‘Horor’ itu Bernama Kehidupan

Nobody Owens⎯panggilannya Bod⎯adalah anak biasa, benar-benar biasa, seandainya dia tidak tinggal di kompleks pemakaman, dibesarkan oleh hantu-hantu, dengan wali yang tidak berasal dari dunia orang hidup maupun orang mati. Banyak petualangan di pemakaman itu, dan kalau Bod pergi ke dunia luar, dia terancam bahaya dari pria bernama Jack⎯yang telah membunuh seluruh keluarga Bod.

 

Tidak salah memang jika The Daily Express menyebutkan bahwa kekuatan terbesar Neil Gaiman adalah kemampuannya yang luar biasa untuk mengingatkan pembaca bagaimana rasanya menjadi anak kecil. Di buku ini saya merasakan bagaimana menikmati sensasi tersebut. Adalah Nobody Owens⎯biasa dipanggil Bod⎯yang membuat saya kembali merasakan kilas balik ke masa bertahun-tahun yang lalu. Masa di mana saya merasakan masa kecil dan segala hal yang berhubungan dengan bagaimana rasanya menjadi anak kecil.

Membaca buku ini mampu membawa saya ke dalam tiga tahapan yang berbeda. Tahapan-tahapan ini adalah bagaimana Gaiman menggiring cerita dan mengenalkan karakter Bod kepada kita lewat delapan bab buku ini. Jika diukur dalam bentuk kurva, tahapan-tahapan ini terasa menanjak karena karakter Bod berkembang di setiap bab yang otomatis membuat cerita buku ini semakin berkembang.

Continue reading

Advertisements

The End of the Immortal Nicholas Flamel’s Saga

San Francisco:
Hidup Nicholas dan Perenelle Flamel tersisa satu hari lagi, namun masih ada pekerjaan yang harus dilakukan. Mereka harus mempertahankan San Francisco. Monster-monster yang terkumpul di Pulau Alcatraz telah dilepas dan dalam perjalanan ke kota. Jika tidak dihentikan, mereka akan menghancurkan segala sesuatu yang mereka lalui, termasuk manusia.

Meskipun mendapatkan bantuan dari dua prajurit terbesar dalam sejarah dan mitos, dapatkah sang Sorceress dan sang Alchemyst mempertahankan kota? Ataukah ini awal dari kehancuran humani?

Danu Talis:
Sophie dan Josh Newman melakukan perjalanan sepuluh ribu tahun ke masa lalu ke Danu Talis saat mereka mengikuti Dr. John Dee dan Virginia Dare. Dan di pulau legendaris inilah pertempuran bagi dunia dimulai dan berakhir. Scathach, Prometheus, Palamedes, Shakespeare, Saint-Germain, dan Joan of Arc juga ada di pulau itu. Namun, tak ada yang yakin apa atau siapa yang akan dibela oleh si kembar.

Inilah penentuan apakah pertempuran untuk Danu Talis akan dimenangkan atau justru dikalahkan. Akankah si kembar di pihak yang sama? Ataukah mereka akan saling berperang Satu dari si kembar akan menyelamatkan dunia, dan yang satu lagi akan menghancurkannya?

 

Continue reading

Foucault’s Pendulum: Kemewahan yang Belum Bisa Saya Nikmati Sepenuhnya

Luar biasa….
Luar biasa… akhirnya setelah enam bulan, saya selesai juga membacanya. Saya bilang ‘luar biasa’ karena buku ini memang luar biasa membuat heran, luar biasa menguji kesabaran, dan luar biasa mengusik rasa penasaran.

Ya, memang itulah yang saya rasakan ketika akan, saat, dan selesai membaca buku ini. Jika kalian sedang tertarik untuk memulai membaca buku ini, janganlah terlalu terpesona dengan ‘racun’ yang terpampang di kover depan buku ini: Novel konspirasi yang melibatkan berbagai perkumpulan rahasia besar dunia. Sebab setelah membaca buku ini, menurut saya alternatif yang lebih tepat untuk menggantikan kalimat tersebut adalah: Buku kumpulan sejarah konspirasi yang melibatkan berbagai perkumpulan rahasia besar dunia. Dan karenanya buku ini masuk ke dalam buku paling berat yang pernah saya baca.

Continue reading

Le Death c’est Mon Ami

Temperance Brennan, seorang ahli antropologi forensik, diminta mengidentifikasi jenazah seorang biarawati yang telah meninggal lebih dari satu abad. Tugas yang dibebankan kepadanya oleh keuskupan di Montreal ini tampaknya sebuah tugas yang sederhana dan menarik.

Tugas tersebut ternyata memiliki titik singgung dengan tugas berikutnya yang menyeretnya ke dalam petualangan yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidupnya. Peristiwa demi peristiwa yang muncul silih berganti membawanya ke dalam jalinan misteri yang mengerikan dan sejumlah pembunuhan yang kekejamannya jauh melebihi batas-batas akal sehat manusia.

Semuanya diawali oleh usaha pengidentifikasian tulang-belulang sejumlah korban pembunuhan di sebuah rumah yang terbakar hebat di tengah bekunya cuaca di Quebec, Kanada. Salah satu korban adalah seorang nenek berusia 80-an tahun yang tewas ditembak, serta sepasang pria dan wanita serta dua bayi yang dibantai dengan cara yang membuat bulu kuduk merinding. Satu sosok lagi ditemukan dalam kondisi yang lebih mengenaskan. Selain itu, dua mayat wanita ditemukan pula di sebuah pulau surga bagi primata di North Carolina, dengan kondisi yang sama.

Continue reading