Warisan yang Serba Nanggung

Ini adalah pertama kalinya saya membaca buku karya V. Lestari. Jujur saja, saya mungkin tidak akan membaca karya-karyanya jika tidak ada acara Bubarkan Serapium (Buku Dibaca Bareng Rekan-Rekan Serapium) bulan April. Karena tidak familiar dengan V. Lestari, saya tanya-tanya sesepuh-sesepuh di Serapium untuk mendapatkan rekomendasi judul yang oke. Setelah tanya sana-sini dan tidak menemukan rekomendasi judul yang memuaskan, akhirnya saya cari-cari sendiri di Goodreads. Dan akhirnya saya memilih judul ini, Warisan Masa Silam.

Saya sendiri tertarik dengan buku ini karena sinopsisnya yang “menantang” pikiran saya. Salah satu hal yang dibahas di buku ini adalah sebuah warisan keluarga (yang cukup bikin penasaran) ternyata merupakan sebuah bukti kejahatan dari masa silam. Tak hanya itu, ada lagi warisan berupa gen jahat yang satu paket dengan warisan tadi! Wah, wah, wah! Pikiran saya langsung berkelana membayangkan bahwa cerita buku ini akan berjalan seru. Bahkan juga langsung membayangkan pasti bakalan ada bahasan scientific tentang gen dalam buku ini. Tapi, begitu menyelesaikan buku ini, saya sukses dibikin ter-wow, wow, wow! Buku ini benar-benar merangsang otak saya! Sayangnya merangsang untuk mengirimkan impuls tertawa. No offense untuk fans V. Lestari.

Awal cerita ini sebenarnya menggugah rasa penasaran saya. Diceritakan ada seorang anak lelaki berumur dua belas tahun bernama Kiki yang sedang bermain bola bersama teman-temannya di jalan. Secara tak sengaja ia menendang bola terlalu kencang dan masuk ke halaman sebuah rumah tua peninggalan zaman Belanda. Karena terpaksa, ia harus mengambil bola tersebut dengan masuk ke halaman rumah tersebut. Setelah celingak-celinguk kiri-kanan dan blusukan sana-sini, kelakukannya itu jadinya tidak hanya terpaku pada mencari bola semata. Justru ia malah nyasar ke basement rumah itu dan menemukan suatu hal yang tidak diduganya: sebuah peti berisi tengkorak dan tulang-belulang manusia!

Karena menemukan horor itu, Kiki menjadi panik dan membuatnya terjatuh dari tangga. Kakinya pun keseleo. Tak disangka-sangka, dirinya kemudian ditolong oleh penghuni rumah tersebut, Lala dan Bi Ani. Bahkan kakinya yang keseleo pun diurut oleh Bi Ani. Dan karena tak ingin dianggap maling, Kiki menceritakan semuanya kepada kedua penghuni rumah tersebut. Selanjutnya Lala berpesan pada Kiki agar tak menceritakan apa yang telah dilihatnya kepada siapapun. Kiki mematuhi pesan tersebut dan kemudian pulang dari rumah kuno itu karena dijemput ayahnya yang khawatir.

Dan dari sinilah petualangan Kiki dimulai. Sebab dua orang yang menolongnya tadi ternyata sudah cukup lama meninggal. Semua itu diketahuinya setelah ia berkenalan dengan Nana dan ayahnya, Sukri, yang merupakan pembantu di rumah tersebut. Dan jujur saja, dari sini pula saya menjadi sangat tertarik untuk membalik halaman-halaman buku ini lagi, lagi, dan lagi.

Pertama, karena saya tergelitik dan penasaran untuk mengetahui penjelasan logis adegan dua “hantu” yang menolong Kiki tadi. Kenapa saya mengaitkan dengan penjelasan logis? Sebab saya mengasumsikan buku ini bukanlah buku fantasi yang berkaitan dengan makhluk-makhluk magis/mistis. Saya menganggap buku ini adalah buku misteri ala detektif yang ceritanya berlandaskan sesuatu yang logis. Apalagi “hantu” yang dilihat Kiki tadi juga dilihat oleh ayah Kiki. Jadi pengalaman Kiki itu seharusnya bukanlah sebuah pengalaman spiritual yang bersifat personal. Ditambah lagi tidak disebutkan aura-aura mistis yang (seharusnya) melingkupi Kiki dan ayahnya ketika berinteraksi dengan Lala dan Bi Ani. Pokoknya auranya seperti berinteraksi dengan manusia biasa deh. Sayangnya penjelasan yang saya idam-idamkan itu tidak saya temui juga. Sehingga basic yang seharusnya bisa dikembangkan menjadi bahan investigasi lanjutan ini malah hanya menjadi plot irasional belaka. Memasukkan unsur mistis sih sebenarnya oke-oke saja. Tapi kalau sampai ditolong, diurut, dan berinteraksi dengan makhluk gaib (yang sudah pasti durasi pengalaman tersebut akan cukup lama), terlalu berlebihan rasanya. Ah, saya benar-benar kecewa dengan irasionalitas ini.

