Quo Vadis: An Intreview

Kawan, saya punya cerita. Beberapa waktu yang lalu saya didatangi KPK. Eit, jangan salah sangka! Saya tidak sedang berada di pusaran korupsi yang sedang ramai di negeri ini. KPK yang mendatangi saya ini bukanlah Komisi Pemberantasan Korupsi yang sedang jadi buah bibir di negeri ini, melainkan Komisi Pecinta Klasik yang merupakan KPK-nya negara sebelah, Negeri Dingawang. Saya juga kaget karena baru tahu ada negara bernama Negeri Dingawang, punya KPK pula! Dan usut punya usut, ternyata KPK-nya negara sebelah ini punya tugas menginvestigasi semua orang-orang di bumi yang menyukai hal-hal berbau klasik, termasuk buku. Apalagi kalau buku itu termasuk yang bikin ngawang. Wah, dijamin tambah seneng deh, KPK-nya negara sebelah!

Karena itulah saya disatroni tim KPK negara sebelah karena kebetulan kemarin saya baru selesai membaca buku Quo Vadis? karya Henryk Sienkiewicz. Bisa dibilang buku ini termasuk buku klasik, terbit pertama kali di akhir abad XIX. Selain itu buku ini termasuk ke dalam daftar 1001 Books You Must Read before You Die⎯yang konon katanya kumpulan buku spesialis bikin ngawang. Oleh sebab itu tim KPK negara sebelah mendatangi saya untuk mengorek pandangan saya tentang buku ini lewat wawancara. Dan jangan kaget pula jika suatu saat kalian pun mengalami pengalaman yang sama. Penasaran dengan wawancaranya? Let’s check it out! (Note: bagian awal wawancara saya cut di sini karena hanya basa-basi dengan tim KPK dan formalitas pengenalan identitas diri saya untuk keperluan database KPK. Identitas anggota tim KPK juga saya rahasiakan sebagai bagian dari klausul kontrak.)

Jadi, apakah Anda sudah pernah mendengar tentang buku ini sebelumnya?
Tidak. Saya pertama kali tahu ada buku ini dari thread 1001 Buku yang Harus Kamu Baca sebelum Kamu Wafat di Kaskus Serapium. Kalau tidak ada thread tersebut dan saya tidak bergabung di komunitas tersebut, saya tidak akan pernah tahu ada buku ini. So, thanks to Serapium!

Oke. Lalu apa yang membuat Anda tertarik dengan buku ini?
Saya suka buku bergenre historical fiction. Dan buku ini bergenre tersebut. Plus buku ini mengambil setting pada masa pemerintahan kaisar Romawi yang terkenal karena membakar Roma, Nero. Jadi saya pikir sepertinya menarik juga untuk mengeksplorasi buku ini.

Apakah Anda tahu siapa itu Henryk Sienkiewicz⎯penulis buku ini? Dan makna yang terkandung dalam judul buku ini?
Sebelum membaca buku ini, sama sekali tidak. Tapi begitu saya mencapai beberapa halaman dalam membacanya, saya penasaran dengan keduanya⎯Henryk Sienkiewicz dan Quo Vadis. Kemudian saya googling dan cukup surprisedengan apa yang saya temukan. Saya jadi tahu bahwa Sienkiewicz pernah menerima Nobel Sastra di tahun 1905. Dan yang paling mengejutkan adalah makna dari frasa Quo Vadis, yang ternyata memiliki nilai historis yang sangat religius.

Oh, ya? Apakah itu?
Jadi Quo Vadis ini sebenarnya sebuah pertanyaan yang dilontarkan Petrus, salah satu murid Yesus, kepada Yesus ketika Petrus melarikan diri dari Roma. Saat itu Petrus merupakan buronan pasukan Romawi karena dituduh menyebarkan ajaran sesat. Atas saran beberapa pengikutnya, Petrus melarikan diri dari Roma. Tapi di tengah jalan dia mengalami sebuah pengalaman spiritual, yaitu bertemu Yesus. Bertanyalah Petrus kepada Yesus, “Quo vadis (where are you going)?”. Kemudian dijawablah oleh Yesus, “Romam vado iterum crucifigi (I am going to Rome to be crucified again).”. Mendengar jawaban ini, Petrus kemudian balik arah menuju Roma kembali yang kemudian menyebabkannya dihukum salib oleh Romawi. Konon ada yang menyebutkan bahwa dia disalibkan secara terbalik. Mengetahui hal ini, saya kemudian menduga bahwa buku ini juga akan menyinggung hal-hal yang religius selain tinjauan historis. Dan dugaan saya tersebut memang tidak keliru.

