Review: The Ocean at the End of the Lane karya Neil Gaiman

Neil Gaiman kembali dengan salah satu dongeng terbarunya. Seperti layaknya dongeng, The Ocean at the End of the Lane mengisahkan petualangan seorang anak di dunia absurd. Dongeng-dongeng ciptaannya selalu tidak terkesan childish, sehingga orang dewasa dapat menikmatinya. Pun dalam kisah ini, di mana ide cerita yang sederhana diolahnya secara abstrak, absurd, dan dibaluti nuansa horor nan gelap yang akan mengusik imajinasi kita.

Dengan setting di sebuah pedesaan Sussex, Inggris, Neil Gaiman menceritakan kisah ini melalui tokoh Aku, sang narator dan tokoh utama cerita. Di sini Neil Gaiman kembali menjadikan seorang anak sebagai pusat cerita seperti yang pernah dilakukannya dalam Coraline dan The Graveyard Book. Persamaan lain ketiga cerita ini adalah ketiga tokoh utama cerita tersebut sama-sama menghadapi dunia yang absurd. Coraline menemukan dunia baru di balik tembok yang berisi duplikasi orang-orang di kehidupannya. Bod dalam The Graveyard Book dibesarkan di pemakaman oleh hantu-hantu pemakaman tersebut. Lalu sang narator dalam kisah ini mengalami hal-hal aneh dan absurd dalam kehidupannya setelah ulang tahunnya yang ketujuh.

Continue reading

Advertisements

‘Horor’ itu Bernama Kehidupan

Nobody Owens⎯panggilannya Bod⎯adalah anak biasa, benar-benar biasa, seandainya dia tidak tinggal di kompleks pemakaman, dibesarkan oleh hantu-hantu, dengan wali yang tidak berasal dari dunia orang hidup maupun orang mati. Banyak petualangan di pemakaman itu, dan kalau Bod pergi ke dunia luar, dia terancam bahaya dari pria bernama Jack⎯yang telah membunuh seluruh keluarga Bod.

 

Tidak salah memang jika The Daily Express menyebutkan bahwa kekuatan terbesar Neil Gaiman adalah kemampuannya yang luar biasa untuk mengingatkan pembaca bagaimana rasanya menjadi anak kecil. Di buku ini saya merasakan bagaimana menikmati sensasi tersebut. Adalah Nobody Owens⎯biasa dipanggil Bod⎯yang membuat saya kembali merasakan kilas balik ke masa bertahun-tahun yang lalu. Masa di mana saya merasakan masa kecil dan segala hal yang berhubungan dengan bagaimana rasanya menjadi anak kecil.

Membaca buku ini mampu membawa saya ke dalam tiga tahapan yang berbeda. Tahapan-tahapan ini adalah bagaimana Gaiman menggiring cerita dan mengenalkan karakter Bod kepada kita lewat delapan bab buku ini. Jika diukur dalam bentuk kurva, tahapan-tahapan ini terasa menanjak karena karakter Bod berkembang di setiap bab yang otomatis membuat cerita buku ini semakin berkembang.

Continue reading