Review: Inferno karya Dan Brown

Bencana overpopulasi dan isu depopulasi massal masih menjadi hal yang cukup asing bagi sebagian orang. Kebanyakan orang akan memberi empati dan simpatinya pada tragedi-tragedi seperti perang dan bencana alam dibanding overpopulasi. Hal yang wajar. Saat ini kita memang belum terlalu merasakan dampak overpopulasi. Jika populasi menjadi semakin tak terkendali, dampak paling mengerikannya adalah menjadikan manusia kehilangan entitasnya sebagai manusia. Chaos akan ada di mana-mana. Kita akan saling caplok terhadap sesama kita untuk bertahan hidup. Hal ini tentu saja menjadi perhatian beberapa pihak yang menyadarinya. Berbagai upaya mulai ditempuh untuk mengendalikan populasi dunia. Dan isu paling mengerikan untuk mencapai tujuan tersebut adalah depopulasi massal.

Beberapa review yang saya baca tentang buku ini menyebut overpopulasi dan depopulasi massal sebagai topik utama. Saya pun mengamini hal tersebut. Populasi yang tak terkendali memang menjadi masalah utama dunia. Bahkan majalah National Geographic membahas hal ini secara khusus di edisi-edisinya sepanjang tahun 2011 silam. Berbagai dampak negatif overpopulasi pun sudah mulai kita rasakan. Buku ini sendiri memberikan beberapa contoh dampak-dampak tersebut: kebutuhan air bersih, suhu permukaan global, penipisan ozon, konsumsi sumber daya lautan, kepunahan spesies, konsentrasi CO2, penggundulan hutan, dan kenaikan permukaan laut global (h. 196).

 

Grafik yang Menggambarkan Tajamnya Peningkatan Populasi Dunia dalam Beberapa Ratus Tahun Terakhir
Sumber: fte.org

 

Continue reading

Advertisements

Le Death c’est Mon Ami

Temperance Brennan, seorang ahli antropologi forensik, diminta mengidentifikasi jenazah seorang biarawati yang telah meninggal lebih dari satu abad. Tugas yang dibebankan kepadanya oleh keuskupan di Montreal ini tampaknya sebuah tugas yang sederhana dan menarik.

Tugas tersebut ternyata memiliki titik singgung dengan tugas berikutnya yang menyeretnya ke dalam petualangan yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidupnya. Peristiwa demi peristiwa yang muncul silih berganti membawanya ke dalam jalinan misteri yang mengerikan dan sejumlah pembunuhan yang kekejamannya jauh melebihi batas-batas akal sehat manusia.

Semuanya diawali oleh usaha pengidentifikasian tulang-belulang sejumlah korban pembunuhan di sebuah rumah yang terbakar hebat di tengah bekunya cuaca di Quebec, Kanada. Salah satu korban adalah seorang nenek berusia 80-an tahun yang tewas ditembak, serta sepasang pria dan wanita serta dua bayi yang dibantai dengan cara yang membuat bulu kuduk merinding. Satu sosok lagi ditemukan dalam kondisi yang lebih mengenaskan. Selain itu, dua mayat wanita ditemukan pula di sebuah pulau surga bagi primata di North Carolina, dengan kondisi yang sama.

Continue reading

Sherlock Holmes is Back!

Sherlock Holmes is back!
Ya, Sherlock Holmes kembali lagi. Dan permainan dimulai (lagi)….

Setelah untuk terakhir kalinya bertemu dengan petualangan-petualangan Sherlock Holmes dalam The Case-Book of Sherlock Holmes (Koleksi Kasus Sherlock Holmes), kali ini saya berjumpa kembali dengan salah satu detektif Inggris terhebat tersebut. Kali ini detektif yang terkenal dengan metode deduksinya tersebut hadir kembali dengan petualangan baru yang berjudul House of Silk (Rumah Sutra). Untuk petualangan Sherlock Holmes kali ini memang tidak ditulis oleh Sir Arthur Conan Doyle. Penulisnya adalah Anthony Horowitz—yang saya sendiri pun asing dengan nama ini. Tapi, buku ini digadang-gadang sebagai satu-satunya buku Sherlock Holmes non-Conan Doyle yang diakui oleh Conan Doyle Estate. Kalau Anda tidak percaya, coba perhatikan cap logo berbentuk bulat yang ada di kover depan buku ini. Ya, itu adalah cap logo Conan Doyle Estate yang (sepertinya) dipasang untuk menegaskan hal tersebut. Dan cap tersebut tidak hanya kita temui di kover edisi ini saja, tapi di hampir seluruh edisi yang ada di seluruh dunia. Karenanya buku ini begitu bombastis bagi saya.

Continue reading