Review: Inferno karya Dan Brown

Bencana overpopulasi dan isu depopulasi massal masih menjadi hal yang cukup asing bagi sebagian orang. Kebanyakan orang akan memberi empati dan simpatinya pada tragedi-tragedi seperti perang dan bencana alam dibanding overpopulasi. Hal yang wajar. Saat ini kita memang belum terlalu merasakan dampak overpopulasi. Jika populasi menjadi semakin tak terkendali, dampak paling mengerikannya adalah menjadikan manusia kehilangan entitasnya sebagai manusia. Chaos akan ada di mana-mana. Kita akan saling caplok terhadap sesama kita untuk bertahan hidup. Hal ini tentu saja menjadi perhatian beberapa pihak yang menyadarinya. Berbagai upaya mulai ditempuh untuk mengendalikan populasi dunia. Dan isu paling mengerikan untuk mencapai tujuan tersebut adalah depopulasi massal.

Beberapa review yang saya baca tentang buku ini menyebut overpopulasi dan depopulasi massal sebagai topik utama. Saya pun mengamini hal tersebut. Populasi yang tak terkendali memang menjadi masalah utama dunia. Bahkan majalah National Geographic membahas hal ini secara khusus di edisi-edisinya sepanjang tahun 2011 silam. Berbagai dampak negatif overpopulasi pun sudah mulai kita rasakan. Buku ini sendiri memberikan beberapa contoh dampak-dampak tersebut: kebutuhan air bersih, suhu permukaan global, penipisan ozon, konsumsi sumber daya lautan, kepunahan spesies, konsentrasi CO2, penggundulan hutan, dan kenaikan permukaan laut global (h. 196).

 

Grafik yang Menggambarkan Tajamnya Peningkatan Populasi Dunia dalam Beberapa Ratus Tahun Terakhir
Sumber: fte.org

 

Continue reading

Review: The Ocean at the End of the Lane karya Neil Gaiman

Neil Gaiman kembali dengan salah satu dongeng terbarunya. Seperti layaknya dongeng, The Ocean at the End of the Lane mengisahkan petualangan seorang anak di dunia absurd. Dongeng-dongeng ciptaannya selalu tidak terkesan childish, sehingga orang dewasa dapat menikmatinya. Pun dalam kisah ini, di mana ide cerita yang sederhana diolahnya secara abstrak, absurd, dan dibaluti nuansa horor nan gelap yang akan mengusik imajinasi kita.

Dengan setting di sebuah pedesaan Sussex, Inggris, Neil Gaiman menceritakan kisah ini melalui tokoh Aku, sang narator dan tokoh utama cerita. Di sini Neil Gaiman kembali menjadikan seorang anak sebagai pusat cerita seperti yang pernah dilakukannya dalam Coraline dan The Graveyard Book. Persamaan lain ketiga cerita ini adalah ketiga tokoh utama cerita tersebut sama-sama menghadapi dunia yang absurd. Coraline menemukan dunia baru di balik tembok yang berisi duplikasi orang-orang di kehidupannya. Bod dalam The Graveyard Book dibesarkan di pemakaman oleh hantu-hantu pemakaman tersebut. Lalu sang narator dalam kisah ini mengalami hal-hal aneh dan absurd dalam kehidupannya setelah ulang tahunnya yang ketujuh.

Continue reading

Review: Hiroshima karya John Hersey

Dijatuhkannya bom atom di kota Hiroshima adalah salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah yang sampai sekarang, bahkan nanti, tidak akan terlupakan. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 6 Agustus 1945 ini mencatatkan rekor baru, yaitu penggunaan bom atom dalam peperangan untuk pertama kalinya di panggung sejarah dunia. Hiroshima menjadi sasaran percobaan pertama proyek yang dinamai Manhattan Project tersebut. Dan dampak yang ditimbulkan proyek yang menelan US$1,89 miliar itu sungguh luar biasa. Setelah pengeboman tersebut Jepang menyerah kepada Sekutu di Perang Dunia II. Dan dampak yang sangat menyentuh sisi kemanusiaan adalah terbunuhnya ratusan ribu orang dan masih banyak korban yang harus menanggung cacat seumur hidup.

Kengerian detik-detik menjelang, selama, dan pasca-pengeboman tersebut digambarkan John Jersey dalam bukunya ini. Bersumber dari hasil wawancara para korban yang selamat, jurnalis yang pernah memenangi Pulitzer Prize ini menuliskan kisah para korban dengan gaya ala cerita fiksi yang enak dibaca. Lewat tulisannya ini kita bisa ikut mengetahui dan merasakan langsung bagaimana rasanya berada di tengah-tengah tragedi kemanusiaan ini.

