Quo Vadis: An Intreview

Kawan, saya punya cerita. Beberapa waktu yang lalu saya didatangi KPK. Eit, jangan salah sangka! Saya tidak sedang berada di pusaran korupsi yang sedang ramai di negeri ini. KPK yang mendatangi saya ini bukanlah Komisi Pemberantasan Korupsi yang sedang jadi buah bibir di negeri ini, melainkan Komisi Pecinta Klasik yang merupakan KPK-nya negara sebelah, Negeri Dingawang. Saya juga kaget karena baru tahu ada negara bernama Negeri Dingawang, punya KPK pula! Dan usut punya usut, ternyata KPK-nya negara sebelah ini punya tugas menginvestigasi semua orang-orang di bumi yang menyukai hal-hal berbau klasik, termasuk buku. Apalagi kalau buku itu termasuk yang bikin ngawang. Wah, dijamin tambah seneng deh, KPK-nya negara sebelah!

Continue reading

Advertisements

Dunia Ini Bukanlah Sebuah Pasar Malam

Bukan Pasarmalam adalah salah satu karya awal Pram yang pertama kali terbit pada tahun 1951. Dalam sejarahnya, buku ini pernah diterbitkan oleh beberapa penerbit, salah satunya adalah Balai Pustaka. Larangan beredar pada tahun 1965 pun pernah menghiasi sejarah karya Pram yang satu ini. Karena ini adalah salah satu karya awal Pram, nuansa kritik sosial dan politik kurang terasa kental di dalamnya. Hal ini cukup bisa dimaklumi mengingat pada periode awal 1950-an itu Pram sedang berada di fase awal kedekatannya dengan Lekra dan baru berangkat menuju puncak ideologinya.Menurut saya, entah benar atau tidak, cerita buku ini didasari oleh salah satu babak kehidupan Pram sendiri. Buku ini sendiri diceritakan dari sudut pandang orang pertama yang menyebut dirinya sendiri “aku”, yang pulang menuju kampung halamannya di Blora untuk menjenguk ayahnya yang sedang sakit TBC. Pergolakan batin sempat dirasakan sang aku karena sebelumnya ia menuliskan surat bernada keras kepada ayahnya. Tapi, balasan surat dari ayahnya tanpa diduganya sangat bertolak belakang dengan surat yang ditulisnya. Begitu mendapat kabar bahwa ayahnya sakit, ia diliputi perasaan berdosa karena merasa bertanggung jawab atas keadaan yang menimpa ayahnya. Kemudian berangkatlah ia menuju Blora dan kisah yang dituturkan selanjutnya pun lebih banyak di seputaran tempat tersebut.

Continue reading

Rasionalisasi Kisah Ken Arok

 

“Mungkin kau lupa. Jatuhkan Tunggul Ametung seakan tidak karena tanganmu. Tangan orang lain harus melakukannya. Dan orang itu harus dihukum di depan umum berdasarkan bukti tak terbantahkan. Kau mengambil jarak secukupnya dari peristiwa itu.” ~ Pramoedya Ananta Toer, Arok Dedes

 

Sebagian besar dari kita pasti akan mengaitkan kisah Ken Arok dengan kutukan keris Empu Gandring, yang tentunya berbau mistis. Senjata itulah yang konon katanya digunakan Ken Arok untuk melakukan coup d’état terhadap Tunggul Ametung dan alat untuk mengkambing-hitamkan Kebo Ijo. Tragisnya justru keris itulah yang kemudian digunakan sebagai alat untuk membunuh Ken Arok.

Continue reading

Warisan yang Serba Nanggung

Ini adalah pertama kalinya saya membaca buku karya V. Lestari. Jujur saja, saya mungkin tidak akan membaca karya-karyanya jika tidak ada acara Bubarkan Serapium (Buku Dibaca Bareng Rekan-Rekan Serapium) bulan April. Karena tidak familiar dengan V. Lestari, saya tanya-tanya sesepuh-sesepuh di Serapium untuk mendapatkan rekomendasi judul yang oke. Setelah tanya sana-sini dan tidak menemukan rekomendasi judul yang memuaskan, akhirnya saya cari-cari sendiri di Goodreads. Dan akhirnya saya memilih judul ini, Warisan Masa Silam.

Saya sendiri tertarik dengan buku ini karena sinopsisnya yang “menantang” pikiran saya. Salah satu hal yang dibahas di buku ini adalah sebuah warisan keluarga (yang cukup bikin penasaran) ternyata merupakan sebuah bukti kejahatan dari masa silam. Tak hanya itu, ada lagi warisan berupa gen jahat yang satu paket dengan warisan tadi! Wah, wah, wah! Pikiran saya langsung berkelana membayangkan bahwa cerita buku ini akan berjalan seru. Bahkan juga langsung membayangkan pasti bakalan ada bahasan scientific tentang gen dalam buku ini. Tapi, begitu menyelesaikan buku ini, saya sukses dibikin ter-wow, wow, wow! Buku ini benar-benar merangsang otak saya! Sayangnya merangsang untuk mengirimkan impuls tertawa. No offense untuk fans V. Lestari.

