Review: Inferno karya Dan Brown

Bencana overpopulasi dan isu depopulasi massal masih menjadi hal yang cukup asing bagi sebagian orang. Kebanyakan orang akan memberi empati dan simpatinya pada tragedi-tragedi seperti perang dan bencana alam dibanding overpopulasi. Hal yang wajar. Saat ini kita memang belum terlalu merasakan dampak overpopulasi. Jika populasi menjadi semakin tak terkendali, dampak paling mengerikannya adalah menjadikan manusia kehilangan entitasnya sebagai manusia. Chaos akan ada di mana-mana. Kita akan saling caplok terhadap sesama kita untuk bertahan hidup. Hal ini tentu saja menjadi perhatian beberapa pihak yang menyadarinya. Berbagai upaya mulai ditempuh untuk mengendalikan populasi dunia. Dan isu paling mengerikan untuk mencapai tujuan tersebut adalah depopulasi massal.

Beberapa review yang saya baca tentang buku ini menyebut overpopulasi dan depopulasi massal sebagai topik utama. Saya pun mengamini hal tersebut. Populasi yang tak terkendali memang menjadi masalah utama dunia. Bahkan majalah National Geographic membahas hal ini secara khusus di edisi-edisinya sepanjang tahun 2011 silam. Berbagai dampak negatif overpopulasi pun sudah mulai kita rasakan. Buku ini sendiri memberikan beberapa contoh dampak-dampak tersebut: kebutuhan air bersih, suhu permukaan global, penipisan ozon, konsumsi sumber daya lautan, kepunahan spesies, konsentrasi CO2, penggundulan hutan, dan kenaikan permukaan laut global (h. 196).

 

Grafik yang Menggambarkan Tajamnya Peningkatan Populasi Dunia dalam Beberapa Ratus Tahun Terakhir
Sumber: fte.org

 

Derasnya laju pertumbuhan populasi dunia selama lima puluh tahun terakhir membuat bumi semakin tidak stabil. Kita harus mengakui bahwa bumi semakin rusak dan sempit. Contoh-contoh dampak negatif overpopulasi di atas menguatkan hal ini. Jika populasi dunia tetap tak terkendali, bumi dipastikan tidak akan lagi menjadi tempat yang nyaman bagi manusia. Bumi ini sendiri semakin renta dan mulai tidak kuat menanggung beban tujuh miliar lebih umat manusia yang menghuni permukaannya⎯bahkan jumlah ini akan terus bertambah dan bertambah di masa mendatang.

 

Grafik Peningkatan Populasi Dunia Sejak 1950

 

Tak hanya dunia, kita sebagai manusia juga akan menanggung akibatnya. Yang paling parah tentu saja kepunahan spesies kita. Adalah hal yang normal bagi sebuah spesies untuk punah hanya gara-gara jumlahnya yang terlalu banyak dalam habitatnya. Kita hidup berdasarkan sumber daya yang terdapat dan dihasilkan bumi ini. Sebagai makhluk, kita juga bersimbiosis dengan makhluk-makhluk lain untuk hidup. Beberapa di antara hal-hal tersebut bahkan tidak bisa diperbarui. Overpopulasi tentu saja akan mempercepat penipisan dan habisnya hal-hal yang selama ini menjadi ‘nyawa’ kita. Jika semua sumber daya dan makhluk-makhluk yang kita butuhkan telah habis dan punah, dari mana kita akan hidup?

” … Jika Anda menginginkan tersedianya lebih banyak air bersih per kapita, Anda memerlukan lebih sedikit orang di dunia. Jika Anda ingin menurunkan emisi kendaraan bermotor, Anda memerlukan lebih sedikit pengemudi. Jika Anda menginginkan lautan untuk memulihkan pasokan ikan, Anda memerlukan lebih sedikit orang untuk menyantap ikan!” ~ h. 198

Satu hal yang menjadi pertanyaan adalah: mengapa sebagian besar dari kita seakan tak acuh dengan masalah yang begitu masif ini? Padahal taruhannya begitu besar. Melalui buku ini Dan Brown memberikan jawabannya pada kita: karena manusia memiliki mekanisme yang bernama penyangkalan/denial (h. 300). Postulat yang dikemukakan Sigmund Freud ini menjelaskan bahwa pikiran manusia memiliki mekanisme pertahanan ego primitif yang menafikan semua realitas yang menimbulkan terlalu banyak ketegangan untuk ditangani otak. Inilah yang membuat isu overpopulasi menjadi tak terpikirkan bagi sebagian besar umat manusia.

