Review: Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer

Sebagai pembukaan, akan saya ungkapkan saja identitas Minke yang sebenarnya. Dari kover buku ini dan inisial “T.A.S.” yang muncul di halaman 596, sudah dapat ditebak siapa sebenarnya Minke. Dia adalah R.M. Tirto Adhi Soerjo yang pada November 2006 lalu ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Minimnya sumber bacaan dan literatur tentang dirinya membuatnya sedikit terlupakan dari panggung sejarah bangsa ini. Padahal benih cikal bakal negara dan bangsa Indonesia yang bersatu ada di tangannya. Lewat Tetralogi Buru inilah Pram seakan ingin mengingatkan dan mengenalkan pada kita bahwa ada seseorang, seorang pahlawan nasional, bersenjatakan pena, tinta, dan kertas mampu mengubah jalannya sejarah Hindia hingga menjadi seperti yang kita nikmati sekarang ini.

Jejak Langkah sedikit berbeda dengan dua seri sebelumnya, Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Meski Minke masih sebagai pusat cerita dan sudut pandang bercerita, dalam Jejak Langkah peran Minke lebih mendominasi. Seperti yang pernah diungkapkan Minke sendiri dalam Anak Semua Bangsa, selama ini dia seperti berada di bawah bayang-bayang Nyai Ontosoroh. Tak salah memang. Selama membaca Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa Nyai Ontosoroh lebih terasa perannya dibanding Minke. Karena itu setelah menyelesaikan berbagai urusan hukum dan keluarga di ending Anak Semua Bangsa, Minke memutuskan merantau ke Betawi untuk mencari jati diri dan melanjutkan studi di STOVIA⎯sekolah kedokteran untuk kaum pribumi.

Karena itu lupakan Nyai Ontosoroh, Darsam, Jean Marais, bahkan lingkungan Borderij Buitenzorg yang begitu mendominasi di dua seri sebelumnya. Kisah Minke di buku ini sudah beralih ke ranah Betawi, tempatnya menjalani studi di STOVIA, dan Bumi Priangan, tempatnya melahirkan dan menjalankan Medan Priyayi⎯media pribumi pertama di Hindia.

Minke mengawali kisahnya dalam Jejak Langkah dengan pengalaman-pengalamannya selama studi di STOVIA. Teman-teman baru ia dapatkan di sini, meski tidak banyak. Kehidupannya juga terjamin karena tidur di asrama dan setiap minggu mendapat uang saku dari sekolah. Meski begitu, pendidikan dokter yang dijalaninya tidak sesuai dengan harapannya. Peraturan sekolah yang sangat ketat tidak sesuai dengan karakternya yang mengagungkan kebebasan. Selain itu dirinya diharuskan memakai pakaian adat tradisional Jawa selama mengikuti kegiatan sekolah. Benar-benar berbeda 180 derajat dengan kebiasaan sehari-harinya yang berpakaian Eropa dan bisa bebas ke mana saja.

Saat berstatus siswa STOVIA ini Minke bertemu dengan Ang San Mei berkat wasiat yang diberikan Khouw Ah Soe. Hubungan Minke dengan Mei sangat baik, bahkan kemudian mereka menikah. Setelah memperistri gadis Tionghoa tersebut, pemikiran Minke jadi semakin tajam dan kritis kepada Belanda. Terinspirasi dari beberapa hal⎯gerakan Angkatan Muda di Tiongkok, perlawanan rakyat Filipina terhadap penjajahan Spanyol, dan kemajuan pesat bangsa Jepang di belahan bumi utara, Minke juga terpacu untuk melakukan hal yang sama di Hindia.

Kesempatan itu datang ketika seorang dokter Jawa senior melakukan kuliah umum di STOVIA. Dokter ini⎯yang tak lain adalah dr. Wahidin Soedirohoesodo⎯menekankan kepada murid-murid STOVIA untuk berorganisasi seperti yang telah dilakukan golongan Tionghoa. Dengan berorganisasi, golongan pribumi akan bangun dari tidurnya. Dengan berorganisasi, di dalam diri golongan pribumi akan timbul kesadaran bangsa. Jika tidak segera berorganisasi, pribumi sudah pasti akan semakin jauh tertinggal dengan bangsa-bangsa lain. Jangankan dengan bangsa Jepang yang sudah sederajat dengan bangsa Eropa, dengan golongan Tionghoa dan Arab di Hindia saja golongan pribumi sudah jauh tertinggal.

Kuliah umum dokter Jawa tersebut benar-benar mempengaruhi Minke. Dia pun segera bergerak membentuk organisasi yang dimaksud. Hasilnya terbentuklah Syarikat Priyayi. Bersamaan dengan terbentuknya Syarikat Priyayi, koran mingguan Medan Priyayi pun terbit. Di awal-awal penerbitannya, mingguan ini lebih berfungsi sebagai media penyampai suara organisasi kepada masyarakat. Medan Priyayi pun segera mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat. Namun dalam perjalanannya, Syarikat Priyayi mengalami kemacetan. Meski begitu Minke berhasil mempertahankan Medan Priyayi sebagai sumber informasi, edukasi hukum, dan pengaduan hukum bagi masyarakat pribumi.

