Angels and Demons Versi Paulo Coelho

Resensi buku ini dibuat dalam rangka ikut berpartisipasi dalam Lomba Resensi Buku ReadingWalk.com

Seorang pria asing tiba di sebuah desa yang sunyi dan terpencil bernama Viscos. Berta—salah satu penduduk desa tersebut—yang pertama kali melihat kedatangan pria tersebut menyadari bahwa orang asing tersebut ditemani sang Iblis. Semua tampak tenang-tenang saja hingga pria asing itu—yang suatu saat nanti mengaku bernama Carlos dan berumur 52 tahun—bertemu dengan Chantal Prym. Chantal adalah seorang gadis yatim piatu dari Viscos—bahkan gadis paling muda di desa itu—dan sudah sejak lama ingin meninggalkan desa itu. Keinginannya itu sedikit mendapat titik cerah ketika mendengar penawaran Carlos.

Carlos meminta Chantal untuk mengumumkan kepada penduduk desa tentang keberadaan batang-batang emas yang dikuburnya di hutan—satu dikubur di dekat batu berbentuk Y dan sepuluh dikubur di dekat batu berbentuk elang. Penduduk desa diperkenankan memiliki sepuluh batang emas jika mereka melakukan apa yang diinginkannya, yaitu melanggar salah satu dari Sepuluh Perintah Allah: jangan membunuh. Sementara itu Chantal dipersilakan oleh Carlos untuk mencuri satu batang emas yang dikuburnya itu jika ia punya nyali. Dan itu berarti Chantal juga melanggar salah satu dari Sepuluh Perintah Allah, yaitu jangan mencuri. Semua itu dilakukan Carlos demi membuktikan apa yang selama ini dipercayainya bahwa pada hakikatnya manusia itu jahat.

Continue reading

Advertisements

Neuro Linguistic Programme ala Paulo Coelho

Paulo tidak mengira bahwa dia harus jauh-jauh terbang ke Eropa untuk mendapatkan sesuatu yang sangat diinginkannya, yaitu Pedang Sang Magi. Kedatangannya ke Eropa tersebut membawanya ke sebuah perjalanan melalui jalan yang di abad pertengahan dikenal sebagai Jalan Misterius menuju Santiago. Dan perjalanan itu bukanlah sebuah perjalanan biasa, tetapi sebuah perjalanan ziarah yang suci bagi umat Kristiani. Dengan ditemani pemandunya yang misterius bernama Petrus, Paulo melakukan perjalanan sejauh tujuh ratus kilometer dari Saint-Jean-Pied-de-Port di Prancis hingga Katedral Santiago de Compostela di Spanyol. Di perjalanan itu pula Paulo mengalami banyak ujian. Mulai dari yang mempertaruhkan nyawanya hingga bertemu dan melawan iblis. Bukan hanya demi menemukan pedang yang diinginkannya, tapi juga demi menemukan arti hidup, kebijaksanaan, dan keimanan.

***

Setelah menyelesaikan buku ini—hingga saya menulis review ini—saya masih belum dapat memastikan apakah buku ini murni fiksi atau memoar dari Paulo Coelho. Jika ini adalah sebuah cerita fiksi, maka ini adalah cerita yang dikemas secara luar biasa oleh Paulo Coelho karena menyajikan banyak fakta historis yang menarik dan pelajaran hidup yang luar biasa. Dan jika ini adalah sebuah memoar, maka hanya satu tanggapan saya: speechless!

