Hiburan Berkelas dari Sang Ahli Hukum

Ringkasan Cerita

Mark Sway tidak akan pernah menyangka bahwa perjalanannya ke hutan untuk mengajari merokok adiknya akan berbuntut panjang. Secara tidak sengaja ia dan adiknya, Ricky, menjadi saksi aksi bunuh diri seorang pengacara bernama Jerome “Romey” Clifford. Tidak hanya itu, Mark bahkan mendengarkan semua ocehan Romey menjelang kematiannya⎯di mana dalam ocehannya Romey sempat menyebutkan lokasi mayat senator AS yang dibunuh oleh Barry Muldanno⎯salah satu kliennya. Informasi itu menjadi sangat penting karena kasus pembunuhan sang senator menemui jalan buntu. Tanpa bukti mayat sang senator, jaksa tidak dapat menuntut Barry Muldanno lebih jauh. Sejak itulah Mark menjadi anak yang paling diburu di Memphis.

Situasi itu membuat Mark pada posisi yang serba salah. Ia dituntut untuk memberitahukan lokasi mayat sang senator oleh jaksa yang menangani kasus tersebut, Roy Foltrigg. Tapi, di sisi lain ia tidak bisa melakukan hal tersebut karena mengkhawatirkan keselamatan keluarganya. Apalagi setelah kejadian bunuh diri Romey adiknya mengalami shockberat dan harus dirawat di rumah sakit. Ditambah lagi dengan ibunya yang kehilangan pekerjaan dan rumahnya ludes dibakar mafia semakin memperberat bebannya. Karena tidak tahan dengan tekanan-tekanan yang dihadapinya, ia pun menyewa pengacara. Meskipun pada awalnya hanya iseng, tapi ia menemukan juga pengacara yang dirasanya cocok, yaitu Reggie Love. Apalagi pengacara ini tidak mata duitan, dengan uang muka satu dolar saja Reggie sudah resmi mewakili Mark.

Bersama-sama mereka mencoba memecahkan situasi tersebut. Mereka tidak ingin menghalangi penegakan hukum, tapi mereka juga tidak ingin nyawa mereka melayang. Tekanan yang bertubi-tubi itu harus mereka hadapi, mulai dari pers, jaksa wilayah, FBI, pemerintah federal, hingga ancaman-ancaman dari mafia yang terus mengintai mereka. Akankah mereka menemukan cara yang cerdas untuk membantu penegakan hukum sekaligus mengakali para mafia?

Ulasan

The Client adalah novel bergenre legal thriller keempat John Grisham. Novel ini pertama kali terbit pada Maret 1993 dan berhasil mencatatkan kesuksesan yang luar biasa. Novel ini bahkan sudah mengalami cetak ulang sebanyak 12 kali dengan tiras mencapai 2.135.000 eksemplar sebelum dilepas ke pasaran. Kesuksesan ini semakin menegaskan bahwa penulis yang bernama lengkap John Ray Grisham, Jr. ini adalah sebuah fenomena di dekade 90-an. Tak heran jika tiga dari empat novel pertamanya diangkat ke layar lebar dengan mengusung artis-artis beken⎯The Firm (1993) dibintangi Tom Cruise; The Pelican Brief (1993) dibintangi Julia Roberts dan Denzel Washington; dan yang terakhir The Client (1994) dibintangi Susan Sarandon dan Tommy Lee Jones. Selain dibintangi artis-artis beken, ketiga film tersebut sama-sama diadaptasi segera setelah novelnya diterbitkan.

Novelis kelahiran 8 Februari 1955 ini memang hanya memiliki spesialisasi di genre legal thriller. Kebetulan pula ia memiliki gelar di bidang hukum dan inspirasi untuk novel pertamanya pun ia dapatkan di pengadilan. Dan di novel keempatnya ini, novelis yang bukunya telah terjual 250 juta eksemplar di seluruh dunia hingga tahun 2008 ini mengangkat judul yang bisa dibilang khas bidang hukum, The Client (Klien). Mengingat pengacara merupakan salah satu profesi terpopuler di AS, judul ini adalah judul paling khas di antara empat novel pertama Grisham⎯bahkan salah satu yang paling khas dari keseluruhan novelnya. Dari judul novel ini Grisham seperti ingin menunjukkan penghargaan tertingginya kepada klien. Lagipula, bisa apa pengacara tanpa klien? Dan hal itu pun dipertegas jargon serial televisiThe Client yang (juga) diadaptasi dari novel ini: No case too big. No client too small.

