Foucault’s Pendulum: Kemewahan yang Belum Bisa Saya Nikmati Sepenuhnya

Luar biasa….
Luar biasa… akhirnya setelah enam bulan, saya selesai juga membacanya. Saya bilang ‘luar biasa’ karena buku ini memang luar biasa membuat heran, luar biasa menguji kesabaran, dan luar biasa mengusik rasa penasaran.

Ya, memang itulah yang saya rasakan ketika akan, saat, dan selesai membaca buku ini. Jika kalian sedang tertarik untuk memulai membaca buku ini, janganlah terlalu terpesona dengan ‘racun’ yang terpampang di kover depan buku ini: Novel konspirasi yang melibatkan berbagai perkumpulan rahasia besar dunia. Sebab setelah membaca buku ini, menurut saya alternatif yang lebih tepat untuk menggantikan kalimat tersebut adalah: Buku kumpulan sejarah konspirasi yang melibatkan berbagai perkumpulan rahasia besar dunia. Dan karenanya buku ini masuk ke dalam buku paling berat yang pernah saya baca.

Kalau dilihat dari jalan ceritanya, sebenarnya cukup simpel. Dikisahkan ada tiga orang editor di sebuah penerbit dengan kecerdasan yang luar biasa, sebut saja trio Belbo-Diotallevi-Casaubon. Pada suatu waktu mereka merasa jenuh karena tidak ada topik yang menarik untuk diterbitkan sehingga mereka mencoba mencari-cari hal baru untuk diterbitkan. Jadilah mereka berkutat dengan tumpukan katalog yang semuanya berisi teori-teori konspirasi dari seluruh dunia. Karena terlalu khusyuk mendalami tugas baru itu, mereka malah kebablasan dengan mencoba merekonstruksi dan menulis ulang sejarah konspirasi dunia. Dan celakanya keisengan mereka ini malah ditanggapi serius oleh salah satu kelompok misterius. Ujung-ujungnya pun nyawa mereka lah yang menjadi taruhannya.

Well, cukup familiar dengan jalan cerita seperti itu? Sedikit teringat dengan salah satu maestro cerita konspirasi dunia⎯Dan Brown? Setidaknya seperti itulah perasaan saya ketika pertama kali ‘mengenal’ buku ini. Karena buku ini ‘menjual’ topik konspirasi, secara spontan alam bawah sadar saya langsung merujuk pada karya-karya Dan Brown. Estimasi saya terhadap isi buku ini pun tidak terlalu jauh dengan karya-karya Dan Brown. Tapi setelah menamatkan buku ini, estimasi saya tersebut runtuh. Bukan karena buku ini mengecewakan, tapi lebih karena buku ini membuat karya-karya Dan Brown tidak ada apa-apanya.

Tidak salah memang jika di salah satu review buku ini yang saya baca menganalogikan buku ini lebih seperti sebuah sandwich yang berat, beraneka rasa, bergizi, mengenyangkan, dan harus dicerna secara pelan-pelan. Sedangkan karya-karya Dan Brown lebih seperti kerupuk atau keripik kentang, yang renyah dan bikin nagih. Kenyataannya, memang seperti itu yang saya rasakan. Dan Brown mungkin memang lebih pintar dan bombastis ‘menjual’ teori konspirasi dunia dengan beberan beberapa fakta, deskripsi yang membawa kita ke batas antara fakta dan fiksi, serta jalan cerita yang seru dan menegangkan⎯karenanya karya-karya Dan Brown selalu bikin nagih. Tetapi, Signor Eco lebih pintar dan lebih dalam dari itu meramu dan membuat kita termenung tentang tidak hanya satu, dua, atau tiga, melainkan semua teori konspirasi yang ada! Ya, all in one! Bahkan saya 99% yakin bahwa teori konspirasi atau organisasi rahasia terkait yang kalian ketahui, pasti dapat kalian temui dalam buku ini. Kabala, Hermetisme, Yesuit, Rosicrucian, Freemason, Assassins, Templar, bahkan Nazi dan Syi’ah pun tak ketinggalan diikutkan Signor Eco.

Bukan itu saja. Signor Eco juga melibatkan ranah sains dalam buku ini. Dilihat dari judulnya saja sudah kelihatan (Pendulum Foucault adalah alat yang ditemukan fisikawan Prancis bernama Léon Foucault untuk membuktikan eksistensi rotasi bumi). Satu pertanyaan mungkin akan menggelitik kalian, kenapa judul buku ini Foucault’s Pendulum? Apa hubungannya pendulum ini dengan konspirasi-konspirasi dunia? Well, pada awalnya saya juga tidak mengerti kaitannya. Tapi semakin lama kalian menekuni buku ini, kalian akan tahu jawabannya kok. Apiknya rangkaian kombinasi antara pendulum tersebut, lokasinya, ilmu fisika, kartografi, dan legenda konspirasi Kesatria Templar, saya jadi mafhum dengan kegeniusan Signor Eco memilih judul tersebut.

