The End of the Immortal Nicholas Flamel’s Saga

San Francisco:
Hidup Nicholas dan Perenelle Flamel tersisa satu hari lagi, namun masih ada pekerjaan yang harus dilakukan. Mereka harus mempertahankan San Francisco. Monster-monster yang terkumpul di Pulau Alcatraz telah dilepas dan dalam perjalanan ke kota. Jika tidak dihentikan, mereka akan menghancurkan segala sesuatu yang mereka lalui, termasuk manusia.

Meskipun mendapatkan bantuan dari dua prajurit terbesar dalam sejarah dan mitos, dapatkah sang Sorceress dan sang Alchemyst mempertahankan kota? Ataukah ini awal dari kehancuran humani?

Danu Talis:
Sophie dan Josh Newman melakukan perjalanan sepuluh ribu tahun ke masa lalu ke Danu Talis saat mereka mengikuti Dr. John Dee dan Virginia Dare. Dan di pulau legendaris inilah pertempuran bagi dunia dimulai dan berakhir. Scathach, Prometheus, Palamedes, Shakespeare, Saint-Germain, dan Joan of Arc juga ada di pulau itu. Namun, tak ada yang yakin apa atau siapa yang akan dibela oleh si kembar.

Inilah penentuan apakah pertempuran untuk Danu Talis akan dimenangkan atau justru dikalahkan. Akankah si kembar di pihak yang sama? Ataukah mereka akan saling berperang Satu dari si kembar akan menyelamatkan dunia, dan yang satu lagi akan menghancurkannya?

 

Voilá! Inilah seri pamungkas The Secrets of The Immortal Nicholas Flamel. Meski beberapa waktu lalu sempat dibuat galau karena pemilik copyright di Indonesia⎯Penerbit Matahati⎯dikabarkan akan gulung tikar, akhirnya kegalauan penggemar serial ciptaan Michael Scott di Indonesia terjawab juga. Dan inilah The Enchantress, sebuah episode final di mana ending dan konklusi saga Nicholas Flamel ala Michael Scott berada.

Sejujurnya, ekspektasi saya untuk buku ini cukup tinggi karena serial ini sendiri cukup panjang⎯total ada enam seri. Saya jadi berharap di bagian akhir ini akan penuh kejutan-kejutan yang mencengangkan. Dan yang paling penting, pertarungan final yang epic. Yah, setidaknya saya mengharapkan Michael Scott bisa mengikuti cara J.K. Rowling mengakhiri saga Harry Potter⎯yang penuh kejutan yang menyenangkan dan menyedihkan serta dilengkapi pertarungan yang cukup epic. Tapi, apa yang saya dapat di sini?

Well, secara keseluruhan Scott masih menggunakan pakem yang sama dalam berkisah. Kita masih akan diajak melompat-melompat dan berputar-putar dari satu scene ke scene yang lainnya. Apalagi di buku ini kita akan menghadapi dua setting zaman yang berbeda, masa kini dan masa sepuluh ribu tahun yang lalu. Gaya berkisah seperti ini saya akui memang sukses membuat saya untuk menerka-nerka ke mana arah ending serial ini. Selain itu saya seperti dipacu untuk mengaitkan kejadian-kejadian yang terjadi pada masa kini dan masa lalu. Tapi begitu menyelesaikan buku ini, saya kurang puas dengan ending yang ditawarkan Scott. Saya sendiri dalam hati berkomentar:“Lahh… cuma kaya gini?”