Continue reading

Legal Thriller, Military, and IT

Madelyn Chapman, CEO perusahaan piranti lunak terkemuka, tewas dibunuh di rumahnya. Dari bukti-bukti yang ada, pelaku pembunuhan tersebut mengarah kepada Emiliano Ruiz, mantan pengawal pribadi Chapman. Apalagi Chapman dibunuh dengan cara double tap⎯dua tembakan di kepala, ciri khas anggota pasukan elite militer di mana Ruiz pernah tergabung. Situasi makin rumit ketika Ruiz terbukti pernah melakukan affair dengan Chapman dan diduga membunuh sang CEO karena alasan cinta.

Tapi, Ruiz ngotot menyangkal melakukan pembunuhan itu kepada pengacaranya, Paul Madriani. Bagaimanapun caranya, Ruiz ingin agar Madriani bisa membebaskannya. Tapi anehnya, Ruiz tidak menceritakan semua informasi yang diinginkan Madriani. Ruiz bungkam jika ditanya masa lalu dan sejarah karier militernya.
Continue reading

Hiburan Berkelas dari Sang Ahli Hukum

Ringkasan Cerita

Mark Sway tidak akan pernah menyangka bahwa perjalanannya ke hutan untuk mengajari merokok adiknya akan berbuntut panjang. Secara tidak sengaja ia dan adiknya, Ricky, menjadi saksi aksi bunuh diri seorang pengacara bernama Jerome “Romey” Clifford. Tidak hanya itu, Mark bahkan mendengarkan semua ocehan Romey menjelang kematiannya⎯di mana dalam ocehannya Romey sempat menyebutkan lokasi mayat senator AS yang dibunuh oleh Barry Muldanno⎯salah satu kliennya. Informasi itu menjadi sangat penting karena kasus pembunuhan sang senator menemui jalan buntu. Tanpa bukti mayat sang senator, jaksa tidak dapat menuntut Barry Muldanno lebih jauh. Sejak itulah Mark menjadi anak yang paling diburu di Memphis.

Situasi itu membuat Mark pada posisi yang serba salah. Ia dituntut untuk memberitahukan lokasi mayat sang senator oleh jaksa yang menangani kasus tersebut, Roy Foltrigg. Tapi, di sisi lain ia tidak bisa melakukan hal tersebut karena mengkhawatirkan keselamatan keluarganya. Apalagi setelah kejadian bunuh diri Romey adiknya mengalami shockberat dan harus dirawat di rumah sakit. Ditambah lagi dengan ibunya yang kehilangan pekerjaan dan rumahnya ludes dibakar mafia semakin memperberat bebannya. Karena tidak tahan dengan tekanan-tekanan yang dihadapinya, ia pun menyewa pengacara. Meskipun pada awalnya hanya iseng, tapi ia menemukan juga pengacara yang dirasanya cocok, yaitu Reggie Love. Apalagi pengacara ini tidak mata duitan, dengan uang muka satu dolar saja Reggie sudah resmi mewakili Mark.

Continue reading

Memoar Sang Maestro tentang Jalan Raya Pos

Selayang Pandang

Herman Willem Daendels. Dia adalah salah satu nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang paling saya ingat sejak bersekolah di bangku SD. Kenapa? Tentu saja karena prestasi dan warisannya yang sangat fenomenal, yaitu jalan raya sepanjang 1.000 km yang membentang dari Anyer sampai Panarukan. Apalagi jalan raya tersebut masih dapat kita telusuri saat ini dan secara tidak resmi dinamakan/dikenal sebagai Jalan Daendels. Tak heran jika Daendels adalah salah satu dari 71 Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang paling mudah “dikenang”.

Sayangnya tidak banyak literatur yang membahas detail pembangunan jalan raya yang sangat fenomenal itu. Bahkan mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa pembangunan jalan raya tersebut adalah salah satu bentuk genosida paling mengerikan dalam sejarah. Hal itulah yang menyebabkan Pram tergugah untuk menuliskan buku ini. Pram mencoba menjabarkan pada kita sisi kelam dari pembangunan jalan raya tersebut⎯di mana pembangunan tersebut menumpahkan begitu banyak keringat, air mata, dan darah para anak bangsa.

