Review: Hiroshima karya John Hersey

Dijatuhkannya bom atom di kota Hiroshima adalah salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah yang sampai sekarang, bahkan nanti, tidak akan terlupakan. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 6 Agustus 1945 ini mencatatkan rekor baru, yaitu penggunaan bom atom dalam peperangan untuk pertama kalinya di panggung sejarah dunia. Hiroshima menjadi sasaran percobaan pertama proyek yang dinamai Manhattan Project tersebut. Dan dampak yang ditimbulkan proyek yang menelan US$1,89 miliar itu sungguh luar biasa. Setelah pengeboman tersebut Jepang menyerah kepada Sekutu di Perang Dunia II. Dan dampak yang sangat menyentuh sisi kemanusiaan adalah terbunuhnya ratusan ribu orang dan masih banyak korban yang harus menanggung cacat seumur hidup.

Kengerian detik-detik menjelang, selama, dan pasca-pengeboman tersebut digambarkan John Jersey dalam bukunya ini. Bersumber dari hasil wawancara para korban yang selamat, jurnalis yang pernah memenangi Pulitzer Prize ini menuliskan kisah para korban dengan gaya ala cerita fiksi yang enak dibaca. Lewat tulisannya ini kita bisa ikut mengetahui dan merasakan langsung bagaimana rasanya berada di tengah-tengah tragedi kemanusiaan ini.

Continue reading

Advertisements

Memoar Sang Maestro tentang Jalan Raya Pos

Selayang Pandang

Herman Willem Daendels. Dia adalah salah satu nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang paling saya ingat sejak bersekolah di bangku SD. Kenapa? Tentu saja karena prestasi dan warisannya yang sangat fenomenal, yaitu jalan raya sepanjang 1.000 km yang membentang dari Anyer sampai Panarukan. Apalagi jalan raya tersebut masih dapat kita telusuri saat ini dan secara tidak resmi dinamakan/dikenal sebagai Jalan Daendels. Tak heran jika Daendels adalah salah satu dari 71 Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang paling mudah “dikenang”.

Sayangnya tidak banyak literatur yang membahas detail pembangunan jalan raya yang sangat fenomenal itu. Bahkan mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa pembangunan jalan raya tersebut adalah salah satu bentuk genosida paling mengerikan dalam sejarah. Hal itulah yang menyebabkan Pram tergugah untuk menuliskan buku ini. Pram mencoba menjabarkan pada kita sisi kelam dari pembangunan jalan raya tersebut⎯di mana pembangunan tersebut menumpahkan begitu banyak keringat, air mata, dan darah para anak bangsa.

Continue reading

Mencermati Kisah Samurai dan Sejarahnya

Meski buku ini berukuran cukup mini, isi buku ini tidaklah semini penampilannya. Lewat buku ini kita seperti diajak Paul Varley berkelana menggunakan mesin waktu. Mulai dari zaman Nara dan Heian di sekitar abad VIII hingga zaman restorasi Meiji di pertengahan abad XIX akan kita kunjungi untuk mengikuti sejarah perkembangan samurai. Semua dibahas secara lugas dan ringkas oleh Paul Varley sehingga buku ini padat akan wawasan sejarah dan tidak membutuhkan terlalu banyak halaman.

Mayoritas dari kita sendiri pasti sudah mengenal apa itu samurai. Kebanyakan pasti akan mendefinisikan samurai sebagai prajurit kuno Jepang yang ke mana-mana selalu membawa pedang dan identik pula dengan tindakan bunuh diri demi kehormatan yang disebut seppuku. Definisi tersebut memang tidak salah. Tapi setelah membaca buku ini, saya menyadari bahwa samurai tidak hanya sebatas itu. Samurai ternyata memiliki makna dan sejarah yang jauh melebihi pengucapan namanya yang hanya terdiri dari tiga suku kata. Sejarah itu tak hanya dalam hitungan puluhan atau ratusan tahun, melainkan lebih dari seribu tahun!
Continue reading

Membaca Kisah Obama

Jangan mengira bahwa buku ini mengisahkan riwayat hidup Barack Obama dari masa kecil hingga mampu meraih kursi presiden Amerika Serikat. Buku ini justru “hanya” mengisahkan sebagian riwayat kehidupan Obama karena pertama kali diterbitkan pada tahun 1995—jauh sebelum dia terpilih menjadi presiden. Sejatinya buku ini ditulis karena Obama terpilih sebagai orang Afrika-Amerika pertama yang menjabat presiden Harvard Law Review. Fenomena ini membuat Obama yang sebelumnya bukanlah siapa-siapa menjadi sorotan pada periode itu. Publisitas itu membuat Obama mendapat tawaran dari beberapa penerbit untuk menulis sebuah buku yang pada akhirnya menghasilkan karya berjudul Dreams from My Father ini.

Dalam autobiografi ini Obama membagi riwayat hidupnya ke dalam tiga bagian. Di bagian pertama yang berjudul Asal-Usul dia mengisahkan kehidupan masa kecilnya hingga menjalani kuliah di New York. Lalu di bagian kedua yang berjudul Chicago dia mengisahkan hari-harinya menjalani kehidupan di kota tersebut sebagai aktivis sebuah organisasi penggalangan massa. Dan di bagian terakhir yang berjudul Kenya dia mengisahkan perjalanan pencarian jati dirinya dengan mengunjungi sanak keluarganya di Kenya.