Continue reading

Review: Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer

Sebagai pembukaan, akan saya ungkapkan saja identitas Minke yang sebenarnya. Dari kover buku ini dan inisial “T.A.S.” yang muncul di halaman 596, sudah dapat ditebak siapa sebenarnya Minke. Dia adalah R.M. Tirto Adhi Soerjo yang pada November 2006 lalu ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Minimnya sumber bacaan dan literatur tentang dirinya membuatnya sedikit terlupakan dari panggung sejarah bangsa ini. Padahal benih cikal bakal negara dan bangsa Indonesia yang bersatu ada di tangannya. Lewat Tetralogi Buru inilah Pram seakan ingin mengingatkan dan mengenalkan pada kita bahwa ada seseorang, seorang pahlawan nasional, bersenjatakan pena, tinta, dan kertas mampu mengubah jalannya sejarah Hindia hingga menjadi seperti yang kita nikmati sekarang ini.

Jejak Langkah sedikit berbeda dengan dua seri sebelumnya, Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Meski Minke masih sebagai pusat cerita dan sudut pandang bercerita, dalam Jejak Langkah peran Minke lebih mendominasi. Seperti yang pernah diungkapkan Minke sendiri dalam Anak Semua Bangsa, selama ini dia seperti berada di bawah bayang-bayang Nyai Ontosoroh. Tak salah memang. Selama membaca Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa Nyai Ontosoroh lebih terasa perannya dibanding Minke. Karena itu setelah menyelesaikan berbagai urusan hukum dan keluarga di ending Anak Semua Bangsa, Minke memutuskan merantau ke Betawi untuk mencari jati diri dan melanjutkan studi di STOVIA⎯sekolah kedokteran untuk kaum pribumi.

Continue reading

‘Horor’ itu Bernama Kehidupan

Nobody Owens⎯panggilannya Bod⎯adalah anak biasa, benar-benar biasa, seandainya dia tidak tinggal di kompleks pemakaman, dibesarkan oleh hantu-hantu, dengan wali yang tidak berasal dari dunia orang hidup maupun orang mati. Banyak petualangan di pemakaman itu, dan kalau Bod pergi ke dunia luar, dia terancam bahaya dari pria bernama Jack⎯yang telah membunuh seluruh keluarga Bod.

 

Tidak salah memang jika The Daily Express menyebutkan bahwa kekuatan terbesar Neil Gaiman adalah kemampuannya yang luar biasa untuk mengingatkan pembaca bagaimana rasanya menjadi anak kecil. Di buku ini saya merasakan bagaimana menikmati sensasi tersebut. Adalah Nobody Owens⎯biasa dipanggil Bod⎯yang membuat saya kembali merasakan kilas balik ke masa bertahun-tahun yang lalu. Masa di mana saya merasakan masa kecil dan segala hal yang berhubungan dengan bagaimana rasanya menjadi anak kecil.

Membaca buku ini mampu membawa saya ke dalam tiga tahapan yang berbeda. Tahapan-tahapan ini adalah bagaimana Gaiman menggiring cerita dan mengenalkan karakter Bod kepada kita lewat delapan bab buku ini. Jika diukur dalam bentuk kurva, tahapan-tahapan ini terasa menanjak karena karakter Bod berkembang di setiap bab yang otomatis membuat cerita buku ini semakin berkembang.

Continue reading

The End of the Immortal Nicholas Flamel’s Saga

San Francisco:
Hidup Nicholas dan Perenelle Flamel tersisa satu hari lagi, namun masih ada pekerjaan yang harus dilakukan. Mereka harus mempertahankan San Francisco. Monster-monster yang terkumpul di Pulau Alcatraz telah dilepas dan dalam perjalanan ke kota. Jika tidak dihentikan, mereka akan menghancurkan segala sesuatu yang mereka lalui, termasuk manusia.

Meskipun mendapatkan bantuan dari dua prajurit terbesar dalam sejarah dan mitos, dapatkah sang Sorceress dan sang Alchemyst mempertahankan kota? Ataukah ini awal dari kehancuran humani?

Danu Talis:
Sophie dan Josh Newman melakukan perjalanan sepuluh ribu tahun ke masa lalu ke Danu Talis saat mereka mengikuti Dr. John Dee dan Virginia Dare. Dan di pulau legendaris inilah pertempuran bagi dunia dimulai dan berakhir. Scathach, Prometheus, Palamedes, Shakespeare, Saint-Germain, dan Joan of Arc juga ada di pulau itu. Namun, tak ada yang yakin apa atau siapa yang akan dibela oleh si kembar.

Inilah penentuan apakah pertempuran untuk Danu Talis akan dimenangkan atau justru dikalahkan. Akankah si kembar di pihak yang sama? Ataukah mereka akan saling berperang Satu dari si kembar akan menyelamatkan dunia, dan yang satu lagi akan menghancurkannya?

 

Continue reading

Foucault’s Pendulum: Kemewahan yang Belum Bisa Saya Nikmati Sepenuhnya

Luar biasa….
Luar biasa… akhirnya setelah enam bulan, saya selesai juga membacanya. Saya bilang ‘luar biasa’ karena buku ini memang luar biasa membuat heran, luar biasa menguji kesabaran, dan luar biasa mengusik rasa penasaran.

