Memoar Sang Maestro tentang Jalan Raya Pos

Selayang Pandang

Herman Willem Daendels. Dia adalah salah satu nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang paling saya ingat sejak bersekolah di bangku SD. Kenapa? Tentu saja karena prestasi dan warisannya yang sangat fenomenal, yaitu jalan raya sepanjang 1.000 km yang membentang dari Anyer sampai Panarukan. Apalagi jalan raya tersebut masih dapat kita telusuri saat ini dan secara tidak resmi dinamakan/dikenal sebagai Jalan Daendels. Tak heran jika Daendels adalah salah satu dari 71 Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang paling mudah “dikenang”.

Sayangnya tidak banyak literatur yang membahas detail pembangunan jalan raya yang sangat fenomenal itu. Bahkan mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa pembangunan jalan raya tersebut adalah salah satu bentuk genosida paling mengerikan dalam sejarah. Hal itulah yang menyebabkan Pram tergugah untuk menuliskan buku ini. Pram mencoba menjabarkan pada kita sisi kelam dari pembangunan jalan raya tersebut⎯di mana pembangunan tersebut menumpahkan begitu banyak keringat, air mata, dan darah para anak bangsa.

Keinginan Pram untuk menuliskan buku ini sendiri baru terpenuhi di usia senjanya. Buku ini ditulis Pram pada tahun 1995, tapi entah kenapa diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 2005. Meski begitu kita pantas bersyukur bahwa buku ini bisa terbit dan masih bisa kita nikmati sampai saat ini. Selain karena topiknya yang jarang dibahas, buku ini adalah salah satu karya terakhir Pram sepanjang hidupnya.

Ulasan

Judul buku dan sinopsis yang terpampang di kover belakang buku ini membuat saya langsung menaruh ekspektasi tinggi pada buku ini. Dari beberapa karya Pram dan buku tentang Pram yang saya baca, saya jadi tahu seperti apa gaya penulisan Pram dan tendensi tulisan-tulisannya. Dari situ saya membuat perkiraan bahwa buku ini berisi kritik-kritik tajam Pram terhadap proses pembangunan Jalan Daendels. Entah itu dari sisi ekonomi, politik, sosial, maupun kemanusiaan yang selalu menjadi ciri khas Pram dalam karya-karyanya. Dan ekspektasi saya tersebut ternyata terlalu tinggi! Isi buku ini ternyata tidak semenggiurkan yang ditawarkan sinopsis di kover belakang, yang berkata bahwa buku ini adalah sebuah kesaksian tentang peristiwa genosida kemanusiaan.

Meski begitu buku ini masih memiliki daya tarik untuk dibaca karena kritik-kritik tajam ala Pram tetap hadir dalam buku ini. Beberapa fakta sejarah yang mungkin jarang kita dengar juga disajikan oleh Pram secara lugas dalam buku ini. Selain itu, buku ini juga merupakan sebuah memoar karena pada dasarnya menceritakan pengalaman-pengalaman Pram dalam menyusuri jalan raya sepanjang 1.000 km tersebut⎯di mana Pram juga secara lugas menjelaskan bermacam bentang alam di sepanjang jalan tersebut. Sehingga buku ini pun tidak hanya tampil sebagai sebuah memoar dan buku sejarah, melainkan juga sebagai sebuah buku yang sarat akan wawasan geografis.

Buku ini memang berukuran mini untuk ukuran sebuah buku sejarah⎯hanya memiliki ketebalan 148 halaman. Tulisan Pram dalam buku ini hanya sampai pada halaman 128. Sedangkan sisanya adalah tulisan dari Koesalah Soebagyo Toer⎯adik Pram⎯tentang riwayat singkat Daendels. Buku ini juga tidak dibagi-bagi ke dalam beberapa bab, melainkan terbagi ke dalam sub-bab di mana judul setiap sub-bab adalah nama-nama kota yang dilewati jalan raya pos⎯mulai dari Anyer, Cilegon, Banten, Serang, Tangerang, dan seterusnya sampai Panarukan.