Meski begitu berbagai cara telah ditempuh untuk menekan laju populasi dunia, terutama di negara-negara dunia ketiga yang sangat rentan dengan ledakan penduduk. Tapi tetap saja umat manusia menciptakan sebuah ironi. Berbagai macam teknologi mutakhir seperti rekayasa genetika, stem cell, dan sejenisnya justru bertentangan dengan misi menekan laju populasi dunia. Mungkin saat ini teknologi tersebut masih bersifat eksklusif untuk orang-orang tertentu saja. Tapi bayangkan jika teknologi ini sudah diterapkan secara massal di masa depan. Di satu sisi kita ingin populasi dunia terkendali, tapi di sisi lain kita juga ingin berumur panjang sebagai individu. Dan Brown dengan cerdas menggambarkan dilema ini sebagai pertarungan abadi antara otak dan hati yang sering menginginkan hal yang berlawanan. Seperti konflik antara Apollo dan Dionysus dalam dunia mitologi (h. 303).

Bicara tentang depopulasi, kurang lengkap rasanya jika tidak membicarakan The Black Death atau Wabah Hitam. Wabah yang terjadi pada pertengahan abad XIV ini begitu fenomenal; bahkan National Geographic Channel menempatkannya di posisi puncak dalam hal bencana paling mengerikan dalam sejarah umat manusia. Pandemi yang disebabkan bakteri Yersinia pestis ini membunuh hampir 60% populasi Eropa pada saat itu. Wabah ini juga berperan dalam menurunkan populasi dunia dari sekitar 450 juta jiwa menjadi 350-375 juta jiwa pada abad XIV. Hal ini berarti hampir 22% populasi dunia lenyap hanya akibat sebuah wabah!

“Ketika semua tempat di dunia penuh sesak oleh penghuni sehingga mereka tak bisa bertahan hidup di tempat mereka berada dan juga tidak bisa pindah ke tempat lain, dunia akan membersihkan dirinya sendiri.” ~ h. 149

Mina-azhzhulumati-ila-annur. Habis gelap terbitlah terang⎯dari kegelapan menuju cahaya. Inilah yang dialami Eropa setelah mengalami zaman kegelapan akibat Wabah Hitam. Justru setelah mengalami depopulasi besar-besaran, Eropa masuk ke dalam zaman renaissance⎯zaman kelahiran kembali, di mana pada zaman ini ilmu pengetahuan dan kebudayaan berkembang sangat pesat di Eropa. Hal inilah yang menginspirasi Bertrand Zobrist⎯ilmuwan maniak dalam cerita buku ini⎯untuk melakukan depopulasi massal. Zobrist berpendapat saat ini manusia berada pada zaman kegelapan, terutama karena populasinya yang tak terkendali. Sehingga satu-satunya jalan untuk mengembalikan manusia kepada renaissance dan kejayaan adalah dengan cara seperti yang dilakukan Wabah Hitam pada abad XIV.

Zobrist telah menciptakan sebuah wabah depopulasi massal dan menyembunyikannya di suatu tempat. Wabah tersebut telah diset sedemikian rupa sehingga akan menyebar secara otomatis pada tanggal yang telah ditentukan. Lokasi titik nol wabah ini hanya Zobrist yang tahu. Cara yang paling memungkinkan untuk mengetahui lokasi tersebut adalah menangkap dan menginterogasi Zobrist. Tapi Zobrist selangkah lebih maju dari musuh-musuhnya. Dia lebih memilih bunuh diri daripada tertangkap dan diinterogasi pihak yang memburunya, World Health Organization (WHO).

