‘Horor’ itu Bernama Kehidupan

Nobody Owens⎯panggilannya Bod⎯adalah anak biasa, benar-benar biasa, seandainya dia tidak tinggal di kompleks pemakaman, dibesarkan oleh hantu-hantu, dengan wali yang tidak berasal dari dunia orang hidup maupun orang mati. Banyak petualangan di pemakaman itu, dan kalau Bod pergi ke dunia luar, dia terancam bahaya dari pria bernama Jack⎯yang telah membunuh seluruh keluarga Bod.

 

Tidak salah memang jika The Daily Express menyebutkan bahwa kekuatan terbesar Neil Gaiman adalah kemampuannya yang luar biasa untuk mengingatkan pembaca bagaimana rasanya menjadi anak kecil. Di buku ini saya merasakan bagaimana menikmati sensasi tersebut. Adalah Nobody Owens⎯biasa dipanggil Bod⎯yang membuat saya kembali merasakan kilas balik ke masa bertahun-tahun yang lalu. Masa di mana saya merasakan masa kecil dan segala hal yang berhubungan dengan bagaimana rasanya menjadi anak kecil.

Membaca buku ini mampu membawa saya ke dalam tiga tahapan yang berbeda. Tahapan-tahapan ini adalah bagaimana Gaiman menggiring cerita dan mengenalkan karakter Bod kepada kita lewat delapan bab buku ini. Jika diukur dalam bentuk kurva, tahapan-tahapan ini terasa menanjak karena karakter Bod berkembang di setiap bab yang otomatis membuat cerita buku ini semakin berkembang.

Yang menarik adalah dua tahapan pertama. Sebab di sinilah power Gaiman tadi benar-benar saya rasakan. Di sini Gaiman lebih menekankan pengenalan karakter Bod dan apa yang ada di sekitarnya. Karena karakter Bod yang berkembang, otomatis Gaiman harus memulai pengenalan karakter Bod dari masa kecilnya. Dan di sinilah nostalgia dimulai, saat ketika saya ‘harus’ mengingat kembali bagaimana rasanya menjadi anak kecil.

Seperti yang disebutkan di sinopsis di awal, Bod adalah ‘anak biasa’ yang tinggal di pemakaman dan tumbuh serta dibesarkan oleh hantu-hantu yang ada di lingkungan pemakaman itu. Hal ini membuatnya memiliki kemampuan-kemampuan istimewa, seperti mampu melihat dan berkomunikasi dengan hantu, mampu menembus dinding, kemampuan untuk ‘menghilang’, bahkan sampai kemampuan untuk menakut-nakuti seseorang dengan cara masuk ke alam mimpi orang tersebut. Secara kebetulan, karakter dan kemampuan Bod ini mengingatkan saya pada karakter Asakura Yoh dalam manga Shaman King⎯yang pernah saya baca di salah satu episode masa kecil saya. Inilah sensasi nostalgia pertama saya.

Gambaran karakter Bod dan sekitarnya oleh Gaiman di awal-awal bab kemudian membawa saya bernostalgia tentang bagaimana cerewetnya menjadi anak kecil. Layaknya anak kecil pada umumnya, rasa ingin tahu Bod begitu besar. Dengan polos ia sering bertanya ini-itu pada hantu-hantu di pemakaman. Dan jika mendapat jawaban yang tidak memuaskan atau membingungkan, barulah ia akan mencari jawaban kepada salah satu sosok yang paling dekat dengannya, yaitu Silas⎯walinya.

Di sini Gaiman mulai menggambarkan kehangatan hubungan kekeluargaan yang menjadi dambaan setiap anak kecil di dunia. ‘Perdebatan’ antara anak kecil (baca: Bod) vs. orang tua (baca: Silas) dan ketulusan orangtua mengajari berbagai macam hal kepada anaknya mewarnai hubungan ini. Lucu rasanya membayangkan bagaimana Bod bersikeras menanyakan alasan yang jelas kenapa ia tidak boleh keluar dari pemakaman, terasa sama seperti kita dulu bertanya pada orangtua kenapa tidak boleh melakukan ini-itu. Dan yang paling lucu di bagian ini adalah ketika Silas mengoreksi grammar Bod ketika menanyakan hal tersebut kepada Silas: “… dan cara bertanya yang benar adalah ‘why aren’t I allowed,’ bukan ‘amn’t’, …” ⎯sama seperti ketika dulu orangtua kita mengoreksi pengucapan-pengucapan kata kita yang tidak tepat.

Dari sini Gaiman membangun kisah Bod dari lingkungan keluarga dan sekitarnya. Sama seperti perjalanan kehidupan kita yang dimulai dari lingkungan keluarga dan sekitar kita. Di sinilah Gaiman seperti meletakkan batu pijakan pertamanya tentang gambaran besar dari cerita ini, yaitu perjalanan dan proses kehidupan seorang manusia. Meski beberapa kali dibuat tersenyum dengan tingkah-polah kekanakan Bod, tapi cerita yang ingin disampaikan Gaiman ternyata tidaklah sebegitu kekanakan. Justru kita, para pembaca berusia dewasa, seperti ‘disuruh’ belajar tentang kehidupan dari Bod.

Di tahapan kedua kita akan merasakan hal itu, ketika Bod harus keluar dari zona nyamannya dengan menjadi siswa sebuah sekolah. Bagi seorang anak yang terbiasa berinteraksi dengan para hantu, hal ini tentu sesuatu yang asing dan sangat baru. Tapi kenekatan Bod ini bukannya tanpa tujuan. Rasa ingin tahunya yang tak terbatas itu membawanya untuk mempelajari pengetahuan-pengetahuan di ‘dunia normal’, setelah menimbang-nimbang bahwa mempelajari sesuatu dari ‘dunia hantu’ tidaklah cukup untuk bekalnya di masa depan.

