Le Death c’est Mon Ami

Temperance Brennan, seorang ahli antropologi forensik, diminta mengidentifikasi jenazah seorang biarawati yang telah meninggal lebih dari satu abad. Tugas yang dibebankan kepadanya oleh keuskupan di Montreal ini tampaknya sebuah tugas yang sederhana dan menarik.

Tugas tersebut ternyata memiliki titik singgung dengan tugas berikutnya yang menyeretnya ke dalam petualangan yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidupnya. Peristiwa demi peristiwa yang muncul silih berganti membawanya ke dalam jalinan misteri yang mengerikan dan sejumlah pembunuhan yang kekejamannya jauh melebihi batas-batas akal sehat manusia.

Semuanya diawali oleh usaha pengidentifikasian tulang-belulang sejumlah korban pembunuhan di sebuah rumah yang terbakar hebat di tengah bekunya cuaca di Quebec, Kanada. Salah satu korban adalah seorang nenek berusia 80-an tahun yang tewas ditembak, serta sepasang pria dan wanita serta dua bayi yang dibantai dengan cara yang membuat bulu kuduk merinding. Satu sosok lagi ditemukan dalam kondisi yang lebih mengenaskan. Selain itu, dua mayat wanita ditemukan pula di sebuah pulau surga bagi primata di North Carolina, dengan kondisi yang sama.

Menghilangnya dua orang wanita, yang salah satu di antaranya adalah adiknya sendiri, menyebabkan benang misteri dirasakan semakin kusut saja. Semua kejadian itu menyediakan berbagai petunjuk yang harus ditelaahnya dengan cermat dan teliti agar mampu mengungkapkan cerita di balik misteri itu.

Dengan mengandalkan kemampuan analisis forensik serta bantuan rekan-rekan akademisinya, termasuk detektif Andrew Ryan yang telah memikat hatinya, Temperance dipaksa berpacu dengan waktu untuk memecahkan misteri ini. Sebelum terjadi malapetaka yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lebih banyak lagi.

***
Pernah menonton serial TV Bones? Atau Crime Scene Investigation (CSI)? Kalau kalian menyukai serial tersebut, hampir dipastikan kalian juga akan menyukai buku ini. Kebetulan pula Bones diadaptasi dari seri novel dengan lakon Dr. Temperance Brennan yang ditulis Kathy Reichs ini. Bagi penggemar cerita-cerita thriller dan crime procedural dengan sentuhan sains, buku ini pilihan yang tepat.

Buku ini diceritakan dari sudut pandang Dr. Brennan, yang seperti telah disebutkan di sinopsis, adalah seorang ahli antropologi forensik. Dr. Brennan ini setiap harinya selalu berurusan dengan jenazah yang sudah berbentuk tidak keruan⎯seringnya sih sudah dalam bentuk tulang-belulang⎯untuk diidentifikasi penyebab kematian, identitas, atau untuk keperluan medis lainnya. Kemampuannya ini tentu sangat berguna bagi kepolisian untuk membongkar suatu kasus kejahatan, terutama pembunuhan. Tapi sekali lagi, Dr. Brennan ini bukan polisi, melainkan ilmuwan yang membantu kinerja kepolisian. 

Pemilihan Dr. Brennan sebagai lakon utama pun termasuk di luar pakem. Soalnya sepengalaman saya dalam membaca buku bergenre seperti ini, sang lakon utama pada umumnya adalah pria. Mulai dari Sherlock Holmes, Hercule Poirot, Robert Langdon, Will Graham, hingga trio Belbo-Diotallevi-Casaubon. Ditambah lagi dengan pemilihan sudut pandang cerita dari diri Dr. Brennan⎯yang merupakan sudut pandang seorang wanita. Saya jadi bertanya-tanya, apakah Reichs ingin menjadikan cerita ini lebih creepy dengan memanfaatkan sudut pandang seorang wanita?

Well, jawabannya sendiri menurut saya bisa iya dan tidak. ‘Iya’ karena tidak bisa dipungkiri Dr. Brennan adalah seorang wanita. Setangguh dan sekeras apapun wanita itu, tetap saja dia masih memiliki kehalusan perasaan seorang wanita. Dr. Brennan adalah contoh wanita seperti itu. Dia seorang profesional sejati, seseorang yang lebih mengedepankan daya analitis dalam bekerja. Tapi tetap saja dia memiliki perasaan halus seorang wanita yang tidak bisa disembunyikannya. Contoh ini dapat dibaca ketika dia menghadapi jenazah dua orang bayi berumur empat bulan. Di situ dia begitu nelangsa membayangkan siksaan dan luka-luka yang dialami bayi-bayi tersebut. Sehingga gambaran-gambaran mengerikan yang bikin merinding dalam cerita ini sebenarnya adalah curahan perasaan Dr. Brennan terhadap apa yang dihadapinya.

Sedangkan untuk jawaban ‘tidak’, cerita buku ini sendiri kenyataannya tidaklah terlalu mencekam. Saya lebih condong ke sisi ini. Meski buku ini memang menyuguhkan bermacam-macam deskripsi kondisi jenazah yang amburadul, saya malah menikmatinya. Saya anggap itu seperti membaca sebuah laporan forensik saja, tanpa ada perasaan yang tidak-tidak. Di sinilah saya merasa terbuai oleh profesionalitas Dr. Brennan karena dia secara fasih mendeskripsikan setiap luka/kerusakan⎯beberapa di antaranya adalah luka/kerusakan ekstrem⎯pada jenazah/tulang-tulang. Di samping itu aksi kejar-kejaran dan pengintaian-pengintaian yang biasanya muncul di cerita-cerita thriller, yang kadang bisa memainkan adrenalin kita, kurang terasa nonjok di buku ini. Karena itu saya menilai buku tidak terlalu mencekam⎯kurang nge-thrill, kurang membuat adrenalin kita bergejolak. Buku ini lebih condong ke sebuah cerita crime procedural dengan sentuhan sains yang kuat.