Jadi selain unsur historis, buku ini juga diramu dengan unsur religi?
Ya. Bahkan juga diramu dengan sebuah kisah cinta. Menurut saya, buku ini kompleks. Selain kisah cinta, latar belakang yang didasari sejarah, dan unsur religi, Sienkiewicz juga memasukkan intrik politik di dalamnya. Jadi bagi pembaca yang menyukai unsur-unsur tersebut atau kombinasi unsur-unsur tersebut, buku ini akan menarik perhatian.

Tapi, apakah buku ini juga bisa dibaca untuk siapa saja?
Ya, saya yakin siapa saja pasti bisa menikmati buku ini. Bagi yang menyukai sastra, buku ini layak dibaca karena bahasanya memang indah⎯meski yang saya baca ini versi terjemahan, tetap tidak mengurangi keindahan tersebut. Bagi yang menyukai kisah romantis, kalian pasti akan terbuai oleh kisah Vinicius dan Lygia di buku ini. Siapa pun saya jamin bisa membaca buku ini⎯apalagi buku ini tidak bikin ngawang kok.

Lalu buku ini sebenarnya menceritakan apa?
Kalau menurut saya, pada dasarnya buku ini menceritakan kisah cinta Vinicius dan Lygia yang berlatar belakang di Romawi pada masa kekuasaan Nero. Itu kira-kira berada di sekitar tahun 64 M. Hanya saja Sienkiewicz melebarkan sayap cerita hingga menyentuh ranah politik dan agama. Vinicius ini adalah seorang perwira Romawi dan Lygia adalah seorang gadis yang merupakan anak angkat Aulus Plautius⎯seorang pensiunan perwira Romawi. Seperti kaum elite Romawi pada umumnya, Vinicius adalah penyembah dewa-dewa Romawi. Sedangkan Lygia adalah penganut Kristen yang taat. Masalah dimulai ketika Vinicius berniat meminang Lygia, sebab Lygia ini juga seorang tawanan perang Romawi. Jadi salah satu jalan yang harus ditempuh Vinicius untuk meminang Lygia adalah meminta izin Nero. Padahal Vinicius tidak ingin keberadaan Lygia diketahui Nero, sebab pasti Lygia akan diserobot Nero karena kecantikan Lygia ini memang luar biasa⎯bahkan digambarkan mengalahkan kecantikan Poppaea Sabina, istri Nero.

Wah, Nero ini mirip-mirip AF ya? Ha-ha-ha….
Lho, Anda kok tahu tentang AF juga?

Ah, never mind…. Silakan dilanjutkan.
Jadi Vinicius pun meminta bantuan Petronius, Sang Penilai Keindahan di Romawi yang merupakan sahabat sekaligus pamannya. Beberapa taktik pun dijalankan Petronius untuk membantu Vinicius. Kebetulan juga Petronius adalah salah satu orang kesayangan Nero. Niat Vinicius untuk menikahi Lygia hampir mencapai kesuksesan hingga muncul sebuah kekacauan. Berita tentang agama yang dianut Lygia mulai menyebar. Lalu Lygia juga difitnah oleh Poppaea. Pada saat itu umat Kristen memang berada di titik terendah⎯dianggap sebagai pengikut ajaran sesat yang tak berperikemanusiaan. Nero pun termakan hasutan ini. Diperintahkannya agar semua orang Kristen ditangkap, disiksa, dan dibunuh di arena gladiator. Bahkan ide gila untuk menyucikan Roma dengan cara membakarnya pun dilontarkannya. Dari sinilah cobaan hubungan Vinicius dan Lygia mulai berat. Intrik politik mulai disebarkan petinggi-petinggi Romawi dengan menyalahkan orang-orang Kristen atas terbakarnya Roma. Sementara itu, Petrus berusaha untuk menyelamatkan kaumnya dan membuat mereka tetap tabah menghadapi cobaan ini. Jadi jika ada pertanyaan apakah ada buku yang menyajikan sisi romansa cinta, politik, dan religius dengan porsi berimbang, maka buku ini jawabannya.

Penilaian Anda tentang alur cerita, karakter, atau yang lainnya mungkin?
Oh, iya. Untuk alur ceritanya menurut saya tidak menjadi masalah besar karena progresif. Sudut pandang penceritaannya dari orang ketiga pula. Jadi enak dinikmati. Untuk karakter-karakternya, harus saya akui bahwa Sienkiewicz genius. Kenapa? Karena di sini saya merasa tidak ada karakter yang benar-benar menonjol sisi protagonis maupun antagonisnya. Vinicius misalnya. Boleh lah dia disebut protagonis dalam cerita ini, tapi dia itu posesif sekali dan bisa bertindak kejam sehingga terkadang saya pun sebal padanya. Lalu Nero. Oke lah dia bisa dianggap antagonis karena dia kaisar yang lalim. Tapi begitu membaca karakternya di sini, saya malah merasa bahwa dia itu pandir dan saya malah merasa kasihan padanya. Lalu ada satu tokoh bernama Chilo yang saya benar-benar sebal setengah mati dengan tokoh ini. Eh, ternyata Sienkiewicz malah memberikan twist tak terduga pada tokoh ini yang bikin saya terharu.