Di sini kita akan dibawa Gaiman untuk kembali mengenang bagaimana rasanya menjadi siswa baru di sekolah. Mulai dari suka dukanya menjadi siswa yang kurang populer di sekolah (bagi yang pernah), berkonfrontasi dengan anggota geng sekolah, bahkan merasakan sensasi menjadi seorang from zero to hero di sekolah. Kisah Bod di tahapan ini mirip-mirip dengan kisah Augie dalam buku Wonder karya R.J. Palacio. Dan di tahapan ini kita akan melihat bagaimana Bod berproses menjadi seseorang yang lebih dewasa, seorang anak yang mampu memecahkan masalah-masalah ‘nyata’ di sekitarnya dengan segala kecerdikannya.

Dua tahapan tersebut bisa dibilang merupakan suatu proses perkembangan karakter seorang Bod, yang merepresentasikan proses perjalanan hidup manusia pada umumnya. Dan jika ada proses, pasti ada hasil. Hasil dari proses-proses yang dialami Bod inilah yang akan menjadi output di tahapan ketiga. Dan satu hal yang menjadi bagian dari proses tersebut adalah ujian, sebuah langkah yang harus ditempuh sebelum menikmati sebuah hasil.

Salah satu kawan saya pernah bilang: segala yang kita pelajari di dunia ini pasti ada pertanggung-jawabannya, yaitu ujian. Di tahapan ketiga inilah Bod akan mempertanggung-jawabkan semua yang telah dipelajarinya di tahapan pertama dan kedua di atas. Jika Bod adalah Harry Potter, di sinilah Bod akan melaksanakan ujian OWL dan NEWT. Dan jujur saja, di tahapan ini cerita sudah sangat berkembang dan tidak seperti sebuah cerita anak-anak lagi. Saya malah seperti membaca sebuah cerita thriller. Di sini Bod akan menghadapi kelompok yang bertanggung jawab atas kematian keluarganya. Yang pasti, di tahapan ini penuh aksi dan kejar-kejaran. Di sinilah tempat Bod mengaplikasikan semua yang dipelajarinya di tahapan pertama dan kedua.

Di bagian ini saya juga merasakan kepuasan tersendiri karena ciri khas Gaiman dalam menyusun cerita tidak hilang. Dari karya-karyanya yang sudah saya baca, Gaiman tidak pernah menuliskan sesuatu yang ‘sia-sia’ dari awal sampai akhir cerita. Apa yang ditulisnya, baik di awal maupun pertengahan cerita, selalu memiliki implikasi dan pengaruh untuk ending cerita. Di buku ini contohnya mulai dari pelajaran-pelajaran yang diterima Bod di ‘dunia hantu’ maupun di ‘dunia nyata’, atau ketika Bod dengan polosnya menuruti rayuan maut para ghoul, dan bahkan ketika Bod nekat mencari harta karun yang ujung-ujungnya malah ketemu Sleer⎯makhluk penjaga harta karun. Semua itu ada pengaruhnya untuk ending cerita ini. Bahkan di buku ini Gaiman juga menyelipkan ‘humor’ yang entah-apa-maksudnya dan terkesan absurd (di bagian ketika Bod ‘diculik’ para ghoul). Meski tidak tahu secara pasti apa maksud ‘humor’ Gaiman tersebut, tapi lucu juga membayangkan adegan tersebut. Masa secara eksplisit Gaiman menggambarkan beberapa karakter ghoul tersebut sebagai Victor Hugo dan Harry Truman? Dosa apa kedua orang tersebut sampai harus dapat jatah peran sebagai ghoulWell, karena itulah saya menyukai karya-karya Neil Gaiman.

Untuk ending buku ini, entahlah bisa dibilang ending untuk buku anak-anak atau tidak. Ending buku ini bisa dibilang tidak terlalu happy ending seperti cerita/dongeng anak-anak pada umumnya. Tapi saya lebih menyukainya. Sebab jika buku ini diceritakan kepada anak-anak, ending buku ini memiliki sebuah nilai pelajaran yang bagus untuk anak-anak. Jadi, layakkah buku ini dibaca/dibacakan untuk anak-anak? Menurut saya sangat layak. Terlepas dari suasana dan setting ceritanya yang cukup creepy, cerita The Graveyard Book ini mengandung nilai moral dan pelajaran yang bagus untuk anak-anak. Buku ini mengajarkan rasa keingin-tahuan yang besar pada diri anak-anak bukanlah hal yang salah, malah bisa menjadi hal yang sangat berguna di masa depan. Ketulusan cinta dan kasih sayang juga sering ditunjukkan oleh buku ini. Dan yang terpenting adalah buku ini mampu menunjukkan pada anak-anak bagaimana manusia berproses. Jika ada yang mengatakan buku ini berkisah tentang sebuah pencarian jati diri, saya menyetujuinya.

Well, apakah kalian mencari sebuah kisah, sebuah dongeng untuk anak-anak, adik-adik, keponakan, atau cucu kalian? Buku ini bisa jadi pilihan yang tepat.

 

 

 

The Graveyard Book
oleh Neil Gaiman
Penerjemah: Lulu Wijaya
Gramedia Pustaka Utama; Cetakan I, Maret 2013
Softcover; 351 halaman; 13,5 x 20 cm
ISBN: 978-979-22-9460-6
My Rating: 4/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s