Selang beberapa waktu seorang siswa STOVIA bernama Raden Tomo⎯kemudian kita kenal sebagai dr. Soetomo⎯datang kepada Minke untuk berkonsultasi tentang organisasi yang akan dibentuk, Budi Utomo. Raden Tomo juga menawari Minke untuk bergabung ke organisasi tersebut. Minke pun setuju bergabung, tapi di kemudian hari keluar dari organisasi tersebut karena berlainan prinsip.

Minke tetap tak patah arang. Dia masih tetap vokal dan berjuang melalui Medan Priyayi. Hingga di suatu hari dia menyadari bahwa perdagangan juga merupakan kunci kemajuan dan kemakmuran sebuah bangsa. Dari inspirasi ini dia kemudian membentuk Syarikat Dagang Islamiyah (SDI). Tak disangka-sangka SDI berkembang menjadi organisasi raksasa di kawasan Asia Tenggara. Bersama-sama Medan Priyayi menjalankan misi dan propagandanya, SDI menjadi kekuatan yang luar biasa di Hindia. Impian dan cita-cita Minke untuk menggugah dan menggerakkan pribumi Hindia melawan kolonialisme Belanda semakin mendekati kenyataan. Sayangnya sebuah blunder rekan-rekannya di Medan Priyayi mengandaskan hal tersebut.

Ada beberapa kelebihan yang membuat saya sangat menyukai seri ketiga Tetralogi Buru ini. Yang pertama adalah kekayaan alur dan detail sejarahnya, lebih kaya dibanding Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Selain dalam roman Arok Dedes, di sini Pram juga menunjukkan kepiawaiannya meramu fiksi dan fakta sejarah. Lewat Minke, kita dapat membaca proses lahir dan berkembangnya generasi pertama organisasi-organisasi pergerakan pribumi di Hindia.

Mingguan Medan Priyayi
(Sumber: Wikipedia)

Organisasi yang paling disorot dalam buku ini tentu saja Syarikat Priyayi, Budi Utomo, dan Syarikat Dagang Islamiyah. Medan Priyayi juga tidak boleh kita lupakan. Meski bukan sebuah organisasi pergerakan, media ini sangat berperan dalam menunjang kegiatan organisasi-organisasi tersebut. Medan Priyayi justru yang memberikan pengaruh luar biasa kepada masyarakat dalam misi menggugah kesadaran bangsa⎯yang nantinya akan bermuara pada bangkitnya rasa nasionalisme.

Seperti yang disebutkan di awal review ini, Minke memiliki andil yang besar terhadap media dan organisasi-organisasi tersebut. Wajar saja jika Pram lebih fokus pada keempat elemen tersebut dalam mengisahkan benih-benih awal pergerakan nasional Indonesia. Meski begitu hal ini sudah cukup untuk memberikan gambaran pada kita tentang situasi dan landasan yang digunakan sebagai pergerakan nasional pada era tersebut.

Pram juga banyak menyebut nama-nama tokoh yang berperan dalam pergerakan nasional awal. Selain nama-nama yang disebut di awal review, ada juga Thamrin Mohammad Thabrie (ayah M.H. Thamrin), Gadis Jepara (R.A. Kartini), Dewi Sartika, Haji Samadi (K.H. Samanhudi), Marko (Marco Kartodikromo), dan Abdoel Moeis. Mayoritas dari tokoh-tokoh tersebut tidak sekedar numpang lewat. Malahan mereka banyak berperan membantu Minke. Seperti Thamrin Mohammad Thabrie yang berandil besar dalam pembentukan Syarikat Priyayi dan Marko yang bertugas sebagai bodyguard Minke serta ikut membantu kegiatan operasional Medan Priyayi.

R.M. Tirto Adhi Soerjo
(Sumber: Wikipedia)

Hal menarik lain dalam buku ini adalah perkembangan karakter Minke. Di sini Minke semakin matang. Lepas dari bayang-bayang Nyai Ontosoroh sepertinya menjadi salah satu faktor. Sehingga Minke dapat memutuskan segala sesuatunya secara mandiri tanpa campur tangan orang lain. Beberapa situasi yang dihadapinya ketika menjadi siswa STOVIA juga sangat membantu proses kematangannya. Apalagi dia juga selalu bertukar pikiran dengan Ang San Mei, yang pemikirannya sangat maju dan revolusioner. Selain itu pengalaman-pengalaman keras yang dialaminya selama di Surabaya benar-benar membentuk pribadinya menjadi sosok yang tahan banting. Sehingga ketika dia dikeluarkan dari STOVIA pun, hal itu tidaklah menjadi masalah besar baginya. Justru dia mampu memanfaatkannya sebagai titik balik kebangkitannya.