Dengan format penulisan seperti itu, Pram menceritakan kesan dan pengalaman pribadinya dalam setiap kota yang pernah disinggahinya sepanjang jalan raya tersebut. Pram juga tidak ketinggalan menjelaskan kondisi dan letak geografis kota-kota tersebut. Kemampuan Pram untuk menceritakan hal tersebut tak ubahnya seperti seorang ahli geografi. Selain itu Pram juga memberi sejarah singkat kota-kota tersebut, mulai dari asal mula nama hingga bagaimana kota tersebut berdiri serta perannya di masa lalu. Misalnya, “Tangerang” sebagai nama tempat adalah ejaan yang salah sebagai hasil warisan Belanda. Sebab pengucapan dan penulisan “Tangerang” yang tepat adalah “Tanggeran”. Selain itu, Tangerang di masa lampau ternyata terkenal sebagai produsen kecap kelas wahid dan penghasil kerajinan topi anyaman bambu yang mendunia [halaman 40-41]. Porsi inilah yang sebenarnya lebih mendominasi di buku ini. Pram seakan-akan malah lebih fokus menjabarkan sejarah lokal dan informasi geografis setiap kota.

Rute Jalan Raya Pos

 

Lalu, di mana porsi kritik-kritik Pram yang menjadi ciri khasnya?

Meski tidak terakumulasi di satu bagian, Pram masih setia untuk melontarkan kritik-kritik tajam dalam buku ini. Dalam buku ini secara garis besar Pram memberikan kritikan terhadap empat hal, yaitu sosok dan latar belakang Daendels, genosida terhadap orang pribumi, rezim Orde Baru, dan neokolonialisme.

Herman Willem Daendels

Kritik Pram pada sosok Daendels sendiri dimulai dengan latar belakang Daendels. Perlu diketahui bahwa Daendels bukanlah wakil Kerajaan Belanda “asli” di Hindia Belanda, melainkan wakil Kerajaan Belanda di bawah Kekaisaran Prancis. Sebab pada saat itu Belanda dipimpin oleh Louis Napoleon⎯adik Napoleon Bonaparte⎯yang dijadikan raja di negeri itu oleh kakaknya. Louis Napoleon inilah yang mengutus Daendels ke Hindia Belanda sebagai gubernur jenderal. Bisa dibilang Daendels condong lebih dekat ke pihak Prancis daripada Belanda. Bahkan Daendels sendiri adalah pengagum Napoleon. Karena itulah Daendels ingin merombak Hindia Belanda dengan menerapkan semboyan Revolusi Prancis, yaitu liberte, egalite, fraternite.

Tapi, bagaimana kenyataannya? Nol besar! Pram sendiri sampai mengatakan bahwa Daendels adalah orang yang goblok. Sang gubernur jenderal dinilai Pram sebagai administrtor yang gagal. Kariernya di bidang militer pun tidak meyakinkan. Dalam buku ini Daendels juga digambarkan sebagai orang yang berhati baja dan berkepala angin, dan tak punya kekuatan menghadapi argumentasi⎯bahkan sampai mengancam untuk menembak mati lawannya dalam berargumentasi.

Gambaran sosok Daendels itu membuatnya memerintah Hindia Belanda dengan tangan besi. Puncaknya adalah ketika dia “memaksa” rakyat pribumi untuk membangun jalan raya pos. Tentang pembangunan ini Pram juga menyingkap satu fakta bahwa Daendels hanya membangun sebagian jalan raya pos. Sisanya dia hanya memerintahkan untuk memperbaiki dan melebarkan saja. Dan di sini Pram juga menuding bahwa pemerintah Hindia Belanda untuk kesekian kalinya melakukan genosida terhadap rakyat pribumi lewat praktik pembangunan jalan raya pos ini. Selanjutnya kita juga dapat membaca kritikan Pram terhadap genosida lain yang dilakukan Belanda, seperti yang dilakukan J.P. Coen, Van den Bosch, dan Westerling.