Namun Zobrist meninggalkan sebuah ‘warisan’ berupa stempel silinder kuno. Benda ini berisi teka-teki yang akan menunjukkan lokasi penyembunyian wabah ciptaannya. Zobrist sangat fanatik terhadap Dante Alighieri, sastrawan legendaris Italia dari abad XIII-XIV. Karenanya tidaklah mengherankan jika teka-teki dalam stempel tersebut berupa proyeksi lukisan Map of Hell karya Sandro Botticelli. Botticelli sendiri adalah seniman yang karya-karyanya banyak terinspirasi dari Dante dan puisinya yang legendaris, The Divine ComedyMap of Hell adalah satu karya Botticelli yang terinspirasi dari bait-bait puisi Inferno, bagian pertama dari The Divine Comedy. Lukisan ini menggambarkan peta neraka yang paling lengkap dan akurat berdasarkan interpretasi Dante akan neraka dalam Inferno.

 

Map of Hell karya Sandro Botticelli
Sumber: florenceinferno.com

 

Dan dalam buku ini tugas Robert Langdon lah untuk memecahkan teka-teki ‘warisan’ Zobrist tersebut. Masih sama dengan kisah-kisah sebelumnya, kali ini Langdon lagi-lagi ditemani wanita cantik nan cerdas bernama Sienna Brooks dalam petualangan memecahkan teka-teki tersebut. Sienna adalah seorang dokter yang sempat merawat Langdon di sebuah rumah sakit di Florence serta membantunya kabur dari rumah sakit tersebut. Selain cantik, keistimewaan Sienna adalah IQ-nya yang mencapai 208. Jika mencermati karakter-karakter Vittoria Vetra dalam Angels & Demons, Sophie Neveu dalam The Da Vinci Code, Katherine Solomon dalam The Lost Symbol, dan sekarang Sienna Brooks, tampaknya Dan Brown masih enggan meninggalkan pakem ‘wanita cantik dan cerdas’ sebagai partner Langdon.

Formula yang sama juga masih dipakai Dan Brown dalam mengisahkan buku ini. Tempo dan alur yang cepat layaknya cerita thriller, perjalanan menyusuri kota-kota yang menyimpan sejarah serta karya seni eksotis di dunia, narasi-narasi berisi fakta sejarah dan seni yang jarang kita ketahui, hingga kejutan akan identitas sosok antagonis dalam cerita. Semuanya nyaris sama dengan formula kisah-kisah Langdon sebelumnya.

Untuk jalan ceritanya, tidak ada perubahan drastis yang dilakukan Dan Brown. Garis besar alurnya masih seperti ini: Langdon menerima tugas memecahkan teka-teki dari pihak tertentu, bertemu wanita cantik yang kemudian menjadi partner-nya, berkeliling ke museum-museum atau situs-situs bersejarah berdasarkan petunjuk-petunjuk di teka-teki, kemudian kejutan penyingkapan sosok antagonis di bagian akhir cerita.

Hanya saja kali ini Dan Brown memberikan start yang berbeda. Jika biasanya petualangan Langdon diawali ‘penculikan’ dirinya oleh pihak yang membutuhkan bantuannya, kali ini Langdon harus memulai petualangannya dalam keadaan amnesia. Setidaknya alternatif ini sedikit menyegarkan pembaca. Twist yang diciptakan Langdon tentang identitas sang antagonis juga sangat mengejutkan. Saya rasa inilah twist terbaik dari semua seri Robert Langdon.

Selain itu ada beberapa hal yang membuat buku ini tetap menarik bagi saya. Pertama adalah bagaimana Dan Brown mengajak kita berpikir secara logis dan scientific tentang bencana overpopulasi⎯seperti yang telah saya jelaskan di atas. Bagi saya hal inilah yang paling menarik perhatian saya. Bahkan dengan brilian dia mampu mengait-ngaitkan hal ini dengan karya fenomenal dan legendaris Dante.

The Divine Comedy adalah puisi yang menceritakan perjalanan Dante menyusuri dunia bawah (neraka) hingga berakhir di surga. Puisi ini terdiri dari tiga bagian yang menggambarkan perjalanan tersebut: Inferno (neraka), Purgatorio (penyucian), dan Paradiso (surga). Secara ringkas Dante mengajarkan bahwa jalan menuju surga adalah melewati neraka. Hal ini menarik jika dikaitkan dengan masalah overpopulasi dan isu depopulasi di atas.

