yang terinspirasi dari kisah nyata kehidupan Bronte, yaitu saat wabah tifus melanda Lowood sehingga merenggut nyawa Helen. Ternyata scene itu mirip dengan wabah tuberkulosis yang melanda sekolahnya, Clergy Daughters’ School, yang juga menyebabkan kematian pada dua kakaknya, Maria dan Elizabeth.

Dan jika dilihat dari tahun terbitnya, sepertinya Bronte juga terinspirasi oleh kesuksesan Pride and Prejudice yang lebih dulu terbit pada tahun 1813. Semangat feminisme yang diusung Jane Austen dalam novel tersebut sepertinya menular pada Bronte untuk menuliskan semangat yang sama pada Jane Eyre⎯meski Bronte sendiri menganggap Pride and Prejudice mengecewakan. Selain itu, Jane Eyre juga merupakan novel romantis bertendensi religius. Selain karena menyinggung sisi religi seperti yang saya jelaskan sebelumnya, ada cukup banyak kutipan-kutipan dan catatan kaki yang dikutip dari ayat-ayat Alkitab di dalam novel ini. Mungkin novel lain yang mirip dengan hal tersebut adalah Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. Dua novel tersebut mungkin bisa dibaca sebagai pembanding untuk novel ini.

Secara keseluruhan, novel ini sangat recommended bagi penikmat sastra klasik dan penikmat kisah romantis. Charlotte Bronte berhasil menghadirkan sebuah kisah manis tentang cinta dan apakah hakikat dari cinta itu. Novel ini juga mengajarkan seperti apa cinta sejati itu; sebuah cinta yang benar-benar tulus dari dalam hati tanpa memandang fisik dan status sosial. Novel ini juga menjawab asumsi yang saya sebutkan di awal, bahwa novel ini pasti akan memberikan banyak hal selain masalah romantisme percintaan semata. Novel ini mengajarkan agar kita selalu romantis dengan kehidupan kita; selalu belajar, berjuang, bekerja keras, dan mensyukuri apa yang kita punya. Novel ini juga mengingatkan kita agar hubungan kita dengan Tuhan harus senantiasa romantis⎯dalam keadaan apapun! Seperti nasihat yang (mungkin) sudah sering kita dengar: Manusia hanya bisa berjuang, berusaha, dan berdoa, tetapi Tuhan yang menentukan hasilnya.

Jane Eyre
oleh Charlotte Bronte
Penerjemah: Lulu Wijaya
Gramedia Pustaka Utama; Cetakan I, Oktober 2010
Softcover; 688 halaman; 13,5 x 20 cm
ISBN: 978-979-22-6310-7

My Rating: 4/5

4 thoughts on “Sebuah Autobiografi tentang Cinta, Religi, dan Semangat Feminisme

  1. Saya setuju dengan Charlotte, Pride & Prejudice mengecewakan😀 Walaupun sama-sama novel romance, bagi saya Jane Eyre lebih “kaya” karena bukan hanya berbicara soal cinta, tapi juga bagaimana yakin terhadap diri sendiri. Karakter Jane yang kuat walaupun ia dibenci dan terus dirundung malang mengajarkan pembaca untuk tetap teguh, apapun yang terjadi dalam hidup.
    Senang rasanya kalau novel favorit saya ini juga bisa dinikmati kaum adam.:)

    • saya sendiri belum pernah baca Pride and Prejudice, jadi belum bisa membandingkan.😀
      itu saya hanya mengutip kritik Charlotte terhadap Pride & Prejudice.
      menurut saya juga Jane Eyre ini sangat memotivasi jika mencermati kisah hidup Jane.

  2. saya tau novel ini awalnya setelah membaca serial Princess Diaries (lupa seri yang keberapa, yang saya ingat waktu itu Grandmere Princess Mia menyuruhnya membaca Jane Eyre) dan setelah hunting2 ke toko buku, tetap belum nemu-nemu sampai sekarang. Baca review disini bikin saya makin berambisi untuk baca novel ini *desperate banget kedengarannya :D*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s