Sosok klien yang diberi “kehormatan” oleh Grisham itu adalah Mark Sway, seorang anak lelaki berusia sebelas tahun. Seperti yang telah saya jelaskan di ringkasan cerita, Mark terjebak di situasi yang membuatnya dalam posisi serba salah untuk bertindak. Padahal jika kita mengesampingkan sisi emosi dan egoisme manusia, situasinya menjadi sangat simpel. Mark tinggal menceritakan segalanya ke FBI, ia dan keluarganya masuk program perlindungan saksi yang disediakan pemerintah, dan Muldanno pun masuk penjara. End of story.

Tapi, hal inilah yang membuat situasi yang dihadapi Mark jadi sangat ruwet: Human beings are not worthy of trust. It is human nature to lie, take shortcuts, to lose your nerve, get tired, make mistakes. Kalimat yang saya kutip dari film Patch Adams itu sepertinya benar-benar dijiwai Grisham dalam novel ini. Mark tidak mempercayai FBI dan pemerintah, karenanya ia menolak buka mulut pada FBI dan menolak program perlindungan saksi yang ditawarkan. Ia pun pada awalnya berbohong pada polisi saat ditanyai tentang kasus bunuh diri Romey. Ia hanya ingin tutup mulut, tapi dirinya dan keluarganya tetap aman. Begitu pun dari pihak Roy Foltrigg, pokoknya bagaimanapun caranya Mark harus membantu pemerintah mengungkapkan lokasi mayat Senator Boyd Boyette disembunyikan. Sementara dari pihak mafia, segala cara akan ditempuh agar Mark jangan sampai buka mulut. Lihat! Konflik egoisme antarmanusia lah yang menjadikan jalan cerita novel ini sangat menarik.

Di sinilah peran Reggie Love menjadi sangat vital karena sebagai pengacara Mark, ia yang menjembatani keinginan Mark dan keinginan pemerintah. Sebagai seorang profesional di bidang hukum, tentunya dia tidak ingin menghalangi proses penegakan hukum. Tapi ia juga tidak ingin Mark dan keluarganya terjerumus dalam bahaya. Di sinilah kelihaian dan perannya sebagai negosiator ulung ditampilkan Grisham. Reggie digambarkan sebagai pengacara yang cekatan dan efisien. Setiap Mark dan keluarganya mendapatkan “serangan”, tak butuh waktu lama baginya untuk memberikan serangan balik. Di awal-awal saja ia sudah membuat Mark terkesan dengan menghantam balik dua agen FBI yang berusaha menginterogasi Mark. Ia juga seorang pengacara yang percaya diri⎯padahal ia baru berprofesi sebagai pengacara selama lima tahun. Siapapun lawannya akan dihadapinya tanpa merasa inferior⎯bahkan jaksa bereputasi tinggi sekaliber Foltrigg pun bisa dibuat tak berdaya olehnya.

Benturan kepentingan dari dua pihak yang seharusnya berada di sisi yang sama inilah yang membuat konflik cerita novel ini unik. Mark dan Reggie yang seharusnya berada di sisi yang sama dengan Jaksa Foltrigg dkk. dalam mengungkap kejahatan Muldanno, malah dikonfrontasikan oleh Grisham. Jadi jika kita membaca novel ini, secara emosional kita pasti akan mencap pihak Jaksa Foltrigg dkk. sebagai antagonis. Padahal antagonis yang sebenarnya adalah kelompok mafia Muldanno. Tapi karena peran Foltrigg dkk. yang lebih dominan dalam “menyakiti” Mark, kita akan jadi sedikit melupakan Muldanno dkk. sebagai antagonis.

Dan karena novel ini bergenre legal thriller yang (pastinya) bersinggungan dengan hukum, tidak lengkap rasanya jika tidak menampilkan adegan-adegan debat di ruang sidang atau proses negosiasi di luar sidang. Menurut saya bagian-bagian inilah yang paling menarik dari novel ini. Sebab di sini kita akan melihat perbenturan berbagai macam karakter persona lewat dialog/debat yang ditampilkan Grisham. Sebagai contoh, karakter Reggie sebagai pengacara yang cekatan dan efisien akan terlihat ketika ia berkonfrontasi dengan dua agen FBI yang menginterogasi Mark. Foltrigg akan kelihatan karakter keras kepalanya ketika berdiskusi dengan staf-stafnya. Dan Mark akan terlihat sebagai anak yang cerdas, cerdik, dan memiliki tekad kuat ketika berbicara dengan Reggie, pihak Foltrigg, pers, dan bahkan ketika ditanya hakim dalam persidangan.