Karena itu jugalah Reichs lebih ‘memilih’ Dr. Brennan sebagai lakon utama buku ini. Memecahkan kasus dengan pendekatan ilmiah menjadi fokus utama Reichs dalam buku ini. Dengan latar belakangnya sebagai ilmuwan dan ahli antropologi forensik, Dr. Brennan memang menjadi ‘alat’ yang sempurna untuk memecahkan kasus dalam cerita buku ini. Lagipula Reichs juga seorang ahli antropologi forensik dan akademisi di University of North Carolina at Charlotte (UNCC), sama seperti Dr. Brennan yang juga akademisi di UNCC. Apakah Reichs terinspirasi dirinya sendiri ketika menciptakan karakter Dr. Brennan? Well, untuk yang satu ini hanya Reichs yang tahu pasti jawabannya.

Nah, jangan kaget deh kalau nuansa sains lebih terasa di sini (seperti yang saya bilang tadi, buku ini kurang nge-thrill). Lha wong penulisnya saja ilmuwan, lakon utamanya ilmuwan, wajar saja kalau porsi sains cukup banyak dalam cerita. Karena forensik menjadi bidang utama, jangan heran jika kalian banyak menemukan bermacam istilah anatomi⎯seperti femur, glabella, endocranial, ectocranial, symphysis, dll.⎯dan istilah-istilah medis forensik seperti post-mortem interval. Inilah salah satu contoh yang membuat buku ini cool. Selain istilah-istilah tersebut, buku ini memberikan banyak pengetahuan pada kita tentang ‘keajaiban’ dunia forensik. Contohnya adalah kita bisa mengidentifikasi sebuah mayat dulunya seorang pecandu narkoba atau tidak dengan menguji kepompong lalat yang ‘menggerogoti’ mayat tersebut. Untuk ‘keajaiban’ yang satu ini, berterima kasihlah pada ilmu entomologi forensik.

Hal lain yang membuat buku ini cool ya andil profesi Dr. Brennan dalam memecahkan kasus. Jarang-jarang kan seorang ‘identifikator’ kerangka manusia berperan besar dalam menyingkap kasus kejahatan? Kalau ‘identifikator’ mayat sih sudah biasa, lha ini lebih ekstrem, ‘identifikator’ kerangka lho! Beberapa hal keren dari profesi Dr. Brennan ini di antaranya kemampuan mengidentifikasi ras kerangka manusia hanya dengan mengamati tengkoraknya saja, lalu kemampuan memperkirakan usia sang kerangka ketika meninggal dengan mengamati symphysis pubis-nya. Nah, nggak jauh beda dengan detektif kan?

Dan kalau kalian penasaran dengan makna judul buku ini, ini dia jawabannya. Judul buku ini sebenarnya merupakan buah kegalauan Dr. Brennan karena profesinya selalu berhubungan dengan kematian. Death du Jour sendiri merupakan frasa bahasa Prancis yang berarti “kematian hari ini”, suatu hal yang tidak bisa dihindari Dr. Brennan karena setiap hari dia harus ‘berjumpa’ dengan kematian⎯seperti yang diceritakannya di buku ini. Judul yang berbau French ini dipilih bukan karena Reichs berkebangsaan Prancis, tapi (mungkin) karena faktor setting tempat buku ini yang banyak melibatkan tempat-tempat di Kanada. Dan bahasa Prancis sendiri adalah salah satu bahasa resmi negara tersebut. Makanya beberapa dialog dalam buku ini juga ada yang menggunakan bahasa Prancis.

Secara keseluruhan saya puas dengan buku ini. Alur ceritanya nggak neko-neko, progresif selalu. Ide ceritanya sebenarnya tidak terlalu istimewa. Tapi lumayan bisa mengajak otak kita mikir untuk mengaitkan pembunuhan-pembunuhan yang ada. Sayangnya kelemahan klasik yang cukup mengganggu muncul di buku ini, yaitu cukup banyak typo. Selain itu, beberapa dialog dalam bahasa Prancis juga tidak dijelaskan artinya⎯yang mengingatkan saya pada dialog-dialog di kisah-kisah Poirot⎯sehingga bikin sebal sendiri karena harus mengira-ngira sendiri artinya (kalau malasgoogling). Tapi untungnya porsi dialog dalam bahasa Prancis itu tidak begitu banyak. Secara keseluruhan buku ini masih enak dibaca.

Meski kurang nge-thrill, saya merasa puas dengan pameran ‘keajaiban’ forensik yang disajikan buku ini. Keunikan profesi Dr. Brennan sebagai ‘identifikator’ kerangka manusia mampu memberikan sesuatu yang berbeda tentang dunia forensik. Terbukti tidak cuma mayat yang bisa dijadikan bahan identifikasi atau barang bukti, tapi kerangka pun bisa. Buku ini kalau dikomentari oleh Addie M.S., mungkin komentarnya akan seperti ini kali ya…: Bagus juga ini, beda aja. Be-be-beda aja…. 

Selamat menikmati sajian ‘sup tulang-belulang’ dalam buku ini. Bon appétit!

Death du Jour
oleh Kathy Reichs
(Pertama terbit pada 18 Mei 1999)
Penerjemah: Fahmi Yamani
Serambi; Cetakan I, Desember 2007
Softcover; 644 halaman; 13 x 20,5 cm
ISBN: 978-979-1112-96-3
My Rating: 4/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s