Adakah tokoh/karakter favorit Anda dalam buku ini?
Ada. Dia adalah Petronius. Bagi saya, Petronius ini seorang moderat yang cinta damai, sangat menyukai seni dan keindahan, dan memiliki prinsip yang kuat.

Dan adakah yang Anda garis bawahi secara khusus dari buku ini?
Hmm… harus saya akui saya sangat menyukai kisah cinta Vinicius dan Lygia. Kalau dilihat-lihat sih memang kebanyakan penuh deritanya. Tapi entah kenapa hal itu membuatnya lebih romantis. Pengorbanan dan ketulusan yang ditunjukkan Lygia dan, terutama Vinicius, sungguh luar biasa. Kalau ada kalimat bijak cintailah pasanganmu karena Tuhan, ya Vinicius dan Lygia ini contohnya. Dan bukannya saya mendiskreditkan Romeo-Juliet, saya lebih suka kisah Vinicius-Lygia ini daripada Romeo-Juliet. Selain itu, nuansa religius dan kerohanian terasa kental dalam cerita ini. Mungkin karena umat Kristen menjadi subjek dan objek dalam buku ini. Ajaran untuk mencintai dan mengasihi sesama benar-benar menonjol di sini. Ketabahan dalam menghadapi penderitaan dan cobaan juga ditonjolkan oleh Sienkiewicz mengingat penderitaan umat Kristen menghadapi siksaan kaum Romawi diekspos secara gamblang. Dan satu lagi, kisah Quo Vadis yang saya sebutkan di awal tadi tak lupa disematkan Sienkiewicz ke dalam cerita. Well, tak heran jika buku ini berkontribusi membawa Sienkiewicz memenangkan Nobel.

Adakah quote favorit dari buku ini?
Umm… saya suka pada bagian nasihat Paulus kepada setiap orang: “Walaupun mereka memberikan semua hartanya kepada orang miskin, dan walaupun mereka punya kepandaian untuk mengungkap semua rahasia, tapi tanpa kasih semuanya bukan apa-apa. Semua bukan apa-apa kalau tanpa kasih yang penuh kesabaran, kelembutan, dan kemurahan hati, tidak membusungkan dada karena kemegahan, bisa menerima kesalahan orang lain, menahankan penderitaan dan meyakini segala-galanya, penuh harap dan mau menerima penderitaan.”

Jadi, penilaian Anda terhadap buku ini?
Buku ini perfect. Secara keseluruhan buku ini sangat enak dibaca. Di versi ini terjemahannya nyaman dibaca dan keindahan bahasa yang ingin ditampilkan Sienkiewicz juga tidak merosot drastis. Yah, meski di versi ini saya merasa terganggu dengan banyaknya foot note di hampir setiap halaman buku ini⎯yang membuat konsentrasi terpecah antara membaca cerita dan foot note. Tapi untungnya hal itu berhenti di halaman 50-an.

Kesimpulan Anda?
Buku yang sangat recommended, sangat layak masuk dalam daftar 1001 Books You Must Read before You Die, danfive stars for this book.

Oke. Well, thanks for your time, Sir. Wawancara ini saya akhiri di sini.
Ya, sama-sama, Sir. Omong-omong, bahasa resmi negara Anda apa, sih? Kok bahasa Indonesia dan bahasa Inggris Anda lancar sekali?

Ha-ha-ha…. Kami bisa bahasa apa saja, Sir. Semua disesuaikan dengan kebutuhan. Karena Anda orang Indonesia, saya harus menyesuaikan dengan Anda. Omong-omong saya sangat menyukai aksen orang Inggris, jadi jangan heran jika terkadang saya bisa sangat terobsesi menirukan mereka [sambil tersenyum lebar].
Wow! Sepertinya negara Anda negara yang hebat.

Ah, tidak juga [sambil tersenyum]. Negara Anda ini juga hebat, malahan menurut saya sangat cantik.
Wah, senang sekali mendengarnya. Terima kasih, Sir.

Baiklah, Sir. Saya pamit. Dan dengan ini Anda secara resmi berada dalam pantauan radar kami. Jika Anda suatu saat nanti berhubungan dengan yang klasik-klasik lagi, kami akan mengunjungi Anda lagi. Sampai jumpa, Sir. Dan jaga diri Anda.
Sampai jumpa juga, Sir. Anda juga.

~end of story (or review?)~

Quo Vadis?
oleh Henryk Sienkiewicz
Penerjemah: Antonius Adiwiyoto
Gramedia Pustaka Utama; Cetakan II, November 2009
Softcover; 552 halaman; 13,5 x 20 cm
ISBN: 978-979-22-5142-5
 My Rating: 5/5

One thought on “Quo Vadis: An Intreview

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s