Overpopulasi membuat dunia ini sangat penuh dan tak nyaman lagi, dianalogikan sebagai sebuah neraka. Sedangkan dunia yang stabil, nyaman, dengan jumlah populasi manusia terkendali dianalogikan sebagai surga. Merujuk pada The Divine Comedy, kita harus melewati penyucian dosa sebelum memasuki surga. Sehingga agar dunia ini layak disebut sebagai surga, kita harus melakukan penyucian dosa yang menyebabkan dunia ini menjadi seperti neraka. Dosa yang dimaksud tentu saja overpopulasi, dan cara penyucian yang ditempuh adalah depopulasi massal. Selain ‘dampak positif’ Wabah Hitam di atas, interpretasi inilah yang membuat Zobrist begitu terobsesi mengurangi populasi dunia.

Hal lain yang membuat buku ini tetap menarik adalah cara Dan Brown menarasikan deskripsi dan fakta-fakta yang berkaitan dengan Dante, InfernoThe Divine Comedy, dan karya seni serta berbagai bangunan bersejarah yang dijumpai Langdon selama memecahkan teka-teki. Semua disampaikan secara ringkas dan lugas, sehingga pembacanya yang awam dengan Dante, The Divine Comedy, serta beberapa sejarah karya seni dalam buku ini akan dengan mudah memahami. Formula ini sebenarnya tidak jauh beda dengan yang dilakukannya di karya-karyanya sebelumnya. Tapi objek-objek sejarah dan karya seni yang dibahas benar-benar baru. Sehingga selain mengejutkan dan mempesona pembacanya, hal ini juga menambah wawasan pembacanya tentang objek bersejarah dan karya seni yang dibahas.

Inferno karya Dan Brown sendiri tak lepas dari kritik dan kontroversi. Bioterorisme, rekayasa genetika, dan depopulasi massal adalah isu yang serius dan kontroversial. Tapi saya salut kepada Dan Brown karena berani mengangkatnya dalam buku ini. Saya juga salut dengan kapabilitasnya membentuk pandangan pembacanya tentang isu-isu tersebut lewat buku ini. Keberanian dan kapabilitas mengangkat isu yang kontroversial ini membuat saya begitu menikmati buku ini. Lewat buku ini, Dan Brown telah menunjukkan bahwa secara diam-diam ada bencana besar mengancam umat manusia jika umat manusia tetap tak acuh dengan potensi bencana tersebut.

“Jika kau bisa menekan sebuah tombol yang akan membunuh secara acak setengah populasi dunia, akankah kau melakukannya?” ~ Bertrand Zobrist

“Tempat tergelap di neraka dicadangkan bagi mereka yang tetap bersikap netral di saat krisis moral.” ~ Dante Alighieri

 

 

Inferno
oleh Dan Brown
(Pertama terbit pada Mei 2013)
Alih bahasa: Ingrid Dwijani Nimpoeno & Berliani Mantili Nugrahani
Bentang Pustaka; Cetakan II, Oktober 2013
Softcover; 644 halaman; 15,5 x 23,5 cm
ISBN: 978-602-7888-55-5
My Rating: 4/5

3 thoughts on “Review: Inferno karya Dan Brown

  1. Wah! Reviunya lengkap dan menarik. Bikin saya jadi punya gambaran sangat jelas tentang buku ini. Jadi pengen baca juga. Tapi harganya…😀

  2. saya baru selesai baca buku ini, sebelumnya saya juga udah baca buku2 dan brown yg lainnya. Dan boleh dibilang saya SUKAAA sama buku ini😀 walopun ga semenegangkan buku2 dan brown terdahulu tapi buku buku ini menurut saya yg paling gampang dimengerti meskipun sebelumnya saya belum pernah mendengar DANTE dan “divine comedy”-nya. Ide Dan Brown menyambungkan DANTE dengan cerita yang dia buat menurut saya LUAR BIASA😀

    But still…my fav book of dan brown is The Lost Symbol

  3. Saya suka cara Dan Brown mengupas isu overpopulasi.. untuk referensi boleh juga baca buku The Doomsday 2012 ~ James Rollin dan The Ark Boyd Morrison.. kedua buku ini sebelum Inferno dirilis.. ada satu kesamaan ditiga buku itu. Satu kecemasan yang sama..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s