Continue reading

Sebuah Autobiografi tentang Cinta, Religi, dan Semangat Feminisme

Satu pertanyaan muncul di benak saya sebelum membaca novel ini: Apakah Jane Eyre hanya membahas masalah romantisme percintaan? Begitu saya menyelesaikan membaca novel ini, saya mendapatkan jawabannya: tidak! Novel ini justru jauh lebih kaya dari itu! Menurut saya novel ini berbicara tentang kehidupan jika dilihat dalam gambaran besarnya. Selain sisi romantisme percintaan, novel ini juga menyinggung arti sebuah perjuangan kehidupan dan sisi religius manusia. Semua itu membuat novel ini bukanlah sebuah novel romantis yang picisan, melainkan sebuah novel romantis yang elegan.

Ringkasan Cerita

Novel ini mengisahkan kehidupan Jane Eyre. Kisahnya dalam novel ini dimulai ketika dia berumur sepuluh tahun dan harus tinggal bersama keluarga bibinya karena kedua orangtuanya telah meninggal. Kehidupannya pada masa ini sangat berat. Dia sering mendapat perlakuan kejam dari bibi, sepupu, bahkan beberapa pelayan dalam rumah tangga tersebut. Karena tidak tahan dengan keadaan tersebut, dia “melarikan diri” dari keluarga tersebut dengan bersekolah di sebuah sekolah asrama bernama Lowood. Di lingkungan baru ini dia menemukan kehidupan baru. Meskipun sederhana, dia bahagia tinggal di lingkungan ini. Begitu lulus dari sekolah ini, dia pun sempat mengabdikan diri pada sekolah yang sama sebagai guru. Tapi, dia juga membutuhkan sebuah tantangan baru. Karenanya dia memutuskan keluar dari Lowood dan menerima sebuah pekerjaan sebagai guru pribadi di Thornfield Hall. Di sini kehidupannya kembali berubah. Apalagi dia juga bertemu dan jatuh cinta pada Mr. Rochester, sang pemilik Thornfield Hall sekaligus majikannya. Suatu hubungan yang aneh kemudian tumbuh di antara mereka⎯yang perjalanan hubungan itu sendiri juga aneh dan penuh rintangan.
Continue reading

Sherlock Holmes is Back!

Sherlock Holmes is back!
Ya, Sherlock Holmes kembali lagi. Dan permainan dimulai (lagi)….

Setelah untuk terakhir kalinya bertemu dengan petualangan-petualangan Sherlock Holmes dalam The Case-Book of Sherlock Holmes (Koleksi Kasus Sherlock Holmes), kali ini saya berjumpa kembali dengan salah satu detektif Inggris terhebat tersebut. Kali ini detektif yang terkenal dengan metode deduksinya tersebut hadir kembali dengan petualangan baru yang berjudul House of Silk (Rumah Sutra). Untuk petualangan Sherlock Holmes kali ini memang tidak ditulis oleh Sir Arthur Conan Doyle. Penulisnya adalah Anthony Horowitz—yang saya sendiri pun asing dengan nama ini. Tapi, buku ini digadang-gadang sebagai satu-satunya buku Sherlock Holmes non-Conan Doyle yang diakui oleh Conan Doyle Estate. Kalau Anda tidak percaya, coba perhatikan cap logo berbentuk bulat yang ada di kover depan buku ini. Ya, itu adalah cap logo Conan Doyle Estate yang (sepertinya) dipasang untuk menegaskan hal tersebut. Dan cap tersebut tidak hanya kita temui di kover edisi ini saja, tapi di hampir seluruh edisi yang ada di seluruh dunia. Karenanya buku ini begitu bombastis bagi saya.

Continue reading

Syafruddin Prawiranegara: “Presiden” yang Terlupakan

Presiden Prawiranegara? Benarkah ada nama Prawiranegara yang pernah menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia? Jika iya, mengapa namanya tidak ada dalam deretan nama-nama yang pernah menjabat sebagai orang nomor satu di RI tersebut?

Syafruddin Prawiranegara secara “normal” memang tidak pernah menjabat sebagai Presiden RI. Beliau mendapat sebutan Presiden Prawiranegara karena pernah menjabat pimpinan tertinggi PDRI. Menilik catatan sejarah, PDRI adalah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia yang terbentuk karena Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948. Serangan Belanda terhadap Yogyakarta yang saat itu merupakan ibu kota negara membuat tokoh-tokoh penting negeri ini tertangkap, di antaranya Soekarno dan Mohammad Hatta. Jatuhnya ibu kota negara dan tertangkapnya dua orang top di negeri ini otomatis membuat pemerintahan tidak berjalan dengan normal. Hal tersebut menyebabkan dibentuknya PDRI yang dipimpin oleh Syafruddin Prawiranegara dengan pusat pemerintahan berada di Sumatera Barat.

Continue reading