Dalam kritik tersebut Pram juga membawa nama salah satu “musuh” besarnya, yaitu rezim Orde Baru. Di samping genosida yang dilakukan oleh pihak asing tersebut, Pram mengingatkan bahwa genosida terbesar terhadap rakyat pribumi justru dilakukan oleh anak bangsa sendiri. Bahkan genosida itu memberikan angka yang besar, yaitu sekitar lebih satu juta nyawa anak negeri lenyap hanya untuk memuluskan berdirinya sebuah rezim. Tak lupa Pram juga sedikit menceritakan pengalamannya bersama tahanan politik lain di masa Orde Baru yang mendapat perlakuan tidak adil. Dan di bagian lain Pram juga menyinggung bahwa Orde Baru adalah antek neokolonialisme yang menjerat negeri ini.

“… Eropa⎯kemudian meluas menjadi Barat⎯melakukan penjajahan baru atas bangsa-bangsa non-Eropa, non-Barat, melalui neo-kolonialisme: negara-negara non-Barat tetap diperlakukan sebagai perdagangannya, dan kekuasaan setempat diperlakukan sebagai satpam semata untuk menjaga kepentingan pasar mereka. … Dan dengan kekayaan, kekuatan, dan kemajuannya, mereka menjerat kurbannya dengan hutang luar negeri dan diharapkan sampai dunia kiamat, mungkin juga sampai setelah itu, di akhirat.” [halaman 45-46]

“Bukan kebetulan bila negara-negara penjajah atau bekas penjajah di Dunia Utara tidak menyukai Soekarno, apalagi antek-anteknya di dalam negeri Indonesia sendiri, yang hidup dari kesetiaannya pada bekas majikan. Itu sebabnya sampai sekarang pun semua anti-Soekarno digabung jadi satu ikatan masih tetap tanpa arti di hadapan Soekarno, sekali pun berhasil dibikin almarhum sebagai tahanan Orde Baru.” [halaman 66-67]

Di samping bahasannya yang serius, Pram ternyata juga mampu menyelipkan hal-hal jenaka dalam buku ini. Ternyata cukup banyak pengalamannya yang menggelikan yang diceritakan dalam buku ini. Bahkan saya sampai dibuat tertawa terpingkal-pingkal oleh salah satu pengalamannya di Cirebon:

“Belum lagi membaringkan badan perutku melintir. Piket menunjukkan tempat kamar kecil. Tempat itu gelap tak tembus pandang. Kaki menggerayangi tahta kakus. Begitu mendapatkan ketinggian langsung nongkrong. Aneh, barang buangan itu jatuh memantulkan bunyi minor. Membersihkan diri pun tangan gerayangan mencari sumur. Dan waktu membasuh itu korek logam itu jatuh dari kantong celana. Curiga pada suara minor aku kembali ke kakus. Sinar api korek itu? Masyaallah, ternyata yang kuberaki bukan tahta kakus tapi tungku dapur. Dan kotoranku jatuh ke dalam periuk rendah yang masih ada sisa singkong rebus.” [halaman 79]

Dan satu hal yang membuat saya kurang nyaman membaca buku ini adalah masih banyaknya penggunaan kata-kata yang tidak sesuai kaidah KBBI dan penempatan tanda baca yang kurang tepat. Sebaiknya penerbit melakukan penyuntingan lebih jauh untuk cetakan-cetakan mendatang agar buku ini lebih enak dibaca. Terlepas dari hal itu, buku ini sudah cukup untuk membuat khazanah ilmu sejarah dan geografi kita semakin luas.

 

 

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels
oleh Pramoedya Ananta Toer
Lentera Dipantara; Cetakan IX, April 2012
Softcover; 148 halaman; 13 x 20 cm
ISBN: 979-97312-8-3

My Rating: 3/5

2 thoughts on “Memoar Sang Maestro tentang Jalan Raya Pos

  1. Untuk bahasa, memnag ngak baku krn ini bhs ejaan lama dan justru disitulah ada romantisme seorang Pram. Sudah jadi gaya tulisannya shg tdk boleh diubah

    • Untuk tata bahasa dan penggunaan kata, saya setuju jika tidak diedit lebih jauh untuk menjaga orisinalitas gaya bahasa penulis. Sama seperti yang terdapat dalam buku2 Balai Pustaka. Tapi untuk kesalahan2 penempatan tanda baca sebaiknya diedit oleh editor agar lebih nyaman dibaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s