Continue reading

Catatan Perjalanan dari Negeri-Negeri “-stan”

Buku ini adalah buku perjalanan/traveling terbaik yang pernah saya baca. Buku ini tidak seperti buku-buku traveling pada umumnya. Jika buku-buku traveling pada umumnya bercerita tentang kisah perjalanannya, keindahan tempat yang dikunjungi, dan kadang terkesan “hura-hura”, buku ini justru memberikan bonus berupa “keprihatinan” selama melakukan perjalanan dan sejarah budaya setempat.

Di dalam buku ini Agustinus Wibowo (atau juga sering disapa Avgustin) mampu membawa kita untuk berimajinasi menjelajahi negeri-negeri di Asia Tengah, yang uniknya semua namanya berakhiran -stan. Mulai dari Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan. Masing-masing negeri tersebut ternyata menyimpan tempat, budaya, dan cerita-cerita unik yang bahkan mampu membuat kita terheran-heran ketika membacanya.

Continue reading

Mengenal Lebih Jauh Sosok Kartini

Raden Ajeng Kartini. Kita pasti mengenalnya sebagai seorang tokoh pelopor emansipasi wanita di Indonesia. Mulai dari anak SD sampai rata-rata orang usia dewasa pasti mengenal Kartini pada batas itu. Saya pun tidak lepas dari mindset tersebut hingga saya membaca karya Pram yang sangat luar biasa ini. Karyanya ini benar-benar membuat pandangan saya terhadap Kartini berubah total. Sekarang saya menjadi lebih kagum kepada Kartini karena dia bukan hanya pemikir yang luar biasa cerdas, tapi sekaligus pejuang yang sangat gigih dan seorang seniman yang luar biasa.

Buku yang membahas Kartini sangat jarang kita temui. Dan dari buku-buku yang ada itu saja hampir bisa dipastikan sangat jarang ada yang membacanya. Mungkin karena inilah kebanyakan dari kita tidak mengenal dengan baik siapa sosok Kartini sebenarnya. Nah, karya Pram ini adalah salah satu buku dari sekian buku yang membahas Kartini itu. Karena buku ini ditulis oleh Pram—yang kita tahu bahwa dia antifeodalisme—maka kita akan diajak mengenal Kartini sebagai sosok yang (juga) antifeodalisme. Dari membaca judul buku ini saja kita akan langsung merasakan hal tersebut. Panggil Aku Kartini Saja bukanlah sebuah kalimat rekaan Pram, melainkan sebuah kalimat dari Kartini sendiri yang diambil dari penggalan suratnya kepada Estelle Zeehandelaar (sahabat penanya) pada tanggal 25 Mei 1899. Menurut Pram kalimat tersebut adalah sebuah bentuk penolakan Kartini terhadap feodalisme pribumi yang di waktu itu merupakan hal yang sangat lumrah.

Continue reading

Ayo Cetak Duit dengan Passion!

Buku-buku tentang langkah-langkah berbisnis dan entrepreneurship banyak bertebaran di luar sana. Tapi, jika Anda secara spesifik mencari buku yang memberikan langkah-langkah berbisnis yang sesuai dengan hobi dan passion Anda, buku inilah pilihannya. Dalam buku ini kita akan menemui beberapa kiat dari Dedy Dahlan untuk memulai bisnis/karier yang sesuai dengan passion kita. Kiat-kiat tersebut disampaikan secara runut dalam satu bab pendahuluan dan diikuti dengan tujuh bab materi dengan bahasa yang lugas, santai, dan mudah dipahami.

Di awal buku ini Dedy Dahlan akan mengajak kita merenung, sebenarnya apa sih impian finansial kita? Kalau kita menjawab ingin punya bisnis, buat apa sebenarnya punya bisnis sendiri? Nah, kalau kita ingin menjadi kaya dan punya banyak uang dengan memiliki bisnis sendiri, maka di sini Dedy Dahlan akan membuka mata kita bahwa berbisnis itu bukan sekedar mengumpulkan kekayaan. Justru tujuan berbisnis itu bukan menjadi kayanya, tapi lebih ke menikmati setiap proses yang ada dan bagaimana kita menjalaninya dengan suka cita. Selain itu, Dedy Dahlan juga mengajarkan bahwa ada yang lebih penting daripada sekedar uang dalam berbisnis maupun berkarier, yaitu kepuasan pribadi atau emotional income! Sebab percuma saja kita memiliki uang segunung tapi tidak memiliki kepuasan emosional sama sekali. Inilah pondasi pertama yang disampaikan Dedy Dahlan pada kita, bahwa agar kita dalam melakukan sesuatu—entah itu bekerja, berkarier, berbisnis—semuanya harus dilakukan dengan rasa suka cita. Dan jika kita melakukan sesuatu yang sesuai dengan passion kita, maka otomatis kita akan melakukan hal tersebut dengan sepenuh hati dan suka cita. Inilah pentingnya passion!

Continue reading