Karakter luar biasa Mark itulah yang membuat saya jatuh hati pada tokoh ini. Bahkan sebagai seorang anak berusia sebelas tahun, pola pikirnya sudah menyamai orang dewasa. Ia juga digambarkan sebagai anak yang mendapatkan nilai A dalam semua mata pelajaran kecuali matematika. Gambaran anak yang badung dan terlalu banyak nonton film juga melekat pada dirinya. Karena itulah ia sampai berani menolak program perlindungan saksi karena ia pernah menonton di film orang yang masuk program tersebut tetap saja dapat dibunuh oleh mafia. Dan meskipun kadang terlihat konyol, Mark hampir selalu menunjukkan kebulatan tekad yang luar biasa. Hal itu bisa dilihat dari jawaban-jawabannya di persidangan ketika ditanyai hakim pengadilan anak-anak setempat, Harry Roosevelt:

“Apakah Mr. Clifford menyebut nama Barry Muldanno kepadamu?”
“Amandemen Kelima.”
“Apakah Mr. Clifford menyebut nama Boyd Boyette kepadamu?”
“Amandemen Kelima.”
“Apakah Mr. Clifford mengatakan sesuatu tentang pembunuhan Boyd Boyette?”
“Amandemen Kelima.”
“Apakah Mr. Clifford mengatakan sesuatu tentang lokasi mayat Boyd Boyette?”
“Amandemen Kelima.”
“Kau tidak bisa memakai Amandemen Kelima, Mark.”
“Saya baru saja melakukannya.”
“Aku memerlukanmu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.”
“Ya, Sir. Saya menyesal.”
 [halaman 478-479]

Semua karakter itu, ditambah dengan beberapa kejahilannya dan cara-caranya mengelabui petugas, membuat Mark menjadi seorang protagonis yang sempurna. Namun, Grisham tak lupa untuk menambahkan karakter kekanakan pada diri Mark agar tampak tetap natural, seperti masih bersikap labil dan terkadang berkata hal yang hanya bisa dikatakan anak-anak. Ah, Anda memang genius dalam menggambarkan karakter tokoh-tokoh Anda, Mr. Grisham.

“Mari kita ke Ausralia, Mom. Mereka masih punya koboi asli di sana. Aku pernah melihatnya dalam film.” ~ Mark Sway

Dan jangan takut akan dipusingkan oleh istilah-istilah atau hal-hal teknis hukum yang njelimet dalam novel ini. John Grisham tidak kebablasan dengan memberikan kuliah hukum dalam novel ini kok. Meski ada beberapa istilah hukum dalam novel ini, seperti Amandemen Kelima dan Hak Miranda, hal itu bukanlah istilah hukum yang rumit. Kita tinggalgoogling saja jika ingin mengetahui definisinya. Orang nonhukum saya jamin masih bisa memahami novel ini secara utuh.

Lalu salah satu hal yang paling saya suka dari novel ini adalah alurnya yang progresif. Dan seperti novel-novel yang berlabel thriller pada umumnya, plot novel ini tidaklah runut. Sepanjang membaca novel ini kita pasti diajak Grisham menyelami situasi yang dihadapi (hampir) semua tokoh yang ada dalam novel ini. Dan secara terpisah-pisah, Grisham juga memberikan narasi latar belakang tokoh-tokoh utama dalam novel ini. Dengan begitu sudut pandang kita akan lebih luas dalam membaca novel ini dan lebih obyektif karena novel ini ditulis dari sudut pandang orang ketiga. Dan yang terakhir, Mr. Grisham mampu memberikan solusi yang memuaskan dan akhir yang sentimental untuk endingnovel ini. Penasaran? Silakan baca saja novel ini.

The Client: “John Grisham vs. Joel Schumacher”

Bukannya saya ingin mengadu antara sang penulis dan sang sutradara, yang saya adu hanyalah kedua karya mereka. Meskipun karya masing-masing adalah media yang berbeda, tetap saja rasa ingin mengadu/membandingkan itu menggelitik benak saya. Well, inilah susahnya menilai film adaptasi dari buku yang sudah pernah dibaca. Sedikit atau banyak, sepanjang menonton filmnya alam bawah sadar pasti akan membandingkan jalan cerita dan beberapa hal lain antara yang di film dan yang di buku. Ini juga terjadi ketika saya menonton The Client.

Film The Client disutradarai oleh Joel Schumacher dan dirilis di AS pada tanggal 20 Juni 1994 atau satu tahun setelah novelnya diterbitkan. Film ini didistribusikan oleh Warner Bros. dan dibintangi oleh Susan Sarandon (sebagai Reggie), Tommy Lee Jones (sebagai Jaksa Foltrigg), dan Brad Renfro (sebagai Mark). Seperti bukunya, bisa dibilang film ini juga sukses. Dengan budget “hanya” US$45 juta, film ini mampu meraup pendapatan US$117,6 juta di seluruh dunia. Dan puncak kesuksesan film ini adalah dinominasikannya Susan Sarandon dalam kategori aktris terbaik pada ajang Oscar (Academy Awards) 1995.