Kedua, saya juga tertarik dengan gen jahat yang dijanjikan buku ini. Tapi setelah saya menuntaskan buku ini, lagi-lagi saya kecewa dengan yang disuguhkan. Gen jahat yang digembar-gemborkan itu ternyata tidak digali secara mendalam. Malahan seperti aksesoris yang berguna membuka jalan cerita saja. Padahal pemilihan jenis gen jahatnya sebenarnya unik dan bisa dijadikan kajian secara scientific. Dengan sedikit riset secara mendalam saja mungkin buku ini bisa mirip-mirip dengan Third Twin-nya Ken Follett. Ah, lagi-lagi saya merasa dibodohi ekspektasi saya yang terlalu tinggi. Dan apakah gerangan sang gen jahat itu yang unik itu? Silakan dibaca saja buku ini, pasti kalian akan sedikit “takjub” dan geli sendiri ketika mengetahuinya. Saya sendiri masih merasa geli kok kalau mengingatnya.

Perkembangan jalan ceritanya sendiri malah sedikit melebar ke kisah cinta segitiga antara Kiki-Nana-Imelda. Imelda ini adalah kakak Lala yang tinggal di Belanda dan setahun sekali mengunjungi orangtuanya yang merupakan pemilik rumah kuno tersebut. Menurut saya, kemunculan Imelda ini merupakan salah satu bumbu penguat cerita buku ini. Dengan kemunculannya, kisah cinta dalam buku ini jadi lebih ramai dan detik-detik pengungkapan dan penjelasan warisan-warisan jahat yang diterima orangtuanya jadi lebih menarik diikuti.

Khusus kisah cinta segitiga Kiki-Nana-Imelda, saya merasa agak aneh juga mengikutinya karena mereka bertiga masih anak-anak. Umur Kiki dan Nana sekitar dua belas tahun, dan Imelda sedikit lebih tua dari mereka. Mereka digambarkan sebagai anak-anak masa kini, masing-masing dari mereka saja sudah punya ponsel sendiri kok. Gambaran kisah cinta mereka di sebagian besar buku inilah yang hampir selalu membuat saya geli sendiri membaca buku ini. Lucu juga rasanya membaca bagaimana Kiki dan Nana yang malu-malu kucing pegangan tangan, lalu Kiki yang berpaling pada Imelda karena Imelda cantik luar biasa, dilanjutkan peningkatan skill gombalan-gombalan Kiki kepada Imelda lewat sms atau telepon, dan puncaknya adalah ketika Kiki dan Imelda melakukan… dan ending hubungan mereka yang… ah, baca sendiri aja deh.

Duh, ini adalah sebuah pengalaman baru bagi saya membaca kisah cinta yang intens pada diri anak-anak. Karenanya saya jadi agak gimana gitu dengan buku ini. Di samping itu karakter Kiki yang super-kepo juga menjengkelkan saya. Ditambah lagi ia seperti tidak bisa membayangkan collateral damage dari setiap tindakannya demi memenuhi rasa keponya itu. Contohnya adalah ketika ia berusaha mengorek-ngorek hubungan antara peti dan gen jahat yang diwarisi ayah Imelda. Saat itu ia sama sekali tidak memikirkan keselamatan keluarganya sebagai akibat tindakannya itu. Pokoknya lanjut terus saja melakukan apa yang dimauinya tanpa rasa takut. Kalau itu disebabkan faktor dirinya yang masih anak-anak, wajar juga sih. Tapi menurut saya terlalu berlebihan juga. Kiki memang anak yang cerdas, tapi kecerdasan analisis risikonya masih kalah jauh dibanding Mark Sway di The Client.

Sekarang saatnya membahas hal-hal positif di buku ini. Buku ini sangat enak dibaca, bahasanya ringan dan santai. Meskipun buku ini cukup tebal, saya yakin kalian dapat menyelesaikannya dalam beberapa hari saja (kalau benar-benar fokus bacanya). Di samping itu buku ini juga mengandung nilai-nilai positif yang menyejukkan. Contohnya keharmonisan dan keceriaan keluarga Kiki yang tidak kalah dengan keharmonisan dan keceriaan Keluarga Cemara. Selain itu, jalinan cerita buku ini akan mengingatkan kita pada pepatah sedalam apapun mengubur bangkai, pasti akan tercium juga. Dan pesan moral lain yang juga ingin disampaikan V. Lestari adalah jadilah orang baik, karena orang baik temannya banyak.

Hal lain yang saya apresiasi adalah pemilihan nama-nama tokoh yang Indonesia banget. Nama-nama semacam Kiki, Sukri, Nana, Budiman, Fani, Ani, tentunya adalah nama-nama khas Indonesia. Nama-nama klasik yang mengingatkan saya pada cerpen-cerpen di majalah Bobo yang rutin saya baca satu setengah dekade lalu. Hal ini tentunya menjadi ciri khas dan daya tarik tersendiri di tengah-tengah maraknya nama-nama yang kebarat-baratan. Entah ini memang ciri khas V. Lestari atau tidak, saya tetap mengapresiasi hal ini.

Kesimpulannya, buku ini cocok dibaca sebagai bacaan ringan. Kalau sedang suntuk dengan bacaan berat dan ingin mencari hiburan dari sebuah bacaan ringan, mungkin buku ini bisa dicoba. Tapi ya itu tadi, ada beberapa hal-hal “nyeleneh” dari buku ini. Ibarat aliran sungai, buku ini adalah aliran sungai yang dangkal: enak untuk dipakai bermain-main air di atasnya. Tidak seperti aliran sungai yang dalam, yang bisa bikin kita kelepek-kelepek terhanyut dan tenggelam di dalamnya.

Warisan Masa Silam
oleh V. Lestari
Gramedia Pustaka Utama; Cetakan I, Januari 2013
Softcover; 672 halaman; 11 x 18 cm
ISBN: 978-979-22-9147-6
My Rating: 2/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s