Continue reading

Pelajaran Hidup dari Seorang Pelacur

Maria adalah seorang gadis muda dan lugu dari pedalaman Brazil. Sejak kecil dia mendambakan suatu saat nanti dia akan menemukan cinta sejatinya. Namun, hal itu tidak kunjung didapatkannya ketika dia mulai beranjak dewasa. Nasibnya seakan-akan berubah ketika di Rio de Janeiro dia mendapatkan tawaran untuk menjadi seorang aktris di Swiss. Bayangan menjadi seorang aktris terkenal, kaya, dan siapa tahu di Swiss nanti akan menemukan cinta sejati membuat Maria menerima tawaran tersebut. Tapi, hal tersebut hanya janji manis belaka. Kenyataannya Maria harus menjadi pelacur untuk bertahan hidup di lingkungan yang sama sekali asing baginya. Impiannya untuk menemukan cinta sejati seketika punah saat menjalani profesi tersebut. Namun, segalanya berubah ketika dia bertemu Ralf, seorang pelukis yang ditemuinya di sebuah bar. Pelan-pelan pria itu masuk ke kehidupannya dan mengubah pandangannya: Apakah benar di dalam dirinya masih ada cahaya? Haruskah dia berhenti menjalani profesi sebagai pelacur? Apakah cinta sejati memang benar-benar ada? Dan apakah seks bisa menjadi sesuatu yang sakral?

***  

Eleven Minutes—Sebelas Menit. Sebuah judul buku yang mengundang tanda tanya dari penulis sekelas Paulo Coelho. Apalagi jika dikaitkan dengan sinopsis yang ada di kover belakang buku yang menyatakan buku ini secara garis besar bercerita tentang kisah perjalanan hidup seorang pelacur. Tanda tanya itu membuat saya nekad untuk membeli dan membaca buku ini meski pengalaman saya sebelumnya dalam membaca karya Paulo Coelho—yaitu The Alchemist—tidak terlalu menyenangkan. Meski dibayang-bayangi keraguan oleh isi buku ini—seperti bahasa yang berat, alur cerita dan pesan-pesan filosofis tersirat yang sulit dipahami—rasa penasaran saya untuk mencari kaitan antara judul dan jalan cerita buku ini mengalahkan keraguan saya tersebut. Dan jadilah saya untuk membeli buku ini.

Continue reading

Setiap Orang adalah Alkemis

Santiago adalah seorang penggembala domba dari daratan Andalusia. Di suatu waktu ia mengalami mimpi yang sama sebanyak dua kali. Dalam mimpi tersebut ia dibawa ke piramida di Mesir dan diberi tahu bahwa di situ ia akan menemukan harta karun. Dan dalam salah satu perjalanannya menggembala domba ia meminta seorang perempuan Gipsi untuk menafsirkan mimpi tersebut. Sang perempuan Gipsi menyarankan Santiago untuk mencari harta karun tersebut dengan meminta imbalan sepersepuluh bagian dari harta karun itu. Tapi, Santiago masih ragu menuruti saran perempuan Gipsi tersebut. Di saat itu ia justru bertemu Raja Salem. Sang raja juga memberikan saran serupa dengan meminta imbalan sepersepuluh jumlah dombanya. Akhirnya Santiago memutuskan mencari harta karun itu. Petualangan baru pun dihadapinya—melintasi benua menuju Afrika dan melewati padang pasir yang ganas. Berulang kali pula ia kehilangan hartanya dan berkali-kali pula ia menemui jenis orang yang berbeda-beda. Termasuk Sang Alkemis, orang yang berjasa besar membantunya menemukan harta karun itu.

***

The Alchemist sebenarnya buku karya Paulo Coelho yang pertama saya beli, tapi bukanlah karya Paulo Coelho yang pertama kali saya baca secara tuntas. Saya membeli buku ini hampir dua tahun yang lalu karena rekomendasi dari sahabat saya. Namun, setelah terbeli saya malah tidak pernah menuntaskannya. Begitu beberapa waktu yang lalu saya membaca Eleven Minutes—karya Paulo Coelho lainnya—dan dibuat terpukau olehnya, maka saya benar-benar meniatkan untuk membaca ulang dan menuntaskan buku ini. Dan keputusan tersebut memang tepat karena buku ini memang luar biasa!

Continue reading