Legal Thriller, Military, and IT

Madelyn Chapman, CEO perusahaan piranti lunak terkemuka, tewas dibunuh di rumahnya. Dari bukti-bukti yang ada, pelaku pembunuhan tersebut mengarah kepada Emiliano Ruiz, mantan pengawal pribadi Chapman. Apalagi Chapman dibunuh dengan cara double tap⎯dua tembakan di kepala, ciri khas anggota pasukan elite militer di mana Ruiz pernah tergabung. Situasi makin rumit ketika Ruiz terbukti pernah melakukan affair dengan Chapman dan diduga membunuh sang CEO karena alasan cinta.

Tapi, Ruiz ngotot menyangkal melakukan pembunuhan itu kepada pengacaranya, Paul Madriani. Bagaimanapun caranya, Ruiz ingin agar Madriani bisa membebaskannya. Tapi anehnya, Ruiz tidak menceritakan semua informasi yang diinginkan Madriani. Ruiz bungkam jika ditanya masa lalu dan sejarah karier militernya.

Sementara itu Madriani yakin jika Ruiz dijebak dalam kasus pembunuhan itu. Penyelidikan-penyelidikannya mendukung hal itu. Hingga muncullah pertanyaan yang mengisi benaknya: siapa sebenarnya pembunuh Chapman sekaligus penjebak kliennya, dan apa motifnya? Pertanyaan itu ternyata membawanya ke sebuah rahasia militer yang bersinggungan dengan keamanan negara. Perusahaan Chapman diduga menyuplai militer sebuah program yang berfungsi memonitor (bahkan memata-matai) seluruh aktivitas online komputer di AS. Program itu sendiri menimbulkan kontroversi di masyarakat karena meski program itu bertujuan untuk menjaga kemanan negara, tapi program itu merampas privasi masyarakat pengguna komputer/internet. 

Dari sini Madriani menduga militer terlibat dalam pembunuhan Chapman. Tapi, Madriani menghadapi batu karang. Pihak militer tidak kooperatif, bahkan perusahaan Chapman juga tidak kooperatif menyediakan data-data yang dibutuhkan Madriani. Dengan bukti-bukti seadanya, Madriani mencoba membebaskan Ruiz dari tuntutan hukuman mati jaksa negara bagian. Dan mampukah Madriani membongkar dalang dan motif di balik pembunuhan Chapman?

 
***
 

Begitu mulai membaca novel ini, saya merasakan hawa-hawa blunder karena telah membeli novel ini. Pertama, karena saya mengira novel ini bergenre action thriller dari membaca sinopsis di kover belakangnya. Eh, tak tahunya novel ini bergenre legal thriller. Kedua, ternyata novel ini adalah seri kedelapan dari serial Paul Madriani yang ditulis oleh Steve Martini!

Genre yang ternyata legal thriller, tokoh utama yang berprofesi sebagai pengacara, dan kenyataan bahwa novel ini memiliki banyak prekuel membuat saya kurang nyaman dalam membaca bagian-bagian awal buku ini. Novel dengan genre legal thriller dengan lakon seorang pengacara hampir bisa dipastikan banyak berisi adegan-adegan debat dan adu argumen di pengadilan. Bagi saya, adegan-adegan seperti itu akan lebih nikmat dibaca jika mengetahui betul seluk-beluk karakter para tokoh, terutama sang lakonnya (baca: Paul Madriani). Di sini saya merasa sosok dan karakter Paul Madriani kurang terasa utuh. Latar belakang dan sejarah masa lalunya pun tidak tergambar dengan detail. Maklum juga sih, novel ini memiliki tujuh prekuel. Jadi wajar juga jika saya merasa “kaget” dengan tokoh Madriani karena saya memang langsung lompat membaca seri kedelapan. Meski begitu, kita masih bisa membaca novel ini tanpa perlu membaca prekuel-prekuelnya karena cerita novel ini sendiri tidak terikat dengan prekuel-prekuelnya.

Selain itu, kekurang-nyamanan saya dalam membaca novel ini adalah penggunaan sudut pandang ceritanya yang menggunakan sudut pandang orang pertama/aku (Madriani). Menurut hemat saya novel hukum seperti ini akan lebih bagus jika menggunakan sudut pandang orang ketiga agar sudut pandang kita sebagai pembaca lebih objektif. Kalau menggunakan sudut pandang orang pertama seperti ini, sudut pandang kita hampir pasti akan cenderung subjektif ke pihak Madriani dan kliennya. Karena protagonis dkk. itu hampir selalu pihak yang benar dan di novel ini pihak Madriani dkk. dituntut sebagai terdakwa, maka arah novel ini jadi gampang ditebak. Di samping itu, karena sudut pandang cerita yang seperti ini Madriani juga beberapa kali menyisipkan kisah tentang pamannya, Evo, yang menurut saya sangat tidak penting dan tidak ada hubungannya dengan jalan cerita. Sehingga nuansa sentimental yang coba disisipkan dalam novel ini justru malah bikin boring.

Meski begitu ada cukup banyak hal yang membuat novel ini tetap menarik dibaca. Karena bersudut pandang orang pertama, plot dan alur cerita novel ini sangat runut sehingga lebih mudah kita ikuti. Meski arah cerita novel ini cukup gampang ditebak, tapi plot-plot yang membawa kita ke arah tersebut tetap menarik untuk diikuti. Penyelidikan-penyelidikan serta penyatuan keping-keping puzzle yang dilakukan Madriani dan kawan-kawannya membuat aura detektif juga cukup terasa di novel ini. Selain itu cermatilah setiap kata dan kalimat dialog di setiap adegan persidangan dalam novel ini, benar-benar sebuah pertunjukan perang kata-kata yang mengesankan.

Steve Martini pun tak lupa menyuguhkan beberapa fakta dan wawasan di bidang teknologi informasi (TI), militer, forensik, balistik, dan ilmu-ilmu tentang persenjataan. Karena background kasus yang dihadapi Madriani bersinggungan erat dengan bidang TI, maka berbagai penjelasan tentang adwarespyware, dan bagaimana cara kerja komputer kita dimata-matai dijelaskan di novel ini. Begitu pula dengan penjabaran istilah double tap yang merupakan cara khas pasukan elite militer dalam melumpuhkan lawan. Ditambah lagi penjelasan-penjelasan saksi ahli dalam persidangan tentang sains senjata, analisis balistik, dan forensik membuat novel ini cukup berbobot, bernutrisi, dan merangsang untuk otak kita.

Sayangnya juga novel ini dicetak menggunakan ukuran font yang kecil. Mata saya cenderung cepat lelah ketika membaca novel ini, apalagi ketika sampai di bagian yang membosankan. Untunglah line spacing yang digunakan masih cukup longgar. Penerjemahannya juga sangat baik dan enak dibaca. Meski begitu ada beberapa istilah TI, militer, dan hukum yang tetap dipertahankan sesuai aslinya oleh penerjemah sehingga tidak menimbulkan istilah-istilah baru yang “menggelikan”. Kesimpulan saya, novel ini masih cukup layak untuk dinikmati penggemar legal thriller atau bagi mereka yang ingin mencoba merasakan genre ini.

Double Tap (Tembakan Ganda)
oleh Steve Martini
Penerjemah: Julanda Tantani
Gramedia Pustaka Utama; Cetakan I, Januari 2010
Softcover; 472 halaman; 13,5 x 20 cm
ISBN: 978-979-22-5042-8
My Rating: 3/5

2 thoughts on “Legal Thriller, Military, and IT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s