Ya, memang itulah yang saya rasakan ketika akan, saat, dan selesai membaca buku ini. Jika kalian sedang tertarik untuk memulai membaca buku ini, janganlah terlalu terpesona dengan ‘racun’ yang terpampang di kover depan buku ini: Novel konspirasi yang melibatkan berbagai perkumpulan rahasia besar dunia. Sebab setelah membaca buku ini, menurut saya alternatif yang lebih tepat untuk menggantikan kalimat tersebut adalah: Buku kumpulan sejarah konspirasi yang melibatkan berbagai perkumpulan rahasia besar dunia. Dan karenanya buku ini masuk ke dalam buku paling berat yang pernah saya baca.

Continue reading

Le Death c’est Mon Ami

Temperance Brennan, seorang ahli antropologi forensik, diminta mengidentifikasi jenazah seorang biarawati yang telah meninggal lebih dari satu abad. Tugas yang dibebankan kepadanya oleh keuskupan di Montreal ini tampaknya sebuah tugas yang sederhana dan menarik.

Tugas tersebut ternyata memiliki titik singgung dengan tugas berikutnya yang menyeretnya ke dalam petualangan yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidupnya. Peristiwa demi peristiwa yang muncul silih berganti membawanya ke dalam jalinan misteri yang mengerikan dan sejumlah pembunuhan yang kekejamannya jauh melebihi batas-batas akal sehat manusia.

Semuanya diawali oleh usaha pengidentifikasian tulang-belulang sejumlah korban pembunuhan di sebuah rumah yang terbakar hebat di tengah bekunya cuaca di Quebec, Kanada. Salah satu korban adalah seorang nenek berusia 80-an tahun yang tewas ditembak, serta sepasang pria dan wanita serta dua bayi yang dibantai dengan cara yang membuat bulu kuduk merinding. Satu sosok lagi ditemukan dalam kondisi yang lebih mengenaskan. Selain itu, dua mayat wanita ditemukan pula di sebuah pulau surga bagi primata di North Carolina, dengan kondisi yang sama.

Continue reading

Quo Vadis: An Intreview

Kawan, saya punya cerita. Beberapa waktu yang lalu saya didatangi KPK. Eit, jangan salah sangka! Saya tidak sedang berada di pusaran korupsi yang sedang ramai di negeri ini. KPK yang mendatangi saya ini bukanlah Komisi Pemberantasan Korupsi yang sedang jadi buah bibir di negeri ini, melainkan Komisi Pecinta Klasik yang merupakan KPK-nya negara sebelah, Negeri Dingawang. Saya juga kaget karena baru tahu ada negara bernama Negeri Dingawang, punya KPK pula! Dan usut punya usut, ternyata KPK-nya negara sebelah ini punya tugas menginvestigasi semua orang-orang di bumi yang menyukai hal-hal berbau klasik, termasuk buku. Apalagi kalau buku itu termasuk yang bikin ngawang. Wah, dijamin tambah seneng deh, KPK-nya negara sebelah!

Continue reading

Dunia Ini Bukanlah Sebuah Pasar Malam

Bukan Pasarmalam adalah salah satu karya awal Pram yang pertama kali terbit pada tahun 1951. Dalam sejarahnya, buku ini pernah diterbitkan oleh beberapa penerbit, salah satunya adalah Balai Pustaka. Larangan beredar pada tahun 1965 pun pernah menghiasi sejarah karya Pram yang satu ini. Karena ini adalah salah satu karya awal Pram, nuansa kritik sosial dan politik kurang terasa kental di dalamnya. Hal ini cukup bisa dimaklumi mengingat pada periode awal 1950-an itu Pram sedang berada di fase awal kedekatannya dengan Lekra dan baru berangkat menuju puncak ideologinya.Menurut saya, entah benar atau tidak, cerita buku ini didasari oleh salah satu babak kehidupan Pram sendiri. Buku ini sendiri diceritakan dari sudut pandang orang pertama yang menyebut dirinya sendiri “aku”, yang pulang menuju kampung halamannya di Blora untuk menjenguk ayahnya yang sedang sakit TBC. Pergolakan batin sempat dirasakan sang aku karena sebelumnya ia menuliskan surat bernada keras kepada ayahnya. Tapi, balasan surat dari ayahnya tanpa diduganya sangat bertolak belakang dengan surat yang ditulisnya. Begitu mendapat kabar bahwa ayahnya sakit, ia diliputi perasaan berdosa karena merasa bertanggung jawab atas keadaan yang menimpa ayahnya. Kemudian berangkatlah ia menuju Blora dan kisah yang dituturkan selanjutnya pun lebih banyak di seputaran tempat tersebut.

Continue reading