Film The Client menurut saya sendiri lumayan. Rating-nya di situs Internet Movie Database (IMDb) hingga saat ini juga tidak jelek-jelek amat, yaitu 6,6. Tapi saya akui ada beberapa hal yang membuat saya cukup terkejut ketika menonton film ini, di antaranya gambaran tokoh dan karakter Mark. Dalam film ini Mark digambarkan lebih badung dan kasar daripada di novel. Bahkan ia digambarkan berambut cukup panjang dan memakai anting di telinga kiri. Hal ini benar-benar tidak saya duga karena saya sama sekali tidak mengimajinasikan Mark seperti itu saat membaca versi novelnya. Tapi karakter Mark yang bertekad kuat masih tampak dalam film. Sehingga meskipun masih anak-anak, Mark mampu menunjukkan dominasinya dalam film ini.

Selain karakter Mark, saya juga merasakan karakter Reggie yang sedikit lebih dingin dalam film. Namun keefisienan Reggie masih tetap terasa, tapi sayangnya kecerdasan dan kelihaian Reggie dalam bersilat lidah dan bernegosiasi kurang menonjol dalam film. Tapi secara keseluruhan Susan Sarandon sudah menjalankan perannya sebagai Reggie dengan baik. Malahan satu adegan yang paling saya ingat dari film ini adalah jawaban dan ekspresi Reggie ketika menjawab pertanyaan Mark mengapa Foltrigg mendapat julukan Reverend. Dengan dingin dan acuh Reggie menjawab dengan pujian sarkastis: He quotes the scriptures in courts and knows The Bible better than God. Dan dinominasikannya Susan Sarandon dalam kategori aktris terbaik pada ajang Oscar 1995 menurut saya cukup layak.

Film memiliki durasi, dan inilah kelemahan film-film yang mengadaptasi cerita dari buku. Bisa dipastikan pasti ada beberapa adegan dalam buku yang dihilangkan atau bahkan diubah/dikondisikan dalam film tanpa mengurangi esensi aslinya. Dalam film ini contohnya situasi persidangan Mark yang kurang seru dan wibawa Hakim Roosevelt yang jauh berkurang jika dibandingkan di novel. Bagian akhir film pun sedikit berbeda dengan versi novelnya tapi masih memiliki esensi yang sama. Untunglah ending filmnya masih mampu menghadirkan nuansa sentimental seperti ending novelnya. Film ini pun menurut saya kurang kental nuansa hukum/legal-nya. Saya yang sebelumnya membayangkan aura filmnya akan mirip-mirip dengan serial TV Law & Order merasa kecele. Menurut saya filmnya lebih condong ke film drama. Dalam penilaian saya, versi filmnya tidak bagus-bagus amat dan tidak jelek-jelek amat.

Kesimpulan

Sebagai sebuah novel, The Client adalah sebuah karya yang luar biasa. Apalagi edisi yang saya baca sudah memiliki tampilan isi yang luar biasa rapi⎯padahal buku terbitan tahun 1995 lho. Selain itu penerjemahan edisi ini juga sempurna sehingga menjadikannya sangat enak dibaca. Bagi yang ingin mulai mencoba-coba genre legal thriller, novel ini bisa menjadi pilihan yang sempurna. Dan novel ini berhasil membuktikan bahwa dunia hukum pun bisa menghibur imajinasi kita.

Sedangkan sebagai sebuah film, The Client hanya bernilai rata-rata. Tidak banyak yang spesial dari film ini, hanya karakter kuat Mark dan peran Reggie dalam menghidupkan film ini yang menarik perhatian saya. Setidaknya film ini mampu memberikan saya sebuah visualisasi dan feel lain dari novel The Client, sebab bagaimanapun juga film ini diadaptasi dari versi novelnya. Bagi yang sudah menonton filmnya tapi belum membaca novelnya, saya sarankan untuk membacanya. Sebab kalian akan lebih merasakan nuansa hukum/legal-nya yang seharusnya menjadi roh film ini.

Ah, Mark and Reggie…. You are the best characters I’ve ever known. And I will always miss both of you.

 

 

The Client (Klien)
oleh John Grisham
Penerjemah: Hidayat Saleh
Gramedia Pustaka Utama; Cetakan IV; Juli 1995
Softcover; 768 halaman; 11 x 18 cm
ISBN: 979-605-070-6

My Rating: 5/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s