Kumpulan sejarah dan misteri konspirasi yang dikombinasikan dengan sains memang membuat buku ini semakin beraneka rasa dan bergizi saja. Sekaligus semakin berat saja untuk diikuti. Jadi memang jangan mengharap buku ini akan berisi pemecahan kode atau sandi misterius diikuti aksi kejar-kejaran dan tembak-tembakan ala film Hollywood. Buku ini lebih mengajak kita untuk duduk tenang dan termenung. Delapan puluh persen buku ini adalah rekaman diskusi-diskusi, permainan dialektika dan logika, serta petualangan trio Belbo-Diotallevi-Casaubon dalam merekonstruksi sejarah konspirasi dunia. Sedangkan sisanya (di bagian akhir pula!) adalah hal-hal yang membuat buku ini tetap terasa fiksinya⎯salah satunya adalah aksi pengejaran Casaubon untuk menyelamatkan Belbo.

Sebagai kesimpulan, ada beberapa poin yang membuat buku ini luar biasa⎯sekaligus bikin enek. Pertama, kekayaan data, sejarah, serta referensi akan konspirasi-konspirasi dunia dalam buku ini patut diacungi jempol. Sayangnya, kekayaan itu sendiri juga menjadi bumerang. Hal itu membuat buku ini sangat bertele-tele, membuat buku ini lebih mirip buku sejarah dan bukannya buku cerita fiksi. Apalagi Signor Eco menggunakan bahasa tingkat tinggi dalam penyusunan buku ini. Sehingga kesannya Signor Eco ‘membatasi’ segmen pembaca untuk buku ini. Kekayaan itu juga membuat kita harus rajin googling ketika membaca buku ini. Kalau tidak, pasti ada kalanya akan nge-blank karena tidak tahu apa yang sedang dibahas Signor Eco. Dan yang paling sulit adalah: memisahkan antara fiksi dan fakta.

Poin kedua adalah bagaimana Signor Eco meramu semua data dan sejarah itu dan mampu memberikan satu muara dan kesimpulan dari hasil ramuannya tersebut. Hal ini benar-benar luar biasa, bahkan genius! Dan poin tersendiri yang mampu membuat saya terhenyak adalah twist Signor Eco di bagian akhir buku⎯yang akan menohok setiap pemburu konspirasi dan yang selalu bilang: “Hei, ini pasti konspirasi inilah, konspirasi itulah, dst.” Simak saja kalimat berikut:

” … Lalu, siapa pun yang tidak punya saraf kuat bertanya kepada diri sendiri: Siapa di balik persekongkolan ini, siapa yang mengambil keuntungan? Ia harus mencari seorang musuh, seorang anggota komplotan, atau bisa jadi, semoga Tuhan melindungi, kesalahannya. Jika kau merasa bersalah, kau menemukan suatu persekongkolan, banyak rencana. Dan untuk menjawabnya, kau harus mengorganisasi persekongkolanmu sendiri. Tetapi, semakin banyak kau menemukan persekongkolan musuh, untuk membebaskan kurangnya pemahamanmu, semakin kau jatuh cinta padanya dan kau memolakan dirimu sendiri berdasar model mereka. … Tentu saja, kau menjatuhkan kesalahan kepada yang lainnya untuk apa yang tengah kaulakukan sendiri, dan karena apa yang kaulakukan sendiri itu menyebalkan, yang lainnya jadi menyebalkan.” ~ h. 660

Ditambah lagi dengan kutipan kalimat dari Karl Popper yang dicuplik Signor Eco sebagai pembuka sub-bab 118: Teori konspirasi dari masyarakat … muncul akibat ditinggalkannya Tuhan dan kemudian bertanya: “Siapa yang menduduki tempat-Nya?” ~ h. 657

Apakah itu berarti Signor Eco mengatakan bahwa semua teori konspirasi di dunia ini hanyalah sebuah omong kosong belaka⎯agar kita tak mengindahkannya? Wajar juga sih, soalnya hasil rekonstruksi sejarah konspirasi yang diciptakan trio Belbo-Diotallevi-Casaubon dalam buku ini⎯yang ditanggapi serius oleh kelompok misterius itu⎯ternyata hanya bersumber dari [sensor]. Lha, bukankah buku yang ditulisnya sendiri ini⎯yang konspirasi-konspirasinya disusunnya secara rapi dan sempurna⎯malah membuat kita semakin mengindahkannya? Apakah Signor Eco menciptakan sebuah ironi di sini? Ataukah ini malah salah satu konspirasi yang diciptakannya? Entahlah, hanya dirinya dan Tuhan yang tahu. Atau mungkin kalimatnya ini bisa menjadi petunjuk: “… kadang-kadang, untuk membuktikan sesuatu, kau harus mati.” ~ h. 528

 

 

 

Foucault’s Pendulum
oleh Umberto Eco
(Pertama terbit pada tahun 1988)
Penerjemah: Nin Bakdi Soemanto
Bentang; Cetakan II, Januari 2011
Softcover; xii + 694 halaman; 15,5 x 23,5 cm
ISBN: 978-602-8811-02-6
My Rating: 3/5

2 thoughts on “Foucault’s Pendulum: Kemewahan yang Belum Bisa Saya Nikmati Sepenuhnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s