Hal lain yang menarik dari perkembangan karakter Minke adalah sikapnya terhadap bahasa Melayu. Jika di Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa Minke tampak begitu ‘memuja’ bahasa Belanda dan memandang sebelah mata bahasa Melayu, di buku ini justru sebaliknya. Hal ini terjadi setelah dia menyadari bahwa bahasa Melayu merupakan alat yang tepat untuk melakukan propaganda terhadap golongan pribumi.

Sejak itulah sikapnya terhadap bahasa Melayu berubah. Baginya bahasa Melayu adalah bahasa wajib. Bahasa Melayu juga merupakan alat yang tepat untuk menyatukan kaum pribumi yang berbangsa ganda (multietnis). Karena sikap inilah dia kemudian keluar dari Budi Utomo. Dia mengkritik kebijakan Budi Utomo yang hanya menerima orang Jawa sebagai anggota. Bahasa komunikasi Budi Utomo sendiri bukan bahasa Jawa maupun Melayu, melainkan bahasa Belanda. Prinsip berbangsa tunggal ini sangat jauh dari prinsip berbangsa ganda yang dianut Minke.

Sayangnya di buku ini saya menemukan satu kejanggalan. Hal itu adalah ketika Minke berkunjung ke Surakarta untuk menemui Haji Samadi (K.H. Samanhudi) yang merupakan ketua Syarikat Dagang Islamiyah cabang Surakarta. Padahal jika menilik fakta sejarah, organisasi yang dipimpin K.H. Samanhudi bukanlah cabang dari Syarikat Dagang Islamiyah, melainkan organisasi perkumpulan pedagang-pedagang Islam bernama Syarikat Dagang Islam. SDI rintisan K.H. Samanhudi sendiri berdiri lebih dulu daripada SDI rintisan Tirto Adhi Soerjo. Tapi mengingat buku ini bukan buku sejarah, hal ini masih bisa dimaklumi. Mungkin saja Pram mengondisikan hal ini agar cerita sesuai dengan alur yang dirancangnya.

Padatnya informasi sejarah yang dijejalkan Pram memang membuat Jejak Langkah tampak seperti buku sejarah. Ditambah lagi dengan ketebalannya yang memang paling tebal di antara seri-seri Tetralogi Buru yang lain. Namun, tetap ada bagian yang membuat buku ini tetap tampil sebagai sebuah roman. Yang paling utama tentu saja kisah percintaan Minke. Sejak awal seri Tetralogi Buru, Minke sudah digambarkan sebagai seorang pecinta wanita. Jika di dua seri sebelumnya kita membaca kisah cintanya bersama Annelies, di sini kita akan membaca kisah cintanya bersama tiga wanita: Ang San Mei, Maysaroh Marais, dan Prinses van Kasiruta.

Selain itu, bukan Minke namanya jika kisah-kisah hidupnya tidak tragis dan ngenes. Sejak kisahnya di Bumi Manusia, hal ini seakan menjadi trademark dirinya. Pram sendiri sampai sejauh ini mengisahkan hal tersebut dengan sempurna: sangat menyentuh dan memainkan emosi. Dan sekali lagi, di sini Pram mengeksplorasi tragisnya kisah cinta dan nasib Minke seperti yang sudah-sudah. Sepertinya hal ini menjadi pakem Pram dalam mengisahkan serial Tetralogi Buru.

Overall, saya lebih menikmati buku ini sebagai penggemar sejarah, bukan roman. Lewat buku ini wawasan saya bertambah tentang siapa itu Tirto Adhi Soerjo. Di tengah-tengah minimnya literatur dan pustaka yang membahas sosok dan jasa-jasanya, buku ini dapat dipakai untuk mengenal lebih jauh sosok Tirto Adhi Soerjo. Buku ini membuat mata saya terbuka bahwa jauh sebelum sumpah pemuda dirancang dan proklamasi diproklamirkan, ternyata sudah ada putra bangsa yang memiliki visi sejauh itu.

 

N.B.: hal ini mungkin sangat subjektif, sebab pada awalnya saya ingin memberi rating 4/5 pada buku ini. Tapi, apa yang saya baca di sekitar dua puluh halaman terakhir membuat saya berubah pikiran dan memberikan rating 5/5. Dan itu adalah dua puluh halaman yang sangat sentimentil dan mengaduk-aduk emosi.

 

 

 

Jejak Langkah
oleh Pramoedya Ananta Toer
(Pertama terbit pada tahun 1985)
Lentera Dipantara; Cetakan IX, Februari 2012
Softcover; xii + 724 halaman; 13 x 20 cm
ISBN: 979-97312-5-9
My Rating: 5/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s