Dunia Ini Bukanlah Sebuah Pasar Malam

Bukan Pasarmalam adalah salah satu karya awal Pram yang pertama kali terbit pada tahun 1951. Dalam sejarahnya, buku ini pernah diterbitkan oleh beberapa penerbit, salah satunya adalah Balai Pustaka. Larangan beredar pada tahun 1965 pun pernah menghiasi sejarah karya Pram yang satu ini. Karena ini adalah salah satu karya awal Pram, nuansa kritik sosial dan politik kurang terasa kental di dalamnya. Hal ini cukup bisa dimaklumi mengingat pada periode awal 1950-an itu Pram sedang berada di fase awal kedekatannya dengan Lekra dan baru berangkat menuju puncak ideologinya.Menurut saya, entah benar atau tidak, cerita buku ini didasari oleh salah satu babak kehidupan Pram sendiri. Buku ini sendiri diceritakan dari sudut pandang orang pertama yang menyebut dirinya sendiri “aku”, yang pulang menuju kampung halamannya di Blora untuk menjenguk ayahnya yang sedang sakit TBC. Pergolakan batin sempat dirasakan sang aku karena sebelumnya ia menuliskan surat bernada keras kepada ayahnya. Tapi, balasan surat dari ayahnya tanpa diduganya sangat bertolak belakang dengan surat yang ditulisnya. Begitu mendapat kabar bahwa ayahnya sakit, ia diliputi perasaan berdosa karena merasa bertanggung jawab atas keadaan yang menimpa ayahnya. Kemudian berangkatlah ia menuju Blora dan kisah yang dituturkan selanjutnya pun lebih banyak di seputaran tempat tersebut.

Beberapa hal yang membuat saya yakin bahwa kisah dalam buku ini didasari dari salah satu babak kehidupan Pram adalah sang aku yang berkampung halaman di Blora, sama dengan Pram. Kemudian setting cerita ini yang berada di zaman awal pasca-kemerdekaan yang saya tafsirkan di kisaran tahun 1950, di mana usia Pram saat itu sekitar 25 tahun. Hal itu dikuatkan dengan salah satu petikan dialog dalam buku ini: “Ya, Gus, rumahmu itu aku juga yang mendirikan dulu. Waktu itu engkau baru bisa tengkurap. Duapuluh lima tahun yang lalu!” Ditambah lagi dengan adanya penggalan dialog yang menyatakan kesamaan antara sang aku dan Pram yang sama-sama suka menulis: “Bagaimana kalau engkau menungguinya di rumahsakit? Dan kalau engkau ingin menulis, menulis saja di sana.”

Petunjuk-petunjuk itu semakin meyakinkan saya bahwa Bukan Pasarmalam ini adalah memoar Pram yang difiksikan. Dan karenanya kisahnya pun terasa sentimentil. Sepanjang membaca buku ini saya tersentuh dan bersimpati pada sang aku yang harus melihat kondisi ayahnya yang semakin buruk dari hari ke hari. Melihat perjuangan ayahnya untuk bertahan hidup dan melawan penyakit yang menggerogotinya, benar-benar mampu membuat mata saya berkaca-kaca. Detail yang diperlihatkan oleh sang aku tentang bagaimana kepayahan ayahnya untuk bernapas dan berbicara, benar-benar membuat saya terenyuh. Ditambah lagi dengan ungkapan perasaan sang aku yang merasa berdosa terhadap keadaan ayahnya dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Saya seakan diseret untuk masuk ke dalam jiwa sang aku, sehingga saya pun bisa merasakan bahwa sang aku adalah saya sendiri. Inilah yang membuat karya ini berbeda dengan karya-karya Pram lainnya, karya ini lebih menonjolkan sisi spiritualitas jiwa manusia.

Meski cukup berbeda dengan karya-karyanya yang terbit belakangan, Pram sudah tampak menyisipkan kritik dan kekecewaannya pada kondisi sosial politik saat itu. Di mana dengan gamblang dia menuliskan kekecewaannya pada para jenderal dan pembesar negeri yang di masa pra-kemerdekaan begitu serius memperjuangkan kedaulatan negara. Tapi kemudian berubah menjadi sibuk berebut kursi di kancah politik begitu kemerdekaan negeri ini tercapai.

Pram pun menyisipkan sebuah benang merah yang sama dengan karya-karyanya yang terbit belakangan, yaitu kemanusiaan. Buku ini membuat saya jadi merenungkan keberadaan orang-orang yang saya sayangi, entah keluarga maupun sahabat. Dari semua hubungan kita dengan orang lain, tak peduli dia kaya atau miskin, juragan atau buruh, hanya satu hal yang mampu menghubungkan hal tersebut: kemanusiaan. Dalam hubungan itu pula, pasti ada kalanya satu orang datang, satu orang pergi. Satu per satu. Entah karena suatu hal atau dipisah maut. Entah kapan pula, hal itu pasti akan terjadi. Itulah salah satu esensi hidup ini yang disampaikan Pram lewat buku ini. Dunia ini tidak seperti sebuah pasar malam di mana orang berduyun-duyun datang dan pergi. Dan itulah makna dari judul buku ini: Bukan Pasarmalam.

“Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang… seperti dunia dalam pasarmalam. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana….” ~ Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasarmalam

Bukan Pasarmalam
oleh Pramoedya Ananta Toer
Lentera Dipantara; Cetakan IX, Oktober 2010
Softcover; 104 halaman; 13 x 20 cm
ISBN: 978-979-3820-03-3
My Rating: 4/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s