Pertama, saya merasa pertarungan/pertempuran yang disajikan Scott di sini kurang wah. Dari buku ini saya jadi bisa menarik kesimpulan bahwa salah satu konsep cerita dari keseluruhan serial ini adalah pertarungan perebutan kekuasaan. Jika di seri-seri sebelumnya hal ini masih terasa abstrak, di seri ini hal ini jadi semakin jelas. Pihak yang berpartisipasi dalam pertarungan pun meruncing menjadi dua kubu saja, yaitu kubu ‘putih’ yang diwakili Nicholas Flamel cs. dan kubu ‘hitam’ yang diwakili para Tetua Gelap cs. Di sini seharusnya Scott bisa menjadikan pertarungan antara dua kubu ini sebuah pertarungan yang epic, bahkan kolosal. Apalagi jika menilik gabungan koalisi di masing-masing kubu tersebut, harusnya bisa terjadi pertarungan mahadahsyat! Sayang sekali Scott kurang memberikan rasa menegangkan, menyeramkan, dan kolosal dari pertarungan tersebut. Sehingga inilah salah satu poin minus yang sangat saya rasakan di seri ini.

Kedua, sepertinya Scott terlalu sayang dengan karakter-karakter rekaannya deh. Perang antardunia yang terjadi di sini tidak menghasilkan terlalu banyak korban jiwa⎯terutama yang bisa bikin senam jantung pembaca. Dan karakter-karakter yang digugurkan Scott pun tidak terlalu membuat saya shock. Di sini juga saya melihat ada beberapa momen yang kesannya kebetulan banget sehingga ada beberapa karakter yang tinggal sejengkal saja dari kematian malah akhirnya selamat dari kematian. Untuk urusan beginian kayanya Scott harus berguru pada George R.R. Martin deh, ho-ho-ho….

Ketiga, saya sedikit bingung dengan timeline yang ada. Jika pada umumnya masa lalu adalah persiapan untuk masa kini dan nanti, justru di buku ini tidak seperti itu. Scott malah memberikan yang lebih rumit: masa kini adalah hasil persiapan dari masa lalu, dan apa yang ada pada masa kini itu adalah sebagai persiapan untuk masa lalu. Bingung? Saya sendiri juga masih cukup bingung kok. Ditambah lagi dengan perjalanan waktu yang dialami Marethyu. Setelah mengetahui identitas asli Marethyu, saya mencoba merekonstruksi timeline dari Marethyu ini. Dan hasilnya aneh. Bagi saya, waktu adalah sesuatu yang linear. Dan yang dialami Marethyu ini sepertinya sudah tidak masuk dengan kelinearan waktu. Ah, namanya juga cerita fiksi fantasi. Apapun bisa terjadi. Kalau kalian tidak mempermasalahkan dan memusingkan hal seperti ini, abaikan saja paragraf ini.

Satu lagi hal yang harus saya kritisi dari buku ini adalah cukup banyak typo dan penggunaan tanda baca yang kurang tepat. Malahan saya menemukan satu ketidak-konsistenan dalam penerjemahan, yaitu saat penyebutan karakter Elang Hitam menjadi Rajawali Hitam. Semoga hal-hal seperti ini dapat diperbaiki penerbit untuk cetakan-cetakan selanjutnya.

Tapi secara keseluruhan, buku ini masih worth it lah untuk dibaca. Terutama bagi yang sudah dibikin penasaran banget oleh ending serial ini. Yah, meski tidak se-wah yang saya harapkan, sih. Dan seperti biasa, Scott masih menyajikan kemunculan makhluk-makhluk mitologi baru yang belum ada di seri-seri sebelumnya (yang ini patut ditunggu aksi-aksi mereka). Juga seperti seri-seri sebelumnya, buku ini ringan untuk dibaca meski ketebalannya tidak tergolong ringan. Nah, para penikmat saga Nicholas Flamel yang tentunya sudah sangat menantikan seri ini: grab it fast and read it!

 

 

 

The Enchantress (The Secrets of The Immortal Nicholas Flamel #6)
oleh Michael Scott
(Pertama terbit pada Januari 2012)
Penerjemah: Mohammad Baihaqqi dan Lisa Indriana Yusuf
Penerbit Matahati; Cetakan I, Mei 2013
Softcover; 634 halaman; 14 x 21 cm
ISBN: 978-602-85-9